Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Bride of the Water God Episode 10 - 2


Keesokan harinya, So Ah berangkat lebih pagi lagi. Dia dan Habaek benar-benar bersikap biasa seperti sebelumnya. So Ah memberitahu kalau sekarang dia membuka kliniknya dua jam lebih awal karena dia harus membereskan kekacauan yang dibuat seseorang.

Habaek penasaran siapa. So Ah menolak memberitahu, Habaek tidak perlu tahu. Lagian juga tidak ada yang bisa Habaek lakukan untuknya. Habaek tersinggung. Baiklah, dia akan melakukan apapun yang dia bisa untuk SO Ah sebelum dia pergi. So Ah butuh apa?

"Uang."

"Lupakan saja apapun yang kukatakan."

So Ah tanya apakah Habaek akan mengadakan pesta perpisahan sebelum pergi. Habaek harus membelikannya makan malam, Habaek kan akan jadi raja sebentar lagi. Tidak bisa, soalnya Habaek tak punya uang.


"Kalau begitu, carilah uang sendiri." Ujar So Ah lalu pergi. Tapi begitu dia sudah jauh pandangan Habaek, senyum di wajah So Ah pun langsung menghilang. Habaek pun sedih. Joo Dong memperhatikan segalanya dari lantai atas.


Joo Dong lalu menggunakan kekuatannya untuk mengembalikan kehidupan bunga di pot yang hampir layu dan menanyakan pendapat Habaek. Bukankah dunia manusia ini lebih menyenangkan dari dugaan Habaek.

Apa karena wanita itu, Habaek jadi tidak bahagia menemukan ketiga batu dewa. Apa karena wanita itu juga, Moo Ra jadi tidak sabaran ingin Habaek segera kembali ke Alam Dewa. Dia mengerti perasaan Moo Ra. Mereka juga sedih dan kesusahan saat Habaek mengalami penderitaan itu.

Habaek menyuruhnya diam. Tapi Joo Dong terus saja nyerocos dan meyakinkan Habaek bahwa dia selalu memihak Habaek. "Aku selalu membuat keputusan yang benar. Biarpun itu tragedi. Apa kau tahu apa bedanya kita dengan manusia?"

Hidup manusia itu sangat singkat. Karena itulah, biarpun mereka melanggar aturan, mereka tidak dicela. Terutama jika mereka mencintai seseorang. Saat manusia memikirkan betapa singkatnya hidup mereka, mereka bahkan berani menggenggam batu panas.


Tapi So Ah itu pengecualian. Apa Habaek mau tahu kenapa dia ragu? Karena sekarang ini, Habaek merasakan simpati terhadap manusia... ataukah ini cinta?

"Tapi Habaek, seperti ini juga yang terjadi dulu."

"Lalu berakhir memalukan." Geram Habaek.

"Tapi aku tetap mendukungmu."


Hoo Ye baru saja tiba di parkiran yang sepi saat tiba-tiba saja dia merasa ada yang aneh dengan CCTV-nya yang mati secara ajaib, lalu beberapa lampu mati. Lalu tiba-tiba saja sebuah kekuatan tak terlihat menjegal kaki Hoo Ye lalu meninjunya hingga dia terpelanting ke udara.

Kekuatan itu terus menerus menghajar Hoo Ye tanpa ampun sampai dia berdarah. Pada saat yang bersamaan, Bi Ryeom sedang meninju samsak. Err... apa dia menggunakan kekuatannya untuk menghajar Hoo Ye dari kejauhan?


Tapi kemudian terlihat dua dewa kecil di parkiran. Mereka lah yang menggunakan kekuata mereka untuk menghajar Hoo Ye. Salah satu dewa kecil cemas, apalagi mereka tak tahu siapa pria yang mereka hajar itu.

Mereka berhenti sejenak gara-gara ngobrolin korban mereka dan Bi Ryeom yang menyuruh mereka melakukan ini. Dan saat itulah Hoo Ye bangkit dan berjalan mendekati mereka dengan aura hitam di sekujur tubuhnya.

Kedua dewa kecil sontak ketakutan melihat orang yang mereka hajar itu masih mampu berdiri. Apa dia manusia? Tapi dia berdarah, jadi dia pasti manusia. Hoo Ye berlari semakin dekat. Tapi tiba-tiba seseorang melompat menjauhkan Hoo Ye dari mereka.


Hoo Ye kontan berniat menghajar orang itu, tapi dia langsung berhenti saat menyadari orang itu ternyata Joo Geol Rin. Kedua dewa kecil itupun langsung kabur. Hoo Ye menatap kepergian mereka dengan tatapan menakutkan dan semua lukanya langsung sembuh dengan sendirinya.

"Kenapa dia melakukan ini padaku?" Geram Hoo Ye.


Bi Ryeom meneleponnya saat itu juga dan jujur mengakui kalau dialah yang mengirim kedua dewa kecil itu untuk menghajar Hoo Ye. Tapi balasannya pada Hoo Ye ini tidak seberapa dibanding apa yang dilakukan Hoo Ye pada temannya. Jadi, anggap saja impas.

"Dan jika kau mengancamku sekali lagi. Aku tidak akan menganggapnya cuma sekedar impas. Aku akan melakukan hal yang lebih buruk."

"Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Kenapa?!"


Jin Gun terus menatap Bi Ryeom setelah dia mengakhiri teleponnya. Bi Ryeom menekankan bahwa biarpun Jin Gun tidak mau balas dendam, dia tetap tidak akan memaafkan Ho Ye. 

Moo Ra datang tak lama kemudian dan langsung menggerutui perbuatan Bi Ryeom pada Hoo Ye. Bin Gun pamit pergi dalam diam. Moo Ra heran, sejak kapan Jin Gun berhenti bicara? Bi Ryeom mengingatkan, sejak saat Moo Ra membekukan dan menghancurkan lidahnya.

"Tapi dia kan punya saudara kembar. Siapa namanya, Mo Myeong? Apa Mo Myeong tidak ikut kemari bersamanya? Aku belum pernah melihatnya selama ratusan tahun." Heran Moo Ra. Anehnya, Bi Ryeom tampak canggung dan buru-buru menghindar.


Hoo Ye ngebut mau menemui Bi Ryeom dengan emosi membuncah sampai Joo Geol Rin cemas. Dia berusaha menasehatinya untuk tidak menemui Bi Ryeom. Katanya Hoo Ye tidak mau menjadi kegelapan dalam kegelapan.

Tapi Hoo Ye malah tambah ugal-ugalan sampai Geol Rin ketakutan. Saat itulah Hoo Ye mulai sadar dan cepat-cepat menepi.


Keempat dewa makan malam bersama. Moo Ra mendapat telepon tak lama kemudian dan keluar. Bi Ryeom memberitahu mereka kalau Hoo Ye sudah mengembalikan tanah mereka pada So Ah. Tapi dilihat dari jiwanya Hoo Ye, Bi Ryeom merasa kalau Hoo Ye tidak akan menyerah semudah itu. Jadi, bagaimana caranya So Ah meyakinkan Hoo Ye.

Bi Ryeom yakin kalau masalahnya bukan pada tanahnya. Kalau Habaek tak ingin mengotori tangannya, Bi Ryeom menawarkan diri untuk menyelidikinya. Dia punya caranya sendiri.

"Sejak kapan dia jadi aneh begini?" Gerutu Joo Dong.

"Dia sudah seperti ini sejak awal," Kata Moo Ra yang baru kembali. "Kenapa? Apa dia bikin ulah lagi?"

"Entahlah. Mereka bicara dengan kode-kodean dan membuatku jadi orang buangan."


Moo Ra tanya lagi, kapan Habaek akan kembali ke Negeri Air. Bi Ryeom sebal sendiri mendengar pertanyaan Moo Ra, Habaek kan bukan anak kecil. Dia akan kembali kalau sudah waktunya. Habaek tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak kembali.

Malas, Habaek pun beranjak pergi. Ah, Joo Dong katanya mau pergi ke suatu tempat. Iya, jadi Habaek jangan balik dulu sebelum dia kembali dari perjalanannya. Moo Ra berusaha meminta Habaek untuk kembali saja dan tidak usah menunggu Joo Dong. Tapi Habaek menyetejui permintaan Joo Dong, lalu pergi.


Moo Ra pulang sambil marah-marah pada Bi Ryeom. Tidak suka dengan sikap Bi Ryeom yang kasar, tidak bertanggung jawab dan semaunya sendiri. Bagaimana bisa dia tidak pernah berubah sejak dia kecil. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu pada Habaek.

Bi Ryeom mulai kesal, apa Moo Ra marah-marah padanya karena dia marah pada Habaek? Atau karena Moo Ra cemas Habaek tidak akan kembali sampai menit terakhir dan memanfaatnya sebagai alasan kemarahannya?

Dia langsung menyudutkan So Ah ke tembok dan menuntut So Ah untuk mengatakan yang sebenarnya. Moo Ra merasa gugup karena So Ah, bukan? Katakan saja kalau Moo Ra berpikir bahwa So Ah sudah ada di dalam hati Habaek. Katakan saja kalau dia tak mau Habaek dicuri darinya untuk yang kedua kalinya.

"Tanyakan padaku untuk mencari solusinya seperti yang selama ini kau lakukan. Aku menyukai Yoon So Ah, tapi aku selalu lebih memilihmu. Jadi jangan khawatir dan katakan saja padaku. Aku punya banyak cara."


Moo Ra heran, kenapa Bi Ryeom bersikap seperti ini? "Kau memang selalu melakukan apapun semaumu, tapi kau tidak pernah goyah seperti ini."

Apa Bi Ryeom berubah karena si setengah dewa itu muncul? Apa yang sudah dilakukan Hoo Ye? Apa yang tidak dia ketahui? Tapi Bi Ryeom tak menjawab dan langsung pergi.

 

Habaek melamun sepanjang jalan, memikirkan ucapan Bi Ryeom tadi dan ucapan Hoo Ye yang bertekad mendapatkan Habaek. Di tengah jalan, dia melihat seorang kakek pengumpul kardus, tengah mendorong gerobaknya yang berat.

Awalnya Habaek acuh, tapi lama-lama dia kasihan dan akhirnya dia membantu Kakek mendorong gerobaknya. Malah kemudian dia menggantikan Kakek menarik gerobaknya sementara Kakek mencari kardus-kardus di berbagai tempat sampah. Saat melihat Kakek mengangkat kardus-kardus yang berat, Habaek langsung turun tangan membantunya.


Mereka akhirnya sampai ke tempat pembuangan sampah. Kakek mendapatkan beberapa lembar uang dan membaginya sedikit untuk Habaek. Dia kan juga sudah bekerja keras, jadi dia harus mendapat upah.

Kakek yakin kalau ini pasti pertama kalinya Habaek bekerja dan membuat uangnya sendiri. Kakek memberitahunya bahwa orang-orang biasanya menggunakan gaji pertama mereka untuk membelikan orang tua mereka pakaian dalam. Tapi sepertinya Habaek tak punya orang tua.

"Berusahalah yang terbaik. Dengan begitu, sesuatu akan jatuh ke tanganmu."


Dalam perjalanan kembali, Habaek melewati pedagang kaki lima yang menjajakan boneka dan sepasang mug cantik. Teringat mug-nya So Ah yang sudah cacat, Habaek ingin membeli mugnya. Dia menyodorkan semua uangnya, tapi penjual berkata kalau itu tidak cukup.


Melihat beberapa foto model yang terpajang di sana. Habaek punya ide menawarkan dirinya jadi model. Jadilah dia berpose ganteng mempromosikan mug itu dan mendapatkan sepasang mug itu sebagai bayarannya.


Berkat Ma Bong Yeol, kliniknya So Ah tiba-tiba kebanjiran pasien-pasien baru. Kebanyakan dari mereka malah teman-temannya Ma Bong Yeol. Sang Yoo yakin kalau mereka bakalan bisa membayar sewa bulan ini. So Ah lalu ditelepon Habaek.

Habaek sudah menunggu di sebuah coffee shop dan melihat orang-orang memesan berbagai macam minuman di kasir. So Ah datang tak lama kemudian, geli melihat Habaek celingukan seperti anak kecil yang sedang penasaran. Tapi senyumnya mulai menghilang saat dia mulai terpesona melihat Habaek.


Dia tetap berusaha bersikap normal saat dia masuk dan membelikan kopi untuk Habaek. Tapi Habaek malah protes melihat air hitam yang dibelikan So Ah, orang-orang yang lain minum air yang warnanya cerah.

Tapi setelah dia mencoba meminumnya, dia mendapati rasanya lumayan juga. ada rasa pahit, asam dan manis juga. Mendengar Habaek mengoceh, So Ah jadi yakin ada sesuatu yang ingin Habaek katakan. Katakan saja.

Habaek menjawabnya dengan menyodorkan sepasang mugnya ke So Ah. So Ah senang, apa ini hadiah? habaek mengingatkan bahwa memakai cangkir cacat itu sial. "Tidak perlu merasa tersentuh. Aku membeli itu untuk mengingatkanmu akan tempatmu."


Habaek memperlihatkan gambar kartun mug itu. Seorang pria dan anjingnya. Dialah si majikan dan So Ah adalah anjingnya dan dia menamai di anjing 'Yong Yong'. "Setiap kali kau melihat ini, jangan lupa kalau kau adalah hambaku."

So Ah membalik mug itu dan langsung ketawa ngakak. Karena di bagian belakang malah ada gambar seorang perempuan dan anjingnya. "Lalu ini apa? Apa kau akan jadi hambaku juga? Yong Yong-ah. Yong Yong-ah."

Habaek ngambek dan berniat mengambil mugnya kembali. So Ah sontak merebutnya, ini miliknya. Sudah dikasih jadi jangan diambil lagi.


Tapi dari mana Habaek dapat uang untuk membeli mug itu? Apa Soo Ri memberinya uang? Tidak, Habaek melakukan hal yang namanya 'kerja paruh waktu', dua pekerjaan. So Ah kaget, dia kerja apa.

Habaek dengan bangga memperlihatkan fotonya saat dia mengangkati kardus-kardus bekas dan foto-foto hasil modelingnya. Apa So Ah merasa tersentuh? So Ah mengangguk, sangat tersentuh. Dan foto boneka yang dipegang Habaek itu imut. Habaek sontak jalan duluan, mungkin dia kira kalau So Ah menginginkan boneka itu juga jadi dia kabur.

"Kenapa? Aku kan cuma bilang itu imut. Apa aku tidak boleh bilang kalau itu imut? Yong-Yong-ah, hati-hati dengan mug-ku."


Malam harinya, Sang Yoo menggerutu karena dia mau pulang tapi Hoo Ye belum datang juga, dia kan ada janji dengan Hyung Sik. So Ah menyuruhnya pulang duluan saja. Jadilah So Ah sendirian menunggu Hoo Ye yang tak kunjung tiba.

Hoo Ye sepertinya sudah lupa dengan janji konselingnya. Kejadian hari ini membuatnya muram. Apalagi saat dia teringat ancaman Bi Ryeom dan kebencian Bi Ryeom padanya. Dan sekarang Hoo Ye melampiaskannya dengan minum-minum.

Dia bahkan tidak menyadari ponselnya yang menyala saat So Ah meneleponnya. Seorang wanita mencoba mendekatinya, tapi Hoo Ye menolak dia temani. Wanita itu mengingatkannya kalau ponselnya bunyi dan saat itulah Hoo Ye baru menyadarinya dan baru ingat saat So Ah mengingatkannya akan janji konselingnya hari ini.

So Ah menyarankan jadwal ulang saja kalau Hoo Ye tidak bisa datang. Tapi Hoo Ye berkata kalau dia akan ke sana sekarang. So ah jadi cemas, apa Hoo Ye sedang sakit.


Habaek asyik baca buku dan mengacuhkan pertanyaan Soo Ri tentang kapan dia akan kembali ke Negeri Air. Tapi saat Soo Ri berkata tentang So Ah yang sepertinya akan pulang telat, Habaek mulai cemas dan langsung menelepon So Ah.

So Ah berkata kalau dia belum bisa tutup karena ada pasien yang terlambat. Tepat saat itu juga, Hoo Ye datang dengan langkah terhuyung. So Ah memanggilnya CEO Shin lalu buru-buru mematikan teleponnya.

Habaek sontak cemas menyadari CEO Shin yang dimaksud So Ah adalah Hoo Ye dan langsung meminta uang pada Soo Ri.


So Ah cemas mendapati Hoo Ye bukan cuma mabuk tapi juga demam. Dia bingung harus bagaimana, tidak mungkin diberi obat karena dia mabuk. Dia mencoba membangunkannya tapi Hoo Ye tidak bangun.

Akhirnya dia melepaskan jasnya Hoo Ye dan mencoba menyeka wajah dan lengannya dengan air, tapi demamnya tetap tidak menurun. Petir menggelegar saat Hoo Ye gelisah dalam tidurnya karena bermimpi buruk, memimpikan Habaek mengkonfrontasinya dan mengatainya monster lalu melepas kemejanya dengan paksa hingga tanda bercahaya di dadanya terlihat.


Pada saat yang bersamaan, So Ah semakin cemas melihat kondisinya dan berinisiatif untuk melepaskan dasi dan kancing kemejanya Hoo Ye, sama persis yang dilakukan Habaek dalam mimpinya.
 
Ketakutan itu kontan menyadarkannya. Refleks, dia mencengkeram tangan So Ah dengan tangannya yang dipenuhi aura hitam. Wajahnya benar-benar menakutkan, apalagi dia membayangkan So Ah sebagai Habaek.


Tapi kemudian So Ah memanggilnya dan seketika itu pula Hoo Ye tersadar dan meminta maaf pada So Ah. Tapi yang paling So Ah membuat tercengang adalah saat dia melihat luka di tangan Hoo Ye yang tiba-tiba sembuh dengan sendirinya. Tepat saat itu juga, Habaek datang dan mendelik marah melihat apa yang dilakukan Hoo Ye pada So Ah.

Bersambung ke episode 11

1 comments:

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon