Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Bride of the Water God Episode 12 - 1


Moo Ra menceritakan kisah leluhur So Ah. Dulu, ada seorang manusia bernama Nak Bin, dia manusia yang dikorbankan pada mereka, para dewa. Suatu tindakan bodoh yang dilakukan oleh manusia. Dan Habaek yang jatuh cinta pada manusia korban itu, jauh lebih bodoh dari manusia.

Raja Negeri Langit bermimpi ingin menciptakan hirarki baru di Alam Dewa. Dia pikir dia bisa melakukannya dengan cara mencuri kekuatan Habaek. Maka Raja Negeri Langit membisiki Nak Bin tentang kehidupan abadi hingga Nak Bin mengkhianati Habaek.

Bersama Bi Ryeom, Habaek memasuki sebuah gua di mana Nak Bin ditahan dan memberitahu Nak Bin bahwa Suh Wang Mo (Ibu Negeri Air) akan membunuhnya. Dia akan mematahkan kutukan Nak Bin dengan menggunakan darah Nak Bin sendiri.


Nak Bin akan mendapatkan kehidupan abadinya, beserta kematiannya. Dia tidak akan pernah mencapai nirwana dan tidak akan diizinkan bereinkarnasi. Nak Bin ketakutan, berusaha memohon pada Habaek untuk menyelamatkannya.

Tapi Habaek menegaskan, "Aku tidak akan memaafkanmu. Aku datang untuk mengatakan itu padamu."

Nak Bin semakin panik, dia sungguh tak tahu kalau itu adalah kutukan. Dia melakukannya karena dia mencintai Habaek, karena dia ingin hidup bersama Habaek selamanya. Tapi Habaek langsung berpaling pergi tanpa mempedulikan apapun lagi walaupun dia tampak begitu sedih.


Pada hari eksekusi, Nak Bin dikeluarkan dari gua tahanannya. Dia diseret ke pantai di mana Suh Wang Mo dan Bi Ryeom sudah menunggu. Genderang ditabuh dan langit yang cerah berubah mendung seketika.

Nak Bin langsung diseret ke tepi laut. Dengan menggunakan kekuatannya, Suh Wang Mo membuat kaki Nak Bin berjalan dengan sendirinya ke tengah laut. Nak Bin semakin ketakutan dan berusaha memanggil-manggil Habaek tanpa hasil. Dia terus berjalan ke tengah laut hingga air menelannya.



Moo Ra menemani Habaek yang merenung sedih di taman, teringat semua kenangan indahnya bersama Nak Bin di sana. Dia teringat saat Nak Bin mengagumi bunga-bunga di sana. Habaek memetik bunga itu. Lalu tak lama kemudian, bunga itu mengambang di atas laut, tempat kematian Nak Bin.


Akan tetapi, Moo Ra berkata bahwa kemarahan Suh Wang Mo tidak reda hanya dengan kematian Nak Bin dan menginginkan saudaranya Nak Bin beserta putranya, membayar kesalahan Nak Bin. Karena itulah, Bi Ryeom mendatangi si pelaut dan putranya yang sedang memancing untuk dibawa ke hadapan Suh Wang Mo.

Demi menyelamatkan nyawanya dan putranya, Kakak Nak Bin pun menjanjikan dirinya dan semua keturunannya untuk menjadi hamba dewa.


So Ah nyinyir mendengar cerita itu. Terus apa hubungannya dengannya? Bahkan sekalipun leluhurnya 1000 tahun yang lalu mengkhianati negara atau membunuh seseorang, hubungannya dengannya apa?

Apa Moo Ra menginginkannya untuk merasa bersalah atas kesalahan yang dilakukan leluhurnya dulu? Tapi rasa bersalah adalah sesuatu yang dirasakan seseorang jika dia benar-benar membuat kesalahan, tapi kisah leluhurnya itu sama sekali tidak membuatnya merasa bersalah.

"Kudengar kau bodoh. Tapi ternyata kau sungguh tidak mengerti maksudku, yah?"


Bi Ryeom dan Habaek sama-sama gelisah di tempat masing-masing. So Ah akhirnya pulang tak lama kemudian. Habaek langsung tegang. Dia hendak membahas tentang apapun yang dikatakan Moo Ra, tapi So Ah menyelanya dengan santai dan cepat-cepat mengalihkan topik membahas makan malam.

Habaek jadi semakin cemas. Apa yang sudah dikatakan Moo Ra tadi? So Ah santai, bukan apa-apa kok, cuma tentang kehidupan cinta masa lalunya Habaek. Tidak menarik juga.

Tentang seorang wanita bernama Nak Bin yang sangat Habaek cintai tapi malah mengkhianati Habaek dan dihukum karenanya, lalu kakaknya membuat janji tidak masuk akal untuk para dewa dan orang itu adalah leluhurnya.


"Tapi orang itu kan hidup 1200 tahun yang lalu, dan bukannya 120 tahun yang lalu. Jadi kalau sekarang aku disalahkan karena itu kan namanya kelewatan, iya kan?"

"Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?"

"Kembalilah... ke tempat kau seharusnya berada. Kembalilah ke sana. Tolong tinggalkan rumah ini secepat mungkin."

"Aku yang akan menentukan kapan aku akan pergi!" Kesal Habaek.


Dia hendak pergi, tapi So Ah langsung membahas bagaimana dulu Habaek yang bahkan tidak melakukan apapun saat Nak Bin, wanita yang dicintainya, mati. Habaek langsung mengepalkan tangannya penuh emosi mendengar sindiran So Ah. Tapi begitu dia pergi, So Ah menangis diam-diam.

Flashback.


So Ah bersikap sedingin itu pada Habaek sebenarnya karena Moo Ra menuntutnya untuk meyakinkan Habaek untuk kembali dengan cara apapun. Moo Ra sama sekali tidak menginginkan So Ah untuk merasa bersalah. Dia ingin So Ah melepaskan Habaek, dia yakin kalau So Ah mampu melakukan itu.

"Aku hampir gila karena marah. Tapi aku mengakui... kalau si brengs*k itu sungguh-sungguh mencintaimu."

Habaek sekarang goyah karena perasaannya itu. Habaek akan segera menjadi raja semua Negeri Air dan semua Negeri Air akan segera menjadi Habaek. Jika Habaek tidak menjadi raja maka dia tidak berharga. Karena itulah dia harus segera kembali.

So Ah harus membuatnya kembali sebelum Habaek tertelan oleh perasaannya. Buat dia kembali selama dia masih bisa menanggung rasa kehilangan. Moo Ra tidak mau melihat Habaek menghancurkan dirinya sendiri seperti saat Nak Bin mati dulu.

"Kumohon. Jangan memikatnya seperti yang dilakukan Nak Bin."

Flashback end.


Bi Ryeom gelisah di depan kamarnya Moo Ra. Saat dia membuka pintunya, dia mendapati Moo Ra berdiri membelakanginya. Sedih namun tidak bisa melakukan segala hal yang dilakukan manusia saat sedang sedih. Di saat seperti ini, dia ingin sekali bisa menangis atau mabuk seperti manusia.

"Aku sangat marah sampai mau gila rasanya. Aku memberitahunya kalau (Habaek) mencintainya. Kenapa hanya ini satu-satunya cara untuk membuatnya kembali?"


Jika Moo Ra sudah mencapai apa yang diinginkannya maka dia tidak perlu marah atau sedih. Bi Ryeom izin memeluknya lalu melingkarkan lengannya memeluk Moo Ra. Jika Moo Ra mengizinkan maka Bi Ryeom akan menghajar Habaek sampai dia setengah mati.

"Coba saja kalau kau berani."


Habaek dan So Ah tak bisa tidur malam itu, sama-sama bersedih di tempat masing-masing. Keesokan harinya, Habaek berusaha menahan air matanya menatap pintu lotengnya.


Dia cepat-cepat keluar dan membangunkan Soo Ri, apa Soo Ri kecewa karena dia melakukan kerja paruh waktu demi membelikan hadiah untuk hamba dewa. Soo Ri mengakuinya, dia sangat kecewa.

"Maaf. Aku tahu kau kerja di persewaan perahu bebek siang hari dan bekerja jadi pengantar ayam di malam hari semuanya demi memberiku sandang pangan."

Habaek mengakui yang yang dikerjakannya seharian cuma memandikan tubuhnya yang sempurna dan menerima segala hal secara gratis dari Soo Ri. Soo Ri sontak berlutut ketakutan.

"Kau tidak mengira aku akan mengatakan hal seperti ini, kan?"

"Tidak."

"Baguslah kalau kau sadar. Sekarang turunlah ke hamba dewa itu dan katakan padanya kalau kita mau sarapan."


Selama makan, Soo Ri menyadari keanehan diantara Habaek dan So Ah. Setelah selesai, Habaek menyerahkan ponselnya dan Soo Ri pada So Ah dan meminta So Ah untuk mengurusnya. Dia juga meminta So Ah untuk menelepon bos tempat kerjanya Soo Ri dan segala sesuatu miliknya di sini.

"Pastikan kau pulang lebih cepat setiap malam," pesan Habaek. "Kudengar ada sesuatu yang bisa membuat lampu depanmu menyala otomatis saat gelap. Gantilah lampu depanmu dengan lampu otomatis itu."

Dia juga berpesan agar So Ah tidak makan ramen terus, masaklah makanan yang lebih layak untuk dirinya sendiri biarpun rasanya tidak enak. Dan sering-seringlah membersihkan rumah walaupun susah.


Habaek dengar dia bisa melaporkan sesuatu yang bernama 'keluhan warga' jika lampu jalan rusak. Jangan berjalan di tempat gelap biarpun menyusahkan dan laporkan. So Ah kan suka melaporkan sesuatu.

So Ah berkaca-kaca mendengar semua pesan perpisahan itu. Setelah Soo Ri pergi, Habaek mengaku kalau kali ini dia tidak bisa mengetahui apakah So Ah berbohong atau tidak. Dia menyadari So Ah sangat ingin dia dia pergi.


"Karena aku dewamu, kenapa aku sombong dan bilang kalau aku akan melindungimu? Memalukan. Kenapa aku menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kupenuhi? Aku menyesalinya. Aku ingin bertanya padamu apakah aku boleh pergi dan apakah tidak masalah? Aku ingin menanyakan itu. Tapi kurasa tidak masalah lagipula tidak banyak yang kulakukan untukmu."

"Tidak masalah. Kau tidak benar-benar pernah melakukan sesuatu untukku. Aku bahkan tidak akan sadar kalau kau pergi. Tidak masalah biarpun agak sepi nantinya di sini. Aku sudah bilang kan, aku akan baik-baik saja."

Habaek langsung beranjak bangkit dan menyatakan mau pergi sekarang. So Ah menawarkan untuk mengantarkan Habaek ke Gangwon-do, tapi Habaek menolak. "Kita berpisah di sini saja."


Air mata So Ah langsung mengalir begitu Habaek pergi. Bi Ryeom ada di sana saat Habaek keluar. Soo Ri buru-buru menyusul Habaek. Bi Ryeom tak segera menyusul, sejenak dia terdiam memperhatikan kesedihan So Ah. Setelah mereka semua pergi, So Ah menengadah, menatap langit yang cerah.


Habaek dan Soo Ri tiba di gerbang dewa. Saat Habaek hendak melewatinya, tiba-tiba dia mendengar suara So Ah yang mengucap selamat tinggal. Dia berpaling untuk melihat tempat itu sebelum akhirnya dia berjalan melewati gerbang itu dan kembali ke Negeri Air.


Ja Ya mendapat tawaran syuting. Sebenarnya dia ragu melakukannya karena dia disuruh mancing naik kapal, tapi tetap dia terima juga. Sekretaris Min datang saat itu dan menyarankan Ja Ya untuk menolaknya saja kalau tidak mau.

Ja Ya tidak mau, dia bukan seorang bintang besar yang bisa pilih-pilih pekerjaan. Sekretaris Min langsung saja merebut ponselnya Ja Ya untuk membatalkan Ja Ya dari acara itu.


Moo Ra monyong mau latihan mencium boneka besar itu. Tapi bonekanya bergerak-gerak terus sampai Moo Ra kesal dan menampar si boneka.

"Kenapa? Tidak berhasil? Apa kau mau kucarikan manekin?" Goda Bi Ryeom. Moo Ra kesal dan mau pergi. Tapi kemudian, Bi Ryeom menawarkan manekin yang mirip Brad Pitt. Jelas itu langsung menarik perhatian Moo Ra, memangnya ada sesuatu seperti itu?

Ada, Moo Ra kan sangat peduli dengan penampilan. Mungkin dia tidak bisa mencium karena pria itu bukan tipenya. Kalau begitu, Moo Ra mengusulkan untuk mencari yang baru saja. Tapi Bi Ryeom malah mendengus geli mendengarnya dan mengingatkan Moo Ra bahwa masalah utamanya adalah pada Moo Ra sendiri.


Seharusnya Moo Ra membuat mereka mencintai Moo Ra, tapi mereka malah takut pada Moo Ra. Moo ra sontak kesal dan mau mengancam Bi Ryeom. Tapi tiba-tiba saja Bi Ryeom menarik Moo Ra mendekat kepadanya hingga Moo Ra jadi gugup karenanya.

Bi Ryeom dengan santainya mengingatkan Moo Ra bahwa jika aktor hendak mencium Moo Ra tapi mendengar Moo Ra mengancam akan membekukan dan menghancurkan lidahnya, apa mungkin aktor itu akan mau mencium Moo Ra?

Moo Ra tergagap mau protes, tapi Bi Ryeom menarik Moo Ra semakin dekat. Moo Ra jadi semakin gugup. Bi Ryeom tersenyum melihatnya, yah seperti inilah suasana yang tepat untuk berciuman.


Moo Ra cepat-cepat menguasai dirinya dan mendorong Bi Ryeom dengan kesal. Bi Ryeom geli, kasih tahu dia kapanpun Moo Ra membutuhkan seseorang untuk latihan ciuman. Dia lebih baik daripada manekin.

Teleponnya berbunyi saat itu dan apapun orang di seberang, membuat Moo Ra jadi tambah kesal. Bi Ryeom menduga kalau mereka sudah menjadwal adegan ciuman. Sebaiknya Moo Ra bayar saja denda pembatalan kontrak dan selesai.

Biasanya manusia seperti itu. Saat harga diri mereka hancur, mereka tidak mau terima uang. Seperti So Ah. Dia mengembalikan mobilnya setelah Habaek pergi.


So Ah punya pasien baru, seorang anak kecil yang aktifnya minta ampun sampai kantornya amburadul, tapi So Ah malah senang-senang saja bermain dengannya. Sang Yoo sampai heran melihat sikap So Ah.

Sang Yoo punya kabar baik, Ayahnya Ma Bong Yeol akan membantu mereka terkait pinjaman bank mereka. So Ah benar-benar senang, sepertinya segala hal berjalan baik belakangan ini. Dia juga punya banyak pasien sekarang. Sang Yoo heran, pasien baru mereka kan cuma satu. Kenapa So Ah malah senang banget.


Yeom Mi tiba-tiba menerobos masuk ke kantornya. Soalnya dia dengar dari Ji Won kalau So Ah minta kencan buta. So Ah sontak menggerutui Ji Won, dia kan sudah minta dirahasiakan. Ah, tidak. Memang dia sendiri kok yang minta Ji Won ngasih tahu. So Ah mendadak ketawa gaje yang jelas membuat Yeom Mi dan Sang Yoo keheranan.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon