Powered by Blogger.

Images Credit: Hunan TV

Sinopsis Rush to the Dead Summer Episode 3


Para siswi langsung antuasis saat Bu Wen Ren meminta Xiao Si untuk memilih satu cewek untuk berpartisipasi dalam festival seni sekolah mereka, berharap Xiao Si akan memilih mereka. Tapi Xiao Si malah memilih Li Xia dan Bu Wen Ren mempercayai pilihannya.

Teman-teman sekamar Li Xia senang, tapi yang lain kecewa. Bahkan setelah kelas usai, Li Xia malah mendengar dua orang siswi menggosipkannya dan meragukan kemampuannya. Tapi begitu mereka melihat Xiao Si berdiri di belakangnya Li Xia, mereka langsung diam dan kabur.

Li Xia pun langsung memprotes pilihan Xiao Si. Lagipula dia tidak punya cukup kualifikasi untuk mengikuti acara itu. Dia tidak seperti Xiao Si yang pintar dalam segala hal. Bukannya memberi semangat, Xiao Si malah dengan dinginnya berkata kalau dia akan bilang ke guru kalau Li Xia menolak.

Tapi kemudian dia memberitahu Li Xia bahwa walaupun gambarnya Li Xia tidak ada bagus-bagusnya, tapi jika dia rajin berlatih maka kemampuannya bisa membaik. "Di dunia ini, tidak ada yang namanya jenius, yang ada hanya orang malas dan bodoh."


Maka malam harinya, Li Xia nekat pergi ke studio seni tanpa mempedulikan peringatan Qi Qi tentang studio seni yang katanya angker saat malam. Saat menyusuri lorong, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang aneh dari belakang. Tapi ternyata cuma kucing yang lewat.

Saat hendak membuka pintu studio seni, dia malah mendapati Xiao Si ada di dalam, sedang giat berlatih menggambar. Saking tercengangnya, dia tak sengaja menjatuhkan tabung gambarnya dan membuat pintu terbuka. Li Xia cuma bisa berdiri canggung di sana, sampai akhirnya Xiao Si menyuruhnya masuk. Li Xia pun duduk di samping Xiao Si dan mulai menata kertasnya.


Pulang sekolah keesokan harinya, Li Xia didatangi Qi Qi yang pakai baju modis dan memberitahunya kalau dia akan menyanyi di festival seni nanti. Masalahnya, kompetisi menyanyi cuma tersedia untuk 3 kontestan. Hari ini, dia bertekad mau mengalahkan saingannya yang paling menyebalkan.

Li Xia langsung mengerti kalau orang dimaksudnya adalah Li Yan Ran. Anak itu nyebelin banget, sudah mendaftarkan diri untuk kontes tari tapi masih berusaha menyainginya di kontes menyanyi.


Tapi percakapan mereka tak sempat berlanjut karena speaker tiba-tiba berbunyi dan memerintahkan Li Xia untuk datang ke kantor dekan. Pengumuman itu juga didengar oleh Xiao Si dan Zhi Ang, tapi hanya Zhi Ang yang tampak khawatir sementara Xiao Si santai ngeloyor pergi.


Setibanya di sana, Li Xia mendapati Yan Ran duduk bersama Ayahnya. Pak Dekan berkata kalau Ayah Yan Ran datang untuk mengecek lukanya Li Xia lalu memuji-muji Ayah Yan Ran setinggi langit.

Awalnya, Ayah Yan Ran tampak baik dan menyatakan kalau mereka sungguh menyesali kejadian itu. Tapi ternyata dia sama saja seperti putrinya, melemparkan seamplop uang sebagai kompensasi untuk Li Xia.

Li Xia menolak tapi si supir dengan angkuhnya menyuruh Li Xia menerimanya dan Pak Dekan juga terus berusaha membujuk Li Xia untuk menerimanya. Parahnya lagi, Ayah Yan Ran sampai menyinggung-nyinggung keadaan finansial keluarganya Li Xia yang hanya dibesarkan oleh seorang ibu tunggal. Dan semua itu mereka ketahui setelah melihat biodatanya Li Xia.

Jelas saja semua itu membuat Li Xia semakin merasa terhina. Tapi dia berusaha untuk tetap sopan menolak uang itu. Walaupun keadaan ekonomi keluarganya sulit, tapi tidak seburuk itu sampai harus menerima bantuan orang lain. Lebih baik dia berikan saja uang untuk pada supirnya, sepertinya dia butuh biaya untuk belajar tata krama. Pfft!


Dia langsung pamit pergi dan mendorong Zhi Ang yang sepertinya menguping sedari tadi. Setelah Li Xia pergi, Zhi Ang sempat mendengarkan Ayah Yan Ran menyuap Pak Dekan untuk menjadikan Yan Ran sebagai murid teladan.


Zhi Ang langsung pergi mengejar Li Xia dan mendapatinya bersedih di kelas. Dia langsung memakaikan topinya ke kepala Li Xia untuk menarik perhatiannya, lalu menggambar dua wajah emoticon dengan memakai cairan kopi untuk menghibur Li Xia.

"Lihatlah. Orang kelihatan sangat berbeda saat sedih dan bahagia." Ujarnya sambil menunjukkan gambar emoticon sedih, tapi saat dibalik berubah jadi emoticon bahagia. Dan usahanya sukses membuat Li Xia tersenyum kembali.

Zhi Ang pun senang, "Kau kelihatan lebih baik saat sedang senyum. Ayo senyum lagi. Senyum!"


Kemarin malam saat Xiao Si melihat hasil gambarr Li Xia, dia lagi-lagi mengomentari gambarnya Li Xia jelek. Dia langsung mengambil alih untuk memperbaikinya lalu menyuruh Li Xia untuk datang ke studio seni hari rabu, dia akan mengajari Li Xia menggambar.


Sekarang, Xiao Si sudah menunggu dengan antusias di studio dengan sekaleng cola dingin yang mungkin mau dia berikan ke Li Xia, tapi Li Xia malah tak kunjung datang. Dia sama sekali tak tahu kalau Li Xia lupa dengan janji mereka gara-gara kejadian di kantor dekan tadi.

 

Zhi Ang lalu membawa Li Xia ke padang rumput dekat sekolah. Dia mengaku kalau ini adalah tempat nongkrongnya bersama Xiao Si. Kalau mereka bolos, biasanya mereka akan datang kemari untuk melukis pepohonan, langit, atau orang-orang yang lewat.

"Terima kasih." Ucap Li Xia. "Terima kasih karena kau sangat pengertian padaku dan menghiburku."

"Apa karena Li Yan Ran? Aku juga sebenarnya tak terlalu menyukainya."

Loh, bukankah dia pacarnya Xiao Si. Bukankah seharusnya mereka dekat. Zhi Ang menyangkal. Dia dan Yan Ran adalah dua orang yang sangat berbeda. Dia mengaku kalau dia dan Xiao Si sudah berteman dekat sejak kecil dan mereka bertemu Yan Ran kemudian berkat ibu-ibu mereka.


Berbeda dengannya, Xiao Si memperlakukan Yan Ran dengan lebih baik. Mereka sebenarnya tidak bisa dibilang pacar, hanya saja Xiao Si bisa bicara lebih banyak dengan Yan Ran. Tahu sendirilah, Xiao Si orang yang jarang bicara. Jadi kalau dia bicara pada Yan Ran, itu artinya mereka bisa bergaul dengan baik.

"Tapi aku tidak terlalu menyukainya. Dia punya aura unggul diri yang biasanya dimiliki orang-orang kaya."

"Kau mengkritiknya? Bukankah kau juga sama?"
 
Zhi Ang ngotot menyangkalnya. Dia lalu bercerita tentang seorang sepupunya yang sangat menyukai seni, tapi dia berasal dari keluarga kurang mampu sehingga dia tidak punya uang untuk menggambar ataupun membeli buku.

Tapi setiap hari dia selalu berlatih menggambar dengan menggunakan kuas paling jelek dan pergi ke toko buku untuk menghafal buku-buku di sana sampai saat pemilik toko mengusirnya. Walaupun dia seniman terhebat di kelasnya, tapi dia selalu diomeli guru karena tak pernah punya cukup peralatan untuk menggambar.

Dia juga sering diejek teman-teman sekelasnya, tapi dia tidak pernah menjelaskan apapun ataupun membela dirinya. Dia hanya ingin mengandalkan kerja kerasnya untuk mengatasi semua kesulitannya. Menurutnya, Li Xia sangat mirip dengan sepupunya itu.

 
"Dunia ini tidak adil. Tapi untuk seseorang sepertimu yang punya pikiran dan pendirian sendiri, ketidakadilan ini bisa jadi hal yang baik. Ini akan membuatmu berusaha lebih keras. Li Xia, aku sungguh... aku sungguh kagum padamu. Karena itulah, aku akan melindungimu sama seperti aku melindungi sepupuku. Kalau ada aku, takkan ada yang bisa membulimu."


Li Xia geli mendengarnya. Tapi Zhi Ang malah cemas melihat ekspresi Li Xia dan mencoba menyemangati Li Xia untuk tidak memendam emosinya, lampiaskan saja semuanya, dia akan merasa lebih baik setelah itu. Tapi Li Xia terus bersikeras kalau dia sungguh baik-baik saja.

"Saat aku mengingat kembali kesan paling menyenangkan di masa mudaku, itu adalah pembicaraan dari hati ke hati." Terdengar narasi Zhi Ang di masa depan yang mengingat masa mudanya.

Dia mengaku kalau dia takut melihat tangisan wanita. Tapi saat dia melihat Li Xia yang begitu kuat, hatinya terasa sakit. "Kuharap, dia akan menangis hanya di depanku saja."


Xiao Si terus menanti tapi bahkan sampai kaleng colanya sudah tidak dingin lagi, Li Xia masih juga belum datang. Seseorang akhirnya muncul tak lama kemudian, tapi dia bukan Li Xia melainkan guru seni. Kecewa, Xiao Si pun pergi.


Li Xia dan Zhi Ang hendak berpisah. Tapi Zhi Ang tiba-tiba punya ide bagus lainnya untuk meredakan stres. Dia langsung mendorong Li Xia naik ke sepedanya lalu melaju dengan kecepatan tinggi sambil berteriak-teriak sekencang-kencangnya dan menyemangati Li Xia ikut berteriak juga.

Li Xia tidak mau. Tapi kemudian roknya berkibar dan saat itulah Li Xia langsung menjerit sekencang-kencangnya dan akhirnya dia bisa tersenyum lebar.


Xiao Si berjalan lesu melewati lapangan basket saat tiba-tiba saja dia melihat Li Xia tengah berboncengan dengan Zhi Ang. Pemandangan itu sontak membuatnya kesal sampai-sampai dia mencengkeram erat kaleng colanya.

Yan Ran muncul saat itu untuk menawarinya tumpangan pulang. Xiao Si menerima tawarannya, bahkan memberikan kaleng colanya ke Yan Ran.


Teman-teman sekamar Li Xia heboh saat melihat Li Xia diantarkan pulang oleh Zhi Ang. Mereka langsung menginterogasi Li Xia begitu dia masuk, tapi Li Xia sedang tidak mood meladeni mereka.


Yan Ran makan malam bersama Xiao Si dan ibunya. Ibu Xiao Si tampak jelas menyukai Yan Ran, apalagi Yan Ran cukup pintar mengambil hati ibu. Dia bahkan meminta Ibu untuk mengajarinya memasak.

Ibu tambah senang mendengarnya, kalau Yan Ran belajar masak sekarang maka dia takkan perlu cemas saat mereka melanjutkan studi keluar negeri nanti. Xiao Si tampak tak senang mendengarnya, tapi dia diam saja dan buru-buru menyelesaikan makan malamnya.


Di kamarnya, dia berusaha fokus menggambar. Tapi pikirannya terus teralih, kesal karena teringat Li Xia yang berboncengan dengan Zhi Ang tadi.


Saat teman-teman sekamarnya sudah tidur, Li Xia masih terjaga sambil menulis curhatan di buku diarynya. Lagi-lagi dia curhat pada Ji Si dan mengaku tak tahu bagaimana harus menghadapi si Raja Muka Batu, dia tak menyangka kalau ternyata Yan Ran adalah teman masa kecilnya Xiao Si.

"Hari ini aku tidak datang ke studio seni, entah apa yang dia pikirkan. Apakah dia mengingatnya?"


Keesokan paginya, Xiao Si dan Zhi Ang berjalan bersama ke sekolah seperti biasanya. Zhi Ang penasaran apa yang Xiao Si lakukan kemarin sampai tidak membawa pulang sepedanya. Xiao Si mengaku kalau dia menunggu seseorang, tapi orang itu tidak muncul. Dan dia tidka membawa sepedanya karena Yan Ran mengantarkannya pulang.

Zhi Ang langsung kesal mendengar nama Yan Ran lalu memberitahu Xiao Si tentang apa yang Yan Ran dan Ayahnya lakukan kemarin terhadap Li Xia. Tapi Xiao Si malah cuek, Zhi Ang jadi kesal melihat reaksinya.
Xiao Si balas mengkonfrontasi Zhi Ang, sejak kapan dia suka ikut campur urusan orang lain. Apa karena Li Xia? Zhi Ang langsung terdiam dan melamun.

Xiao Si malah memanfaatkan saat itu untuk mengerjai Zhi Ang dengan diam-diam mengunci sepedanya Zhi Ang lalu berjalan pergi duluan, jadilah Zhi Ang musti menggotong sepedanya yang berat itu.


Di kelas, Xiao Fei mendikte tugas dan Li Xia memberi contekan untuk Wen Jing. Saat waktunya mengumpulkan tugas, Xiao Si yang masih kesal, langsung membanting kertasnya ke meja Li Xia.

Parahnya lagi, saat Wen Jing melihat bangkunya Zhi Ang kosong, dia langsung menggodai Li Xia. Xiao Si tambah cemburu mendengarnya.


Zhi Ang basah kuyup oleh keringat saat akhirnya dia tiba di sekolah setelah bersusah payah menggotong sepedanya. Tapi saat dia hendak mengambil sesuatu di tasnya, kunci sepeda itu malah terjatuh dari sana, baru sadar kalau sedari tadi Xiao Si sudah menaruh kuncinya di sana.

"Arrrrrgh! FU XIAO SI!!!!"


Pelajaran sudah mulai sedari tadi saat akhirnya dia tiba di kelas. Dia duduk dengan kesal, tapi Xiao Si malah menghindarinya. Wen Jing heran melihat kedua pria di belakang mereka itu, apa ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Li Xia tak tahu.


Gara-gara itu, Zhi Ang jadi kesal setengah mati pada Xiao Si. Dia bahkan sengaja menyenggol-nyenggol Xiao Si sepanjang pertandingan lari dan ujung-ujungnya mereka malah jadi bergulat sengit tanpa alasan yang jelas.


Tapi untunglah mereka kemudian membicarakan masalah mereka baik-baik di padang rumput. Zhi Ang mengaku kalau kemarin dia dan Li Xia duduk di sini cukup lama lalu menceritakan masalah Li Xia kemarin dan kesulitan yang dialami keluarganya Li Xia.


Mendengar itu, Xiao Si membayangkan Li Xia duduk di sana dan menceritakan kisah tentangnya dan ibunya. Bagaimana dulu dia pernah memasak untuk ibunya yang pulang terlambat karena kesibukan kerjanya. Ibunya begitu bahagia hingga menghadiahi Li Xia dengan uang 10 yuan.

Uang itu sangat berharga bagi Li Xia. Tapi di sekolah keesokan harinya, dia kehilangan uang itu. Seorang teman sekelasnya menemukan uang itu. Saat guru tanya siapa yang kehilangan uang itu, dia langsung angkat tangan bersamaan dengan seorang bocah lainnya. Tapi guru malah langsung memberikan uang itu pada si bocah hanya karena bocah itu berasal dari keluarga yang mampu.

Karena itulah, Li Xia berusaha lebih keras daripada siapapun agar suatu hari dia bisa berdiri sederajat dengan mereka. "Aku tidak akan membiarkan diriku terluka lagi karena sesuatu semacam itu."


Kembali ke kenyataan, Zhi Ang mengaku kalau dia merasa prihatin pada Li Xia. Dia merasa Li Xia persis seperti sepupunya. Xiao Si setuju, situasi mereka memang mirip, Li Xia juga sama keras kepalanya seperti sepupunya Zhi Ang itu.

"Karena itulah aku kesal saat kau kelihatan cuek. Dibanding Yan Ran, Li Xia itu lebih pekerja keras. Dia pantas mendapat lebih banyak perhatian."

Saat Xiao Si hendak pergi, Zhi Ang memberitahunya kalau Li Xia hidup berdua hanya dengan ibunya saja. Ayahnya sudah lama tiada.


Sejak mendengar kisah sedih Li Xia itu, Xiao Si sekarang mulai mengubah sikapnya. Di kelas, diam-diam dia memberikan secarik kertas yang menyatakan penyesalannya atas kejadian yang dialami Li Xia kemarin dengan Yan Ran.

Dia langsung gugup memegangi kupingnya menunggu balasan Li Xia, tapi langsung tersenyum saat Li Xia juga meminta maaf karena tidak datang kemarin. Zhi Ang melihat interaksi mereka itu dan jadi sedih karenanya.

 

Hari demi hari terus berlalu. Zhi Ang masih suka tidur di kelas, Qi Qi mulai berteman akrab dengan Zhi Ang, sementara Li Xia dan Xiao Si belajar menggambar bersama tiap malam.

Suatu hari, Bu Wen Ren membagikan hasil ujian tengah semester. Seperti biasanya, Xiao Si dan Zhi Ang yang mendapat nilai tertinggi di kelas. Sementara Zhi Ang dan Xiao Si bercanda sendiri dengan hasil ujian mereka, Bu Wen Ren ngomel-ngomel pada mereka-mereka yang mendapat nilai rendah. Li Xia terdiam shock melihat hasil ujiannya yang cuma dapat nilai 77.

Bersambung ke episode 4

2 comments

D tunggu episode 4 nya,tetp semngt nulis nya

D tunggu episode 4 nya,tetp semngt nulis nya

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon