Powered by Blogger.

 Images Credit: tvN

Sinopsis Bride of the Water God Episode 10 - 1


Saat Habaek melepaskan diri dari ciuman mereka, keduanya sontak canggung. So Ah bahkan langsung menunduk, menghindari tatapan Habaek. Moo Ra menelepon Habaek saat itu dan mengabarkan kalau ingatan Joo Dong sudah kembali.


So Ah pun pergi mengantarkan Habaek, tapi mereka saling diam sepanjang perjalanan. Setibanya di sana, So Ah berusaha bersikap seperti biasanya. Karena sebentar lagi semua ini akan berakhir, So Ah meminta Habaek untuk memperlihatkan batu dewa itu kepadanya jika Habaek sudah menemukannya nanti.

Habaek tak menjawabnya dan langsung keluar. So Ah bergumam menduga kalau batu dewa itu mungkin juga tak kelihatan di mata makhluk fana. Dia lalu pergi, sementara Habaek masih berdiri di sana, menatap kepergiannya.


Tapi perhatiannya cepat teralih saat Joo Dong memanggilnya dan membentangkan kedua tangan. Habaek pun langsung memeluknya. Saat mereka berkumpul bersama, Joo Dong dengan antusias dan gaya lucunya menceritakan pengalamannya saat hilang ingatan.

Dia terbangun di rumah sakit tanpa punya ingatan apapun tentang siapa dirinya ataupun apa yang terjadi. Setelah meninggalkan rumah sakit, dia menghabiskan waktunya sebagai gelandangan dan berkelana ke berbagai tempat. Dan setelah berkeliaran kesana-kemari, dia berakhir di kuil itu.

Habaek merasa aneh, masa iya Joo Dong kena petirnya Bi Ryeom lalu hilang ingatan. Moo Ra berkata kalau itu ulahnya Hoo Ye, dia sendiri yang mengaku ke Bi Ryeom.


Habaek mengalihkan topik, bagaimana dengan batu dewanya? Joo Dong mengepalkan tangan. Saat dia membukanya kembali, batu dewa itu muncul secara ajaib di tangannya. Begitu ketiga batu dewa itu disatukan, ketiganya langsung bercahaya.

Moo Ra senang, tapi Bi Ryeom tampak tak senang dan menatap Habaek dengan iri. Habaek sendiri malah sedih biarpun tujuannya mendapatkan ketiga batu dewa sudah tercapai.

 

Joo Dong tiba-tiba ingat dengan tabletnya. Apa mereka melihatnya? Moo Ra dan Bi Ryeom heran, kenapa juga Joo Dong membawa benda itu. Tidak akan ada gunanya juga. Loh, kan disuruh bawa.

"Aku yakin aku kehilangan sesuatu. Dimana aku menjatuhkannya?"

 

Moo Ra lalu mengantarkan Habaek pulang dan Joo Dong memutuskan ikut dengan Habaek. Moo Ra menggerutu kesal, tak suka karena Habaek kembali ke rumahnya So Ah dan ngapain juga Joo Dong ikut.

"Kudengar rumahnya Habaek terbuka keempat sisinya. Sarang cintamu dan Bi Ryeom itu terlalu tertutup, rasanya menyesakkan." Kata Joo Dong.


Moo Ra sontak berhenti mendadak mendengar omongan Joo Dong itu. Apa maksudnya 'sarang cintanya dan Bi Ryeom'? Joo Dong tidak merasa salah ngomong kok. Ingat tidak waktu Moo Ra dan Bi Ryeom bertengkar dulu? Mereka berdua kan tunangan dulu, tapi mereka tidak menyempurnakan pernikahan mereka. Jadi malam ini mereka bisa melakukan 'itu'.

Moo Ra sontak menjerit histeris. "Apa kau ingin aku menghancurkan lidahmu?"


Joo Dong akhirnya diam. Moo Ra pun berusaha menenangkan dirinya sebelum kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Ngomong-ngomong tentang Bi Ryeom, Moo Ra merasa ada yang aneh dengan sikap Bi Ryeom.

Entah kenapa Bi Ryeom jadi sangat sensitif dan jahat pada Hoo Ye, sepertinya dia sengaja memprovokasi Hoo Ye. Okelah kalau Bi Ryeom tidak mau berteman dengan Hoo Ye, tapi tidak perlu sampai sejahat itu. Mereka juga sedang tidak berada di alam Dewa, jadi kenapa juga dia peduli dengan apa yang terjadi di sini.


"Kau bilang dialah yang menyebabkan Joo Dong hilang ingatan."

Joo Dong mengoreksi, itu cuma benar setengahnya saja. Hoo Ye memang menggunakan kekuatannya, tapi dia melakukannya secara tak sengaja, mungkin karena kaget. Tapi Bi Ryeom meyakini kalau Hoo Ye melakukannya dengan sengaja. Makanya Moo Ra cemas kalau-kalau Bi Ryeom akan bikin masalah.

Soo Ri juga cemas, Hoo Ye itu manusia atau dewa. Jika dia manusia, maka mereka tidak diperbolehkan menyakitinya.

"Karena itulah aku cemas." Kesal Moo Ra.
 

Setibanya di rumah So Ah, Habaek melihat lampu depan tidak nyalakan lagi. Dia menyalakannya dan bimbang ingin mengetuk pintunya So Ah. Tapi tepat saat itu juga, dia melihat lampu di dalam rumah dimatikan. So Ah merenung sedih di atas sofanya.


Joo Dong langsung suka dengan rumah ini. Lalu bagaimana dengan pemilik rumah ini? Soo Ri menawarkan diri untuk memanggil So Ah, tapi Habaek melarangnya karena So Ah sepertinya sudah tidur.

Dia menatap pintu belakang yang menghubungkan loteng dengan rumahnya So Ah dengan sedih dan Joo Dong memperhatikan ekspresinya itu. Membicarakan masalah hamba dewa, Joo Dong ingat banyaknya dewa yang menentang hal itu saat Bi Ryeom mengusulkan hal itu dulu.

Joo Dong merasa itu adalah  perbuatan pengecut. Semua ini salahnya Dewa Negeri Langit, tapi hanya manusia yang dihukum. Apa Habaek sendiri baik-baik saja? Dia tahu kalau Habaek berusaha keras melupakan masalah hamba dewa itu.

Habaek tampak canggung mendengarnya, teringat pembicaraannya dengan Imam Besar tentang hamba dewa dan saat itu dia tampak canggung seolah pura-pura tak tahu tentang hamba dewa.

"Aku tidak tahu apakah Imam Besar membantumu dengan cara ikut-ikutan pura-pura bodoh. Tentang bekas luka itu..."

"Aku tidak pura-pura bodoh, aku benar-benar lupa." Habaek mengklaim kalau ingatan itu pasti akan memudar seiring berjalannya waktu dan Imam Besar tahu itu.

Tapi Joo Dong menatapnya tak percaya. Heran juga dia, kenapa Habaek tampak muram padahal dia sudah menemukan ketiga batu dewa. Dan kenapa Moo Ra begitu ingin Habaek kembali ke Alam Dewa.


Keesokan paginya, Habaek masih menatap pintu belakang gudang dengan ragu. Tapi akhirnya dia keluar lewat pintu depan. Tangannya ragu ingin mengetuk pintunya So Ah. Tapi tepat saat itu juga, So Ah keluar untuk berangkat kerja lebih pagi. Sepertinya dia sengaja menghindari Habaek.


Sang Yoo baru saja tiba dan langsung kaget melihat So Ah sudah ada di dalam, bahkan sedang mengepel lantai. So Ah langsung ngomel-ngomel, mengkritiki Sang Yoo karena dia datang terlambat. Sang Yoo bingung, klinik mereka kan memang baru buka jam 10.

So Ah menegaskan kalau mulai sekarang, klinik mereka akan buka mulai jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Mulai sekarang, mereka akan menerima konsultasi tengah malam di hari senin, rabu dan jumat. Promosikan itu di website mereka.


So Ah tercengang saat melihat suplemen ginseng di mejanya Sang Yoo. Sang Yoo berkata kalau Ma Bong Yeol yang memberikan ini untuknya, soalnya Bong Yeol bilang kalau dia rada pucat. So Ah mendengus nyinyir, mungkin ginseng itu untuknya.

"Masa kau tidak tahu Bong Yeol? Mau kutunjukkan? Dia jadi sangat kreatif menciptakan kata-kata umpatan."

Sang Yoo lalu membagikan beberapa box untuk So Ah dan mengambil alih tugas mengepel lantai. So Ah menatap Sang Yoo dengan rasa bersalah, teringat ucapan Yeom Mi bahwa Sang Yoo lebih mencemaskan So Ah ketimbang So Ah sendiri. Hoo Ye meneleponnya tak lama kemudian dan minta bertemu siang ini.


Bi Ryeom bertemu Jin Gun di coffee shop sambil curhat kesal tentang ucapan Hoo Ye yang meremehkannya waktu itu. Jin Gun pun tampak kesal mendengarnya.


Ja Ya datang ke kantornya Hoo Ye pakai kacamata untuk menutupi mata pandanya. Mungkin dia tidak bisa tidur gara-gara back hug-nya Hoo Ye kemarin. Pokoknya, hari ini dia bertekad untuk menanyakan alasan Hoo Ye melakukan itu.


Dia berjalan dengan penuh percaya diri. Tapi begitu melihat Hoo Ye di depan, dia malah takut dan menghindar. Akhirnya yang dilakukannya hanyalah berkeliaran kesana-kemari membuntuti Hoo Ye dan mengintipnya secara sembunyi-sembunyi.


So Ah datang tak lama kemudian. So Ah duduk dengan canggung, tapi Hoo Ye berkata kalau dia akan segera terbiasa karena So Ah akan sering datang kemari mulai sekarang. So Ah jelas bingung maksudnya apa.

Hoo Ye memberitahu kalau kontrak penjualannya sudah dibatalkan. Memang banyak yang menentang sebenarnya, tapi mereka mengalah setelah Hoo Ye meyakinkan kalau dia akan membayar denda pembatalan kontrak.

So Ah berterima kasih. Tapi dia tidak bisa membayar dendanya dengan cepat. Hoo Ye menyelanya dan berkata kalau setengah dari denda itu bisa So Ah bayar dengan cara menyumbangkan bakatnya ke perusahaan ini.

Bisnis perhotelan itu pekerjaan berat, karena itulah dia meminta So Ah untuk mengurus tekanan mental para pegawainya. 30 persen-nya bisa So Ah bayar dengan bekerja di perkebunannya. So Ah sendiri kan pernah bilang untuk menghubunginya saja jika dia butuh bantuan.

Dan 20 persennya bisa So Ah bayar dengan menjadi dokter pribadinya. Dia masih belum bisa tidur nyenyak sampai sekarang. Karena itulah dia meminta So Ah untuk menjadwalkan sesi konsultasi untuknya dua hari dari sekarang.

Dan untuk dua pekerjaan terakhir itu, Hoo Ye akan membayar So Ah dengan uang pribadinya yang akan ditransfer langsung ke rekeningnya. So Ah cuma bisa tercengang mendengar semua itu.


Ja Ya minta bertemu dengan Sekretaris Min yang sontak kaget melihat mata pandanya Ja Ya yang seram itu. Dia bertele-tele tanya tentang apakah Sekretaris Min akan ke gereja hari minggu dan apa maksudnya jika seorang pria tiba-tiba memeluknya dari belakang?

"Itu namanya pelecehan seksual."

"Bukan begitu."

"Apa seseorang memelukmu dari belakang secara paksa? Seharusnya kau berbalik dan tonjok pria itu!"

"Tidak. Dia bukan orang semacam itu! Maksudku... kenapa CEO Shin mendadak memelukku dari belakang?"

Sekretaris Min langsung malas. Jadi karena itu, Ja Ya kemarin tampak linglung? Sebaiknya dia tidur saja. ja Ya tidak terima dengan reaksi Sekretaris Min. Saat itu juga, Ja Ya melihat Hoo Ye datang dari kejauhan.


Dia sontak panik mau menyembunyikan dirinya. Tapi kemudian dia melihat So Ah berjalan di samping Hoo Ye dan langsung kesal melihatnya. Kenapa mereka berjalan bersama? Apa hubungan mereka?

"Apa kau belum dengar? rencana pembangunan Block World di Gangwon-do sudah dibatalkan." Ujar Sekretaris Min. Jaya sontak kaget mendengarnya.


Ja Ya menggerutu kesal sepanjang perjalanan ke kantor Kakeknya. Apalagi setelah diberitahu kalau pembatalan itu karena So Ah dan rencananya akan dipindahkan ke Chungcheong-do. Dia langsung menghubungi Kakeknya untuk memberitahukan masalah ini dan tanya apakah Ketua Shin punya tanah di Chungcheong-do.


Ketua Shin sontak marah-marah mendengar kabar itu. Kenapa So Ah tidak mau menjual tanahnya. Mana Ja Ya tahu.  Anak buahnya barusan mendapat telepon kalau ternyata alasan So Ah tidak jadi menjual tanahnya adalah karena... kotoran macan tutul. Hahaha!

Masalahnya sekarang, Ketua Shin punya tanah di Chungcheong-do atau tidak? Tidak, jawab Ketua Shin. Ja Ya langsung nyinyir, menyindir kakeknya itu. Selama ini Ketua Shin selalu pamer kalau dia punya tanah di seluruh Korea, tapi nyatanya dia malah tidak punya tanah di Chungcheong-do.


So Ah baru kembali ke klinik tapi malah mendapati Ja Ya sudah menunggunya di sana dan langsung mengkonfrontasi So Ah yang dari dulu selalu bersikap nggak jelas. So Ah selalu berlagak seolah dia kaya padahal dia miskin. Juga si Sang Yoo itu, dia gelandangan yang numpang hidup ke keluarganya So Ah, kan.

So Ah sontak kesal tidak terima dan mendekat, mau menghajar Ja Ya. Ja Ya sontak mundur dan buru-buru menyinggung masalah So Ah yang batal menjual tanahnya cuma gara-gara kotoran. Yeom Mi datang saat itu sambil menggerutui Ja Ya.


Ja Ya semakin nyinyir melihat kedatangan Yeom Mi. Tapi kemudian Yeom Mi pura-pura shock dan mengklaim ada hantu yang nempel ke Ja Ya. Aktingnya benar-benar meyakinkan sampai-sampai Ja Ya ngeri ketakutan dan langsung kabur sambil jejeritan histeris.

Dia bahkan langsung mewek melaporkan masalah hantu itu ke Kakeknya. Jelas saja Ketua Shin marah-marah, jangan mengatakan hal-hal yang bisa menurunkan nilai jual gedungnya!


So Ah heran, dari mana Ja Ya tahu segala sesuatu tentangnya. Tentang pembatalan penjualan tanhanya dan juga kesulitannya membayar sewa gedung. Dan kenapa juga dia marah-marah. Apa dia sungguh seperti yang Ja Ya tuduhkan padanya tadi.

Mana Yeom Mi tahu tentang bagaimana So Ah semasa SMA dulu. Dia yakin kalau yang Ja Ya pikirkan tadi adalah masa-masa SMA mereka. Dia yakin Ja Ya marah-marah bukan karena So Ah melakukan sesuatu, tapi justru karena So Ah tidak melakukan sesuatu. Seperti anak yang tidak pernah belajar tapi dapat nilai bagus.


So Ah tersinggung, dia selalu belajar dengan giat. Bukan itu maksudnya Yeom Mi. Dia mengaku datang hari ini karena tadi So Ah pertama kalinya muncul dalam mimpinya. Dia melihat So Ah ketawa seperti orang gila lalu pergi.

Tapi wajah So Ah kok tidak enak dilihat, apa terjadi sesuatu? So Ah menjawab ambigu kalau dia hanya sedang berusaha memecahkan soal matematika yang sangat rumit. Tapi kan So Ah selalu pintar dalam matematika.

"Iya, sih. Tapi masalah ini rada menakutkan. Jawabannya sudah ditentukan. Tapi langkah-langkah yang kugunakan untuk menyelesaikannya, tidak sesuai dengan jawabannya."

"Berarti kau sudah salah langkah."

"Mungkin. Karena itulah, karena itulah harus menemukan nilai baru dari 'x' dengan segala cara. Jawaban yang tidak akan menyakiti siapapun."

"Aku tidak mengerti apa yang bicarakan. Tapi yang pasti, matematika tidak bersalah."


So Ah berjalan pulang sambil merenungkan ucapan Yeom Mi tadi. Memang benar, matematika tidak bersalah. Baik dia, Habaek ataupun orang lain, tidak bersalah. yang tidak bersalah tidak boleh dihukum. Karena itulah, matematika yang tidak bersalah, yang harus disalahkan.

"Aku punya ide baru yang hebat dan misterius. Jawaban yang akan membuatku menepuk lututku dan berkata 'itu dia'. Jawaban yang tidak akan membuat siapapun terluka." Batin So Ah saat dia melihat Habaek menunggunya di depan rumah.


Dengan keputusan baru itu, dia mendekati Habaek dan menyapanya seperti biasa seolah tak pernah terjadi apapun diantara mereka. Dia mengaku kalau dia mengerjakan soal matematika sepanjang hari untuk mencari nilai x dan sekarang sudah menemukan solusinya.

"Solusiku adalah... menghentikan semuanya sampai di sini."

Jawaban dari soal ini sudah ditentukan dan So Ah diberikan petunjuk bahwa sekarang adalah saatnya mengakhiri segalanya. So Ah menanyai diriku sendiri tentang bagaimana dia harus mengakhirinya. Dan dia memutuskan kalau dia harus mengakhirinya dengan indah agar semua orang merasa bahagia.

"Kumohon. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa hidup sebagai warga kelas satu."

Habaek mendengarkannya dengan mata berkaca-kaca, "Kau ingin aku melakukan apa?"

"Mari kita bersikap seperti sebelum kejadian kemarin."

Habaek berusaha menahan emosinya dan hanya menajwab dengan mengajak So Ah masuk.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon