Powered by Blogger.

Images Credit: Hunan TV

Sinopsis Rush to the Dead Summer Episode 2


Li Xia pulang sekolah bersama Qing Qing. Mendengar Li Xia mengalami hal buruk di hari pertamanya sekolah, Qi Qi berusaha menyemangati dan menghiburnya. Dia lalu tanya apakah Li Xia mau mendaftar di salah satu club sekolah. Sekolah ini punya banyak club loh.

Li Xia tidak tertarik, soalnya Bu Wen Ren bilang kalau mereka akan ada kuis setiap minggu dan ujian tiap dua minggu, jadi Li Xia tidak akan ada waktu untuk mengikuti ekstrakurikuler.


Tapi saat mereka melewati papan pengumuman, mereka melihat ada poster pendaftaran studio seni. Qi Qi langsung menyemangati Li Xia untuk ikut club seni itu. Li Xia kan suka menggambar, Jangan menyerah jika dia menyukainya.

Li Xia tampak mulai goyah melihat poster perekrutan itu. Apalagi saat dia membaca tulisan poster itu: Jika kau memiliki impian untuk menggambar dunia di bawah ujung pensilmu...

 

Malam harinya, Li Xia antusias membuka sebuah buku lukisan karya seorang pelukis bernama Ji Si. Salah satu lukisan yang paling Li Xia sukai adalah gambar seorang pria yang tampak kesepian berjudul Godless Past.

"Kapan aku bisa menggambar lukisan sehebat ini?" Gumam Li Xia. Di samping gambar lukisan itu, ada kalimat yang mengatakan: Satu-satunya yang mampu mengarahkan hidupmu bukan Tuhan, melainkan kata hatimu sendiri. Li Xia jadi semakin galau, apakah menyerah terhadap menggambar itu keputusan yang salah.

 

Tapi dia tak sempat memikirkannya lebih jauh karena Chen Wen Jing menegurnya. Li Xia sedang apa sih sampai tidak mendengar panggilannya. Li Xia mengaku sedang melihat-lihat lukisan seorang pelukis yang sudah disukainya sejak dia masih SMP kelas 2.

Satu per satu, mereka mulai memperkenalkan diri mereka dengan antusias keculi Ren Xiao Fei yang tampak kurang bersemangat. Dia mengaku kalau dia hanya agak merindukan rumahnya.


Wen Jing mengerti perasaannya, Xiao Fei pasti baru pertama kali sekolah asrama. Dulu dia juga seperti Xiao Fei, tapi dia punya cara terbaik untuk mengatasinya. Dia langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dengan antusias dan jeng-jeng-jeng... foto-foto artis ganteng.

"Aku bermimpi jadi pacarnya para cowok tampan ini. Muach... muach!"

Melihat banyaknya komik di tas mejanya Xiao Fei, Li Xia berkomentar kalau Xiao Fei pasti sangat menyukai anime. Xiao Fei membenarkannya dan mengaku kalau dia ingin membuat animasi seperti idolanya, Hayao Miyazaki.


Song Ying Ying membuka kopernya yang ternyata berisi penuh dengan snack. Dia bahkan tampak begitu bangga dengan hobi makannya itu tapi tujuan hidupnya adalah pengen jadi kurus sebelum lulus (Eh, tapi perasaan dia nggak gemuk deh).


Saat Li Xia ditanya apa yang ingin dia lakukan dalam kurun waktu 3 tahun masa SMA mereka, Li Xia memikirkannya sesaat sebelum kemudian berkata kalau dia ingin menggambar lagi. "Aku ingin menggambar seluruh dunia di bawah ujung pensilku."

Song Ying Ying kagum mendengar ambisi mereka semua, dia sendiri cuma ingin makan sekardus es krim sekarang. Dia bahkan langsung melesat keluar mencari es krim saat itu juga.

"Hei! Bagaimana dengan dietmu?"

"Nanti setelah makan es krim. Aku janji!"

 

Tapi tengah malam, saat semua lampu asrama sudah mati, tiba-tiba terdengar suara rengekan yang sangat keras dari kamar asramanya Li Xia. Ternyata ketiga sekamar Li Xia sedang sakit perut gara-gara kebanyakan makan es krim padahal mereka sedang datang bulan.

Terpaksalah Li Xia yang harus mengurus mereka semua dan membuatkan obat herbal lalu buru-buur mematikan lampu karena petugas asrama sudah menegur mereka untuk mematikan lampu.

Jadilah mereka bertiga terus-menerus merengek sepanjang malam dan mengganggu para penghuni asrama mulai lantai bawah sampai lantai atas. Dalam narasinya, Li Xia bercerita bahwa asrama mereka jadi terkenal gara-gara keributan itu.


Xiao Si dan Zhi Ang yang tidak tinggal di asrama, duduk bersama di taman sambil menikmati cola. Saat Xiao Si menuntut lukisan 5 patung pahatan, Zhi Ang pede memberikannya. Xiao Si kagum juga dengan hasil gambarnya Zhi Ang.

Tapi saat dia membuka halaman kedua dan seterusnya, Zhi Ang malah langsung geser menjauh... soalnya gambar kedua dan seterusnya malah gambar ayam, Sun Go Kong, dll. Hahaha. Xiao Si jelas langsung melotot kesal, apaan semua gambar ini.

"Baiklah. Akan kucicil sisa 4 gambar berikutnya."

Xiao Si mendadak punya ide. Sebagai ganti ke-4 gambar itu, Zhi Ang harus mentraktirnya 10 kaleng cola untuk tiap-tiap gambar.

"Apa kau maling?" Gerutu Zhi Ang.

"Siapa suruh menggambar gambar nggak jelas."

"Sejujurnya. Aku sangat menantikan kehidupan masa SMA-ku yang akan datang ini."


Keesokan harinya saat olahraga pagi, Li Xia memintakan izin untuk ketiga temannya yang masih sakit perut. Zhi Ang dan Xiao Si baru datang saat itu dan Zhi Ang langsung ikutan begitu melihat Li Xia di sana dan menyinggung insiden semalam yang katanya membuat Li Xia sukses jadi sensasi. Li Xia sontak malu mendengarnya.


Xiao Si males banget melihatnya dan langsung pergi. Zhi Ang menyusulnya dan menanyakan apa pendapat Xiao Si tentang Li Xia. Kalau menurutnya sendiri, Li Xia itu cute. Tapi Xiao Si cuek bebek, malah pura-pura nggak kenal siapa itu Li Xia.


Li Xia akhirnya memutuskan datang ke studio seni. Murid-murid sudah mulai menggambar sebuah patung pahatan dan Li Xia diam-diam mengambil tempat paling belakang lalu mulai menggambar sketsanya. Suasana studio benar-benar hening, semua orang fokus pada pekerjaan masing-masing

Tapi tiba-tiba pensilnya terjatuh. Saat dia membungkuk untuk mengambilnya, dia malah tak sengaja menyenggol papan lukisannya hingga terjatuh berkelontangan. Dan gara-gara itu, pria yang duduk di depannya Li Xia menoleh padanya dan ternyata dia Xiao Si.

Li Xia bercerita pada dalam kelas pertama, biasanya orang-orang tidak berinisiatif untuk mengenal teman sekelas mereka yang duduk agak berjauhan dari mereka. "Namun, hanya dengan  berjarak satu mereka, kau duduk di depanku dan aku duduk di belakangmu. Kita tertutup dalam lingkaran yang tidak biasa. Suka atau tidak. Dalam tahun-tahun masa muda kita, kau ada di depanku dan aku di belakang."

Canggung dengan tatapan tajam Xiao Si, Li Xia langsung mengalihkan pandangannya dan meminta maaf dan tanya apakah Xiao Si baik-baik saja. Tapi Xiao Si malah dengan dinginnya menyuruh Li Xia diam, berisik itu nyebelin.


Sekilas, Li Xia melihat hasil gambarnya Xiao Si dan langsung kagum. Tapi dia cepat-cepat kembali melanjutkan gambarnya kembali.


Zhi Ang tiba-tiba duduk di sampingnya dan mengagetkannya. Li Xia sontak menyembunyikan lukisannya. Tapi itu malah membuat Zhi Ang semakin penasaran pengen lihat hasil gambarnya Li Xia.

Dia mencoba menunjukkan hasil gambarnya sendiri yang bagus banget. Tapi Li Xia tetap menolak memperlihatkan miliknya. Jadilah mereka berisik sendiri sampai membuat Xiao Si terganggu dan Pak Guru langsung berdehem menegur mereka.

Zhi Ang masih getol pengen lihat bahkan setelah kelas usai. Li Xia juga tetap ngotot menolak dan langsung berlalu pergi dengan kesal. Xiao Si heran, sejak kapan Zhi Ang tertarik menggambar. Zhi Ang mengklaim kalau dia selalu tertarik, dia bahkan tipe orang yang mengejar seni.


Kembali ke kamar asramanya, Li Xia menulis di buku diary-nya dan curhat pada Ji Si tentang si Raja Muka Batu. Dia tidak menyangka kalau Raja Muka Batu itu pintar menggambar. Jika dibandingkan, gambarnya sama sekali tidak sebanding dengan gambarnya si Raja Muka Batu.

Teringat ketampanan Xiao Si, kehebatan teknik menggambarnya tapi juga sikapnya yang sangat dingin, Li Xia menduga kalau Tuhan mungkin bias saat menciptakan manusia.

"Kenapa bisa ada orang aneh seperti itu. Orang-orang yang hebat dalam segala hal. Mereka bahkan bisa bersinar tanpa perlu berusaha."


Keesokan harinya, Li Xia, Wen Jing dan Xiao Fei susah payah membantu menutupkan reseting baju olahraganya Ying Ying padahal itu sudah ukuran yang paling besar (Eh, beneran deh aku ngerti. Ying Ying gemuk dari mana? Wkwkwk!)

Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya resletingnya tertutup juga... sebelum kemudian robek. Hahaha. Ying Ying menyerah, mending dia tidak ikut main tenis deh. Lagian di saat seperti ini, biasanya para cowok jadi jelalatan melihat para cewek pake rok tenis.


Di ruang ganti cowok, Zhi Ang dengan antusias memamerkan otot lengannya pada Xiao Si. Dia sampai lebai pura-pura buta karena silau oleh ketampanannya sendiri. Xiao Si langsung berdecih sinis, kekanak-kanakan sekali.

"Kau itu nggak asyik," gerutu Zhi Ang. Xiao Si langsung balas dendam menjegal Zhi Ang sampai dia tersungkur ke lantai. Pun begitu, Zhi Ang cuma kesal sebentar dan persahabatan mereka tetap baik.


Baru saja mereka berdua tiba di lapangan tenis, 4 orang senior langsung cari perkara dengan mereka berdua dan menantang mereka main tenis. Para siswa yang lain langsung cemas mengingat para senior itu pemain tenis pro.

Sementara semua orang cuma bisa bergosip, Li Xia lebih berani mengkritiki para senior itu. Tapi para senior itu dengan santainya menyuruh Li Xia ikutan bertanding saja kalau begitu.

Xiao Si menyela dan menyuruh para senior untuk memilih dua orang yang terbaik diantara mereka. Para senior menyuruh mereka untuk mengakui mereka sebagai bos jika Xiao Si dan Zhi Ang kalah.

"Lalu bagaimana jika kalian yang kalah?" Tanya Xiao Si.

"Kami akan makan kotoran," kata salah satu senior.


Pertandingan pun dimulai dan tim senior sukses mencetak angka duluan. Tapi Xiao Si dan Zhi Ang berhasil menyusul. Permainan terus berlangsung dengan begitu sengitnya dan kedua tim sama-sama kuat mencetak angka... hingga akhirnya, Xiao Si dan Zhi Ang sukses memenangkan permainan ini, dan para senior langsung ngabur. wkwkwk.

 

Setelah kelas tenis usai, Zhi Ang lagi-lagi menanyakan pendapat Xiao Si tentang Li Xia. Dia lumayan, kan. Dan kali ini Xiao Si akhirnya punya pendapat tentang Li Xia. Menurutnya Li Xia itu lumayan, dia nggak berisik, jadi bisa dibilang dia nggak nyebelin.


Di kelas, Bu Wen Ren mengumumkan kabar buruk dan kabar baik sekaligus. Kabar buruknya, mereka akan punya kelas tambahan hari minggu. Para siswa sontak mengeluh. Tapi kabar baiknya, besok mereka bebas. Para siswa langsung berhenti mewek dan ganti bersorak.

Ia lalu membagikan hasil ujian Bahasa Inggris mereka. Li Xia berhasil mendapat angka 96, jauh lebih tinggi dari pada teman-temannya. Tapi kemudian Bu Wen Ren mengumumkan ada dua orang yang berhasil mendapat nilai sempurna.

Siapa lagi kalau bukan Xiao Si dan Zhi Ang. Yang lain langsung melenguh saking kagumnya, tapi Xiao Si santai saja seolah itu sudah biasa.


Keesokan harinya, Li Xia dan Qing Qing jalan-jalan lalu masuk ke toko CD. Qing Qing yang nge-fans Eason Chan, langsung memborong semua CD lagunya Eason Chan bahkan berusaha membujuk pemilik toko untuk menjual poster Eason Chan padanya, dia bersedia bayar mahal. Tapi Pemilik Toko menolak keras soalnya itu poster limited edition.

Bertekad memiliki poster itu, kedua gadis itu malah nekat mencoba mencuri poster itu saat pemilik toko ketiduran. Tapi di tengah aksi mereka, Pemilik Toko bangun. Panik, mereka bergegas mencabut poster itu lalu kabur padahal poster yang mereka ambil robek separuh.


Mereka lalu makan siang di KFC sambil ngobrolin kehidupan mereka di kelas masing-masing. Qi Qi bercerita kalau teman-teman sekelasnya keren-keren, kecuali satu cewek bermarga Li yang sombongnya minta ampun.


Setibanya kembali di gerbang sekolah, tiba-tiba sebuah mobil melaju sangat kencang ke arah Lu Xia. Untunglah supir mobil itu segera mengerem mobilnya, tapi tetap saja Li Xia jadi terjatuh karenanya hingga kakinya keseleo dan berdarah.

Bukannya minta maaf, si supir malah ngamuk-ngamuk menyalahkan Li Xia. Tidak terima, Qing Qing langsung memotreti mobil itu dan si supir dan menggunakannya untuk mengancam si supir. Majikan supir itu keluar tak lama kemudian dan dia adalah Li Yan Ran, gadis sombong yang dibicarakan Qi Qi tadi. Dia memang sengaja menyuruh supirnya ngebut soalnya dia mau menjemput Xiao Si.

Awalnya, dia tampak baik dan meminta maaf atas kesalahan supirnya. Tapi kemudian dia menawarkan uang kompensasi biar masalah ini cepat selesai. Qing Qing jelas tidak terima, Li Xia harus segera dibawa ke klinik sekarang.


Tepat saat itu juga, Zhi Ang dan Xiao Si kebetulan lewat lalu membantu Li Xia bangkit. Tapi melihat kondisi Li Xia yang sepertinya tidak akan bisa jalan, Xiao Si langsung sigap membopong Li Xia dan melarikannya ke klinik. Li Xia sampai tercengang dibuatnya.


Di klinik, Xiao Si bahkan menawarkan tangannya untuk Li Xia pegang kalau-kalau dia kesakitan. Li Xia menolak. Tapi saat dokter mulai mengoleskan disinfektan, dia refleks mencengkeram tangan Xiao Si sekuat tenaga sampai Xiao Si kesakitan. Hahaha!


Yang lain menunggu di luar. Tapi Yan Ran tak tahan lagi menunggu dan berniat mau masuk. Tapi Zhi Ang langsung menahannya. Dia tetap nekat memanggail-manggil Xiao Si untuk keluar soalnya pesta ultahnya mau dimulai sebentar lagi.

Dia bahkan menggerutu kesal menyalahkan Li Xia sebagai penyebab Xiao Si jadi tertahan menghadiri pesta ultahnya. Qi Qi jelas tidak terima sahabatnya disalah-salahkan, jelas-jelas Yan Ran sendiri yang salah.

"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Li Xia, aku tidak akan membiarkanmu. Kau pikir kau seorang yang bisa berulang tahun? Kenapa tidak sekalian saja kau merayakan ulang tahun 5 kali dalam setahun? Dan asal kau tahu, ini jalan masuk ke klinik. Jadi kau tidak boleh berisik?"

Geli mendengarkan dampratan Qi Qi, Zhi Ang langsung mengajaknya high five.


Li Xia dan Xiao Si saling berdiam diri dengan canggung setelah lukanya Li Xia diperban dan dokter meninggalkan mereka berduaan. Tapi kemudian Xiao Si melihat buku gambar di tasnya Li Xia dan di dalamnya, dia melihat Li Xia mencoba menirukan lukisannya Ji Si.

"Kau suka Ji Si?"

"Kau tahu Ji Si? Dia idolaku."

Xiao Si tidak menjawabnya malah mengejek hasil gambarnya Li Xia. Entah bagaimana, Yan Ran akhirnya berhasil menerobos masuk ke sana, memperkenalkan dirinya sebagai pacarnya Xiao Si lalu menyeret Xiao Si pergi dari sana.


Sejak itu, Li Xia sengaja menjauhi Xiao Si. Saat Xiao Si menowelnya dari belakang untuk memberikan obat, Li Xia sama sekali tak menoleh, malah sengaja memajukan kursinya.

Suatu hari, Bu Wen Ren mengumumkan bahwa sekolah mereka akan mengadakan festival seni. Xiao Si dan Zhi Ang sudah pasti terpilih untuk mewakili kelas mereka.

Tapi Bu Wen Ren juga menginginkan satu orang lagi untuk berpartisipasi, kali ini dia ingin cewek yang ikut dan meminta Xiao Si untuk memilih siapa menurutnya yang paling cocok diantara para siswi untuk berpartisipasi dalam acara ini.

"Bagaimana kalau... Li Xia?" Usul Xiao Si.

Bersambung ke episode 3

5 comments

Unni seru bangett!!!! Di tnggu next episodeny... GomaWo

Semangat!! Ditunggu sinopsis berikutnya.. Sudah lama menantikan drama ini.. Love zheng shuang😊

Akhirnya penantian berakhir. Xie xie ni
Suka banget sama Zheng Shuang apalagi setelah Love O2O jadi makin suka. Tapi kok dilihat sekilas Zheng shuang mirip sama Kim ji Won as Choi Ae Ra (Fight For My Way) mungkin karena poninya kali ya. But, tetap manis kok. Next episode... Jia you mba Ima!

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon