Powered by Blogger.

Images Credit: Hunan TV

Sinopsis Rush to the Dead Summer Episode 4


Li Xia benar-benar sedih gara-gara nilai ujian tengah semesternya yang jeblok. Dia sampai tidak mendengar saat Zhi Ang memanggilnya.

Zhi Ang jadi cemas melihatnya. Apalagi saat diberitahu Wen Jing tentang nilainya Li Xia. Begitu jam pelajaran usai, Zhi Ang berusaha mengajaknya ke taman tapi Li Xia tidak mood bicara dengan siapapun dan langsung pergi.

Dia melamun sedih seorang diri di kantin, bahkan tak nafsu makan sedikitpun. Qing Qing tiba-tiba duduk di sampingnya, lalu Zhi Ang dan Xiao Si pun ikut duduk di sana menemaninya.

Sepertinya Qing Qing ada rasa pada Xiao Si. Begitu melihat Xiao Si, dia langsung memberikan colanya pada Xiao Si dan Xiao Si menerimanya dengan senang hati.

Xiao Si mengingatkan Li Xia untuk datang malam ini untuk belajar menggambar, tapi Li Xia menolak dengan aladan sibuk. Tak menyerah begitu saja, Xiao Si berusaha mengajak Li Xia melihat pameran seni lusa, tapi Li Xia lagi-lagi menolaknya lalu buru-buru pergi.

 

Begitu kembali ke kelas, Li Xia berusaha fokus belajar mengerjakan kisi-kisi ujian. Tapi Xiao Si tiba-tiba muncul dan menutup bukunya.

Zhia Ang malah menyuruhnya berhenti belajar dan ikut mereka saja, mereka akan membuat Li Xia relax. Li Xia menolak, dia tidak mau menggambar, fsa mau belajar.

"Kita tidak akan menggambar, kita akan bolos." Bisik Xiao Si lalu langsung menyeret Li Xia pergi dari sana tanpa mempedulikan protesnya.


Mereka membawa Li Xia ke taman bermain sambil memberitahu Li Xia kalau pelajaran selanjutnya adalah kelasnya si Cat Nippon (Nama panggilan yang dibuat Zhi Ang untuk Bu Wen Ren gara-gara kulit Bu Wen Ren yang putih pucat kayak tembok XD).

Jadi lebih baik Li Xia bolos saja sekarang dan bersenang-senang bersama mereka. Kalau dia balik sekarang, sudah pasti dia akan kena semprot. Li Xia ragu sejenak, tapi akhirnya dia mau juga bermain bersama mereka. Mereka pun bersenang-senang dan naik wahana air dan Li Xia akhirnya bisa tertawa lagi.


Yan Ran mendatangi kelasnya Xiao Di tapi malah mendapati bangkunya Xiao Si kosong. Parahnya lagi, Wen Jing memberitahunya kalau Xiao Si lagi bolos bersama Zhi Ang dan Li Xia.

Yan Ran jelas kesal mendengarnya, apa guru wali kelas mereka tidak peduli dengan murid yang bolos. Qi Qi tiba-tiba muncul dari belakangnya saat itu dan terang-terangan menyindirnya yang berhasil mendapat predikat sebagai murid teladan hanya karena kedekatannya dengan Pak Dekan. Sekalian saja dia lapor ke Pak Dekan sana biar dia dapat poin tambahan untuk jadi murid teladan lagi.

Belakangan ini Li Xia sangat dekat dengan Xiao Si dan Zhi Ang. Mereka sering makan bersama, menggambar bersama dan mengerjakan PR bersama. Tapi apa mereka pernah mengajak Yan Ran?

Kesal, Yan Ran langsung balas menyindir Qi Qi. Bukankah Qi Qi juga dekat dengan mereka, tapi mereka tidak mengajak Qi Qi bolos bersama mereka tuh.


Puas bermain, mereka bertiga jadi basah kuyup dan Li Xia tampaknya mulai masuk angin. Cemas, Zhi Ang usul agar mereka ke rumahnya Xiao Si saja yang lebih dekat, sekalian makan masakan ibunya Xiao Si. Li Xia tidak mau, tapi kedua pria langsung menyeretnya pergi.

"Ibuku tidak akan menggigit kok, ayo!"


Setibanya di sana, mereka malah mendapati Yan Ran di sana dan Ibu Xiao Si tampak tak senang, terutama saat melihat putranya bersama cewek lain. Sepertinya Yan Ran sudah mengadu tentang Xiao Si yang bolos.

Ia langsung menyuruh kedua pria naik dan ganti baju lalu dengan senyum ramah mengajak Li Xia masuk ke kamarnya. Begitu mereka berduaan, Ibu langsung menginterogasi Li Xia tentang keluarganya dan langsung prihatin saat mendengar Ayahnya Li Xia sudah meninggal dunia dan hanya ibunya yang membiayai sekolahnya Li Xia.

Saat Li Xia melihat-lihat foto-foto masa kecil Xiao Si, Ibu memberitahu Li Xia tentang betapa bangganya dia pada putra kesayangannya itu. Xiao Si sudah berprestasi sejak kecil dan punya prospek masa depan yang baik.

Karena itulah Ibu yakin sekali kalau bolosnya mereka ini idenya Zhi Ang dan bukan putranya. Secara tak langsung ia juga menyalahkan Li Xia dan memohon padanya agar mereka fokus saja pada sekolah mereka dan tidak menjadi pengaruh buruk untuk satu sama lain, atau lebih tepatnya mereka yang jadi pengaruh buruk untuk putranya.


Di kamarnya Xiao Si, Zhi Ang terheran-heran melihat isi lemarinya Xiao Si yang rata-rata berwarna hitam dan putih. Seharusnya dia memiliki baju warna-warni, dan bagaimana bisa dia tidak punya topi.

"Aku bukan kau. Aku pergi ke sekolah untuk belajar dan bukannya untuk fashion show. Kenapa juga aku musti pakai baju bagus-bagus."

Tapi tiba-tiba mereka mencemaskan Li Xia dan langsung menempelkan kuping-kuping mereka ke kamar sebelah. Tapi sepertinya tidak kedengaran apa-apa.


Mereka lalu makan malam bersama. Yan Ran dengan sengaja menyinggung masalah belajar memasak agar dia dan Xiao Si bisa tenang saat mereka studi ke luar negeri nantinya. Xiao Si langsung melirik tak enak pada Li Xia. Walaupun Ibu Xiao Si bersikap sangat ramah, tapi Li Xia benar-benar tak nyaman berada di sana.

Saat mereka berjalan keluar, Yan Ran langsung menyeret Xiao Si pergi dengan alasan Ibu Xiao Si tadi menyuruh Xiao Si untuk mengantarnya pulang. Terpaksalah Xiao Si akhirnya pergi bersama Yan Ran walaupun dia terus melirik ke belakang seolah tak rela berpisah dengan Li Xia.


Keesokan harinya di kelas, Bu Wen Ren mengumumkan bahwa ia akan mengangkat seseorang diantara mereka untuk jadi pengawas kelas dan yang dia tunjuk adalah Fu Xiao Si, sementara asisten pengawas kelas akan ditunjuk melalui voting.

Tapi, ia berharap, asisten pengawas kelasnya adalah cewek. Voting pun dimulai dan Li Xia sukses mendapat suara paling banyak. Li Xia sama sekali tak senang, tapi tak ada yang bisa dia lakukan.

"Selamat Li Xia yang terpilih sebagai asisten pengawas kelas. Kuharap Fu Xiao Si dan Li Xia bisa menjadi teladan untuk kelas ini."


Di jam istirahat, Zhi Ang berpapasan dengan Qi Qi. Dengan senang hati dia memberitahunya kalau Xiao Si dan Li Xia sekarang jadi tim pengawas kelas. Dengan begini mereka bisa bolos dengan bebas.

Qi Qi tampak cemburu mendengar itu, tapi dia cepat-cepat menyembunyikannya dan meminta Zhi Ang untuk mengajaknya ikut serta jika mereka mau melakukan sesuatu. Dia kan juga bagian dari kelompok mereka. Zhi Ang setuju.


Senang, Qi Qi langsung menyeret Zhi Ang ke studio musik. Qi Qi mengaku kalau dia melihat nama Zhi Ang dalam daftar grup musik untuk acara festival seni nanti. Berhubung Zhi Ang mendaftar untuk musik instrumen dan dia mendaftar untuk menyanyi, sekalian saja mereka berlatih bersama di sini.

Zhi Ang langsung canggung mendengarnya. Dia setuju untuk latihan bersama, tapi dia meminta Qi Qi untuk tidak bilang ke siapa-siapa, terutama pada Li Xia. Qi Qi penasaran kenapa, apa ada yang dia rahasiakan.

Zhi Ang tampak enggan menjawab dan hanya berkata kalau dia hanya ingin ini jadi misteri. Qi Qi tak terlalu memikirkannya dan menyetujuinya saja. Zhi Ang pun mulai memainkan pianonya, tapi tiba-tiba dia nyerocos kalau ini adalah lagu kesukaan Li Xia dan langsung tanya-tanya apa lagi lagu kesukaan Li Xia.


Qi Qi jelas cemburu dan langsung protes, "Aku berdiri di hadapanmu tapi kau malah bicara tentang Li Xia terus! Kau berteman baik dengannya daripada denganku!"

Zhi Ang jadi tak enak mendengarnya, "Tidak! Tidak! Kita semua teman kok."

Tapi Qi Qi memperhatikan Li Xia agak aneh belakangan ini. Pernah waktu mereka mau makan di kantin, dia dan Li Xia melihat mereka. Dia mau duduk bersama mereka, tapi Li Xia tiba-tiba menyeretnya ke tempat lain.

Li Xia bahkan pernah mendatanginya usai sekolah dan bersikeras membantunya membersihkan kelasnya. Awalnya dia pikir kalau mereka membuat Li Xia tak senang dan karena itulah dia menghindari mereka. Tapi kemudian dia menyadari sepertinya bukan karena itu alasannya.

Zhi Ang tampak cemas memikirkan sesuatu, tapi dia cepat-cepat mengenyahkannya dan melanjutkan permainan pianonya.


Saat mereka hendak meninggalkan kelas, Li Xia berbohong bahwa dia harus pergi menemui Ying Ying, dia sengaja membuat alasan untuk menghindari latihan menggambar bersama Xiao Si. Bahkan saat Xiao Si mengganti jadwalnya jadi minggu depan, Li Xia terus mencari-cari alasan untuk menghindarinya lalu buru-buru pergi.

Saat Xiao Si mulai latihan menggambar, dia baru ingat kalau dia kelupaan sesuatu. Tapi saat dia hendak mengambil peralatannya, dia malah heran mendapati Li Xia sedang membersihkan kelasnya Qi Qi padahal tadi bilangnya ketemuan sama Ying Ying.

Xiao Si langsung mengkonfrontasinya, tapi Li Xia dengan santainya beralasan kalau janjiannya dengan Ying Ying dibatalkan dan sekarang dia sedang membersihkan kelas menggantikan Qi Qi.

"Kenapa sebenarnya kau tidak mau ke studio seni? Apa kau sudah tidak mau menggambar lagi?"


Beberapa anak datang saat itu dan Xiao Si langsung menyeret Li Xia pergi ke belakang gedung dan mendampratnya karena dia mengira Li Xia mencari-cari alasan untuk bolos menggambar. Kesal, Li Xia mengingatkan Xiao Si bahwa mereka orang yang berbeda. Apa yang mudah bagi Xiao Si, merupakan sebuah tantangan bagi Li Xia.

Xiao Si tak percaya, semua itu cuma alasan yang Li Xia buat-buat. Dia harus konsisten kalau dia mau belajar menggambar. "Apa kau benar-benar ingin berhenti menggambar?"

Li Xia mengiyakannya dengan alasan kalau dia sudah lelah dan tidak bisa melakukannya dengan benar. Akan tetapi dalam narasinya, dia berkata bahwa kita sering kali membuat-buat alasan daripada mengatakan kejujuran.

"Hati anak muda selemah siput setelah hujan yang akan menciut hanya karena sentuhan. Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah cangkang yang keras. Fu Xiao Si, maafkan aku. Yang terbaik adalah menjaga jarak diantara kita."

Kecewa mendengar Li Xia menyerah semudah itu, Xiao Si langsung melempar tasnya Li Xia kembali lalu pergi.


Keesokan harinya, mereka tak sengaja berpapasan saat hendak masuk kelas. Tapi Li Xia buru-buru masuk duluan. Xiao Si benar-benar jadi kesal karenanya. Zhi Ang sampai heran, ada apa dengan Xiao Si hari ini.

Tapi kemudian, Xiao Si dan Li Xia dipanggil menghadap Guru Luo yang cemas akan nilai kimia kelas mereka yang sangat memprihatinkan. Ia takut mereka tidak akan bisa masuk universitas utama.

Karena itulah ia ingin mengadakan pelajaran tambahan dan mereka berdua ia tugaskan untuk membuat teman-teman sekelas mereka mau mengikuti pelajaran tambahan ini. Xiao Si dengan muka lempengnya tanya apakah pelajaran tambahan ini kewajiban ataukah ada biaya tambahan.

Guru Luo berkelit kalau ini adalah kewajibannya sebagai guru, tapi intinya dia tetap menginginkan sesuatu sebagai imbalan. Jadi tentu saja harus ada biaya tambahan. Xiao Si mengiyakannya saja lalu pergi dengan membawa kertas pendaftaran pelajaran tambahan.

Tapi Li Xia tidak bisa pergi begitu saja. Guru Luo dengan sengaja memanfaatkan nilai Li Xia yang jeblok untuk memaksa Li Xia mengikuti kelas tambahan. Li Xia cuma bisa terdiam galau.


Kembali ke kelas, Xiao Si dengan kesal membanting kertas pendaftaran pelajaran tambahan itu dan menyerahkannya pada Li Xia. Tapi murid-murid langsung mengeluh malas mendengar pengumuman itu, tahu betul kalau niat pak guru cuma ingin uang tambahan. Dan karena itulah tak ada satupun yang mau mendaftar.

Saat Guru Luo melihat hanya satu nama yang terdaftar di sana, ia sontak ngamuk-ngamuk tentang pentingnya pelajaran tambahan ini. Semuanya diam membisu, hanya Zhi Ang yang berani ngomong. Jika memang ia memang berniat membantu mereka, maka seharusnya dia fokus pada pelajaran di kelas alih-alih pelajaran tambahan.

Guru Luo makin kesal mendengarnya dan langsung mengancam bahwa siapapun yang mendapat nilai dibawah 80 dalam ujian kimia besok, maka mereka wajib mengikuti pelajaran tambahan.


Usai sekolah, ketiga teman sekamar Li Xia mengeluhkan masalah ini dan menuntut Li Xia untuk memikirkan jalan keluarnya. Li Xia langsung pergi menemui Qi Qi yang ternyata juga dipaksa oleh Guru Luo untuk mengikuti pelajaran tambahan.

Jelas-jelas Guru Luo melakukan ini hanya demi uang. Mereka yang nilainya meningkat setelah mendapat pelajaran tambahan, sebenarnya bukan ilmunya yang meningkat, tapi karena Guru Luo memberi mereka petunjuk tentang jawabannya.

"Kelas kami juga menderita. Ya Tuhan, berikanlah aku ide." Desah Li Xia galau.
 
"Bagaimana kalau kita curi soal ujiannya?" Usul Zhi Ang yang tiba-tiba muncul.


Qi Qi setuju, tapi Li Xia tidak setuju dan bersikeras mau memikirkan jalan keluar terbaik... dan satu-satunya ide yang didapatnya hanyalah melapor ke Bu Wen Ren. Tapi Bu Wen Ren masa bodoh dan berpendapat kalau itu adalah cara Guru Luo dalam mengajar, jadi dia tidak bisa ikut campur.

Bahkan saat Li Xia melapor kalau Guru Luo menuntut biaya untuk pelajaran tambahan, Bu Wen Ren dengan santainya menyuruh Li Xia untuk belajar ekstra keras agar dia bisa mendapat nilai diatas 80 dan tidak perlu mengikuti pelajaran tambahan. Tapi begitu Li Xia pergi, Bu Wen Ren tampak cemas juga.


Tak ada cara lain, Li Xia akhirnya setuju untuk memakai idenya Zhi Ang. Mereka memulai aksi mereka malam itu juga. Li Xia dan Qi Qi mengendap-endap pakai jaket hitam berhoodie bak maling sungguhan sementara Zhi Ang hanya memakai topi.


Dia sudah menunggu sendirian saat kedua gadis itu datang, sementara Xiao Si menolak ikut. Qi Qi yang paling semangat, dia malah sudah mempersiapkan berbagai peralatan seperti topeng, stoking dan senter.

Mereka pun memulai aksi mereka, Zhi Ang dan Qi Qi yang masuk untuk mencari soal ujian itu sementara Li Xia yang bagian berjaga. Kalau ada seseorang datang, dia harus mengeong seperti kucing untuk memperingatkan mereka.

Saat tengah memeriksa meja, Zhi Ang menemukan sebuah laci terkunci. Tapi untunglah kuncinya tersimpan di wadah pensil dan di sanalah dia menemukan soal ujian itu. Mereka pun cepat-cepat menyalinnya.

Tapi di luar, Li Xia tiba-tiba mendengar langkah kaki lalu dari kejauhan dia melihat sinar lampu senter satpam yang sedang patroli. Dia langsung mengeong-ngeong, tapi Qi Qi dan Zhi Ang masih belum selesai.


Langkah kaki satpam semakin mendekat. Li Xia jadi makin panik dan mengeong-ngeong semakin keras. Tiba-tiba Qi Qi dan Zhi Ang mendengar suara gemerincing kunci. Mereka langsung menyembunyikan diri mereka di bawah meja tepat saat pintu terbuka dan Pak Satpam mengedarkan senternya ke sekeliling ruangan.


Untunglah dia tak sempat lanjut gara-gara suara kucing yang ribut mengeong-ngeong sedari tadi. Tapi sekarang malah gantian Li Xia yang berada dalam bahaya karena Pak Satpam semakin mendekati tempat persembunyiannya. Tak ada jalan lain, Li Xia pun berniat menyerahkan diri...


Tapi tepat saat itu juga, Xiao Si muncul dan menariknya kembali. Dia langsung mengarahkan senter tepat ke mata Pak Satpam lalu buru-buru menarik Li Xia bersembunyi di lab.

Li Xia berbisik mengucap terima kasih padanya, dia mungkin sudah diomeli sekarang jika Xiao Si tidak datang menyelamatkannya. Tidak masalah, Xiao Si malah senang bisa melindungi Li Xia. Tapi apa Li Xia sungguh tidak mau menggambar dengannya lagi?

"Kalau kau mengalami masalah, Zhi Ang dan aku akan membantumu."

Li Xia ragu mau mengatakan sesuatu. Tapi akhirnya dia tak sempat mengatakannya karena tepat saat itu juga, Pak Satpam masuk dan memeriksa ruangan itu.

 

Zhi Ang dan Qi Qi akhirnya berhasil keluar. Zhi Ang dengan santainya melompati pagar yang tinggi dan menyemangati Qi Qi untuk mengikuti jejaknya. Qi Qi takut, tapi Zhi Ang meyakinkannya untuk melompat saja, dia akan menangkap Qi Qi. Dalam hitungan ketiga, Qi Qi akhirnya melompat dan jatuh tepat menimpa tubuh Zhi Ang. hehe.


Mereka akhirnya bertemu Li Xia dan Xiao Si tak lama kemudian. Tak menyangka kalau Xiao Si ternyata ikut juga. Tentu saja, dia kan mencemaskan mereka. Lalu bagaimana, apa rencana mereka sukses?

"Tentu saja. Kami sudah menyalin semua pertanyaannya." Ujar Qi Qi lalu menyerahkan salinan itu pada Xiao Si.

Bersambung ke episode 5

1 comments:

Unni di tnggu uptade episodenya smpai slesai....

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon