Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Bride of the Water God Episode 12 - 2


So Ah dan Yeom Mi lalu pergi ke coffee shop. Yeom Mi menatap So Ah dengan cemas. So Ah terus saja nyerocos tentang alasannya kencan buta. Dia mengklaim kalau dia dia masih ada rasa yang tertinggal setelah kepergian Habaek, ternyata dia salah. Tahu gini dia bakalan mengencani Habaek dengan serius.

Dia bahkan membandingkan hidupnya seperti genre drama kriminal di mana para pemainnya sangat sibuk dengan masalah mereka hingga tidak ada waktu itu untuk memikirkan melodrama. Apa Yeom Mi mengerti maksudnya?

Yeom Mi langsung menggebrak meja dengan kesal, "Aku mengerti apa yang kau katakan!!! Aku mendukung putusnya hubungan kalian."

Tapi menurut Yeom Mi, sikap So Ah ini tidak lebih baik daripada menangisinya padahal So Ah selalu membual kalau dia yang terbaik dalam mengendalikan dirinya. Tak nyaman dengan percakapan ini, So Ah buru-buru kembali ke klinik.

"Dewa itu kejam sekali. Kalau tahu begini, akan kuhajar dia!" Gerutu Yeom Mi.


Di klinik, Sang Yoo memberikan secangkir kopi untuk Hoo Ye. Tapi setiap kali Hoo Ye hendak meminumnya, Sang Yoo terus saja nyerocos mengganggunya.

Yakin Hoo Ye ada perasaan pada So Ah, Sang Yoo meyakinkan Hoo Ye untuk tidak mencemaskannya. Dia akan menjalani hidupnya sendiri setelah So Ah mendapatkan pelindung yang bisa diandalkan.

Dia juga memberitahu Hoo Ye tentang masa lalu So Ah. Bagaimana dulu dia diabaikan orang tuanya sendiri demi mengurus anak-anak jalanan sepertinya dan bagaimana dulu So Ah dibuli dan dikatai baunya kayak pengemis karena dia hidup bersama anak-anak jalanan.

Hoo Ye canggung mendengar semua kisah itu. Dia hendak meminum kopinya, tapi Sang Yoo terus saja nyerocos meminta Hoo Ye untuk memperlakukan So Ah dengan baik biar dia tidak kepikiran untuk melakukan kencan buta. Hoo Ye terkejut mendengarnya.


So Ah kembali tak lama kemudian. So Ah meminta maaf atas kejadian malam itu. Hoo Ye pun meminta maaf, So Ah pasti sangat kaget waktu itu. So Ah tanya apakah Hoo Ye bermimpi buruk.

Hoo Ye membenarkannya. So Ah mengingatkannya untuk mencoba fokus saja pada hal lainnya. Tapi karena sepertinya tidak mudah bagi Hoo Ye, So Ah mengusulkan melakukan hal lain. Hoo Ye bilang kalau dia mengalami sesuatu yang mengingatkannya akan masa lalunya, bisakah Hoo Ye ceritakan tentang hal itu?


Hoo Ye ragu sesaat, tapi kemudian dia mengaku bahwa dia bertemu orang-orang yang tidak ingin dia temui. Orang-orang yang ingin memerangkapnya di masa lalu, orang-orang yang mengkritiknya dan mengingatkannya tentang dirinya di masa lalu.

"Tidak seorangpun yang seharusnya mengkritikmu atas masa lalumu yang sedih. Karena tak ada seorangpun yang bisa memilih di mana dan kapan mereka terlahir."

Dia meminta Hoo Ye bercerita lebih banyak. Tapi Hoo Ye langsung terdiam ragu. Menyadari Hoo Ye masih sulit menceritakan tentang dirinya, So Ah pun mengakhiri sesi konsultasi hari ini. Tidak masalah, mereka bisa pelan-pelan.

"Tapi CEO Shin, kau harus lebih mempercayaiku."

Mendengar itu, Hoo Ye mengajak So Ah untuk makan malam bersamanya hari ini. So Ah menolak, dia tidak makan malam secara pribadi dengan pasiennya. Tapi Hoo Ye meyakinkan kalau ini cuma makan malam biasa. Lagipula mereka berdua tak punya teman makan, kan.


Di restoran, Hoo Ye berkata kalau dia masih sedikit marah. Kenapa So Ah ngotot menolak saat dia meminta So Ah makan malam dengannya tadi? Apa So Ah tahu bagaimana manusia menjalin pertemanan?

Hoo Ye menyebutkan segala hal yang dia ketahui tentang So Ah. Dia tahu segala hal tentang So Ah sama seperti So Ah tahu banyak hal tentangnya. So Ah bahkan menhiburnya dan memberinya arahan. Jadi, bagaimana cara manusia menjalin pertemanan?

"Apa kau minta kita jadi teman?"

"Bukankah itu cukup masuk akal? Aku kaya, bijak, sopan, pintar, tampan, aku menanam pepohonan dan aku hebat. Ah, harga diriku hampir terluka. Aku bahkan tidak memintamu menikah denganku, tapi hanya jadi teman. Aku perlu menyebutkan semua kualifikasiku?"


Moo Ra dan Bi Ryeom kebetulan datang ke restoran yang sama untuk makan malam biarpun mereka sebenarnya tidak lapar. Tapi begitu masuk, mereka malah melihat Hoo Ye dan So Ah berjabat tangan.

Bi Ryeom sontak tersulut emosi. Tapi Moo Ra cepat menghentikannya. Dia jadi tidak mood gara-gara itu. Dia langsung pergi dan menyuruh Jin Gun untuk mengantarkan Moo Ra pulang.


Moo Ra mencoba menginterogasi Jin Gun, apa yang sebenarnya dia ketahui tentang Bi Ryeom dan kenapa dia bersikap seperti itu. Tapi Jin Gun tetap tutup mulut.


Setelah makan malam, Hoo Ye mengantarkan So Ah pulang jalan kaki. Dia mengklaim kalau dia masih marah 0,1%. Dia juga orang yang pilih-pilih, dia tidak meminta sembarang orang untuk jadi temannya.

So Ah mengingatkan bahwa sebagai teman, Hoo Ye masih belum mempercayainya. Apa penjelasan Hoo Ye tentang konsultasi mereka yang belum ada perkembangan sampai sekarang? Apa dia sungguh tidak bisa dipercaya?

Hoo Ye tak enak hati mendengarnya. So Ah tak masalah, dia tidak akan memaksa Hoo Ye kok. Dia akan berusaha lebih keras lagi.


Di tengah jalan, mereka melewati pedagang jalanan yang menjual boneka dinosaurus yang pernah dipeluk Habaek di salah satu foto modelingnya. Moo Ra termangu menatap boneka yang membuatnya teringat pada Habaek.

Mengikuti arah pandang So Ah, Hoo Ye langsung saja berniat membelikan boneka itu. Tapi So Ah langsung menyela dan berniat membayarnya sendiri. Hoo Ye ingin membelikannya sebagai hadiah pertemanan mereka. Tapi So Ah menolak, dia terlalu tua untuk menerima hadiah sebuah boneka.

Hoo Ye menyerah. Sementara So Ah membayar bonekanya, dia menerima telepon penting. Hoo Ye meminta maaf karena tidak bisa mengantar So Ah, ada masalah di hotel. So Ah pun berjalan pulang sendiri ke rumahnya yang sekarang gelap dan sepi.


Dia lalu menempatkan bonek itu di meja dan membuat minuman di cangkir pemberian Habaek dan mengusap bibir cangkirnya dengan sedih. Dia naik ke loteng, termenung menatap tempat kosong yang penuh dengan kenangan itu.


Di sofa, So Ah melihat buku puisi yang pernah Habaek bacakan untuknya waktu itu. So Ah membaca buku itu sembari membatin.

"Aku membaca buku yang pernah kau lafalkan. Aku duduk di kursi yang kau duduki. Aku menutup mataku agar aku bisa merasakan kehangatanmu. Aku bahkan menyentuh tepian cangkirmu dengan ujung jariku."

Cinta yang ajaib namun tragis.
Aku tak ingin itu hanya sebuah kebetulan.
Bahwa aku bisa berdiri tepat di hadapanmu.
Karena itulah yang bisa kulakukan adalah melakukan yang terbaik...


So Ah pun membaca kelanjutan puisi yang tak sempat Habaek bacakan waktu itu.

...untuk mencintaimu.
Sekarang ini, aku dalam proses untuk melewati cintamu.

So Ah tak kuasa lagi menahan air matanya hingga menetes di atas buku itu.


Keesokan harinya di klinik, So Ah frustasi menghadapi seorang pasien yang ngotot minta resep obat. So Ah tampak lelah setelah itu. Sang Yoo memberitahu kalau jadwalnya sore ini hanya Ma Bong Yeol. So Ah lalu kembali ke ruangannya sambil mendesah frustasi.

"Kau kira kau baik-baik saja. Tapi kelihatannya tidak begitu." Terdengar suara Habaek.

Saat So Ah menengadah, dia melihat bayangan Habaek duduk di kursi pasiennya dan mengkritiki So Ah yang sekarang ini kelihatan seperti mabuk berat dan tidak bisa bangkit lagi.

"Mana mungkin. Aku yang mencampakkanmu." Sangkal So Ah.


"Iya. Tapi bukankah rasanya seperti kau yang dicampakkan? Apa kau tidak akan mengutukiku karena tidak membaca kebohonganmu dengan benar? Apa kau mengerti sekarang? Tidak ada tindakan yang bisa membuat semua orang tidak terluka. Sama seperti orang yang baik pada semua orang... adalah orang yang paling buruk."

Orang-orang yang hidup hari ini seolah ini adalah hari terakhir mereka, secara insting tahu bahwa mereka harus bergantung pada hari ini demi memiliki hari esok. Bahkan sekalipun esok tidak seperti hari ini, mereka tidak akan takut. Mereka orang-orang yang percaya bahwa mereka bisa menghabiskan sisa umur mereka dengan kenangan hari ini.

"Daripada orang-orang yang mencari cara yang tidak menyakiti orang lain, bukankah ini lebih baik?"

"Kau bahkan bukan manusia." Gerutu So Ah. Bayangan Habaek pun seketika menghilang.


Yeom Mi sedang membaca buku saat So Ah tiba-tiba muncul dalam keadaan basah kuyup. So Ah tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi entah kenapa dia tidak bisa bersuara. Lalu tak lama kemudian, tampak kaki pria melangkah masuk dalam keadaan basah kuyup juga.

Tapi semua itu ternyata cuma mimpi. Kesal karena So Ah masih belum melupakan si hantu air itu, dia langsung menelepon So Ah dan menyuruh So Ah datang.


Moo Ra mendatangi Hoo Ye dan memberitahunya kalau Habaek sudah kembali dan to the point menyuruh Hoo Ye untuk mendapatkan So Ah, Hoo Ye boleh memilikinya. Moo Ra kesal memikirkan So Ah, mereka tidak membutuhkannya dan tidak punya hubungan apapun dengannya. Menyebalkan!

Moo Ra menegaskan kalau dia melakukan ini bukan karena dia ingin dewi yang baik ataupun karena dia ingin bertanggung jawab. Percaya atau tidak, dia meyakini kalau manusia tidak seharusnya menderita karena dewa. Jadi...

"Jadi seharusnya aku bukannya memilikinya, melainkan membuatnya bahagia. Bukankah itu lebih tepat?"

"Bagaimana caranya, buat dia melupakan Habaek."

Dan pastikan Hoo Ye menikahinya dan tinggal di sisinya sampai dia mati. Pastikan tak ada pria lain yang dekat-dekat dengan wanita itu. Dengan begitulah mereka akan bisa memutuskan So Ah sebagai hamba dewa.

"Hubungan ini harus diputuskan demi kebaikan wanita itu. Kau bantulah wanita itu."
 

Ja Ya lagi-lagi memanggil Sekretaris Min dan mencoba menawarkan gaji dobel agar Sekretaris Min mau bekerja jadi managernya. Tapi Sekretaris Min menolak tegas. Dia mau pergi, tapi Ja Ya mencegahnya dan meminta Sekretaris Min untuk mengajarinya lagi.

Sekretaris Min tanya, apa Ja Ya sungguh menginginkan sarannya secara formal dan serius? Jika iya maka Ja Ya harus melakukan sesuatu dulu. "Panggil aku 'Oppa'."

Ja Ya jelas keberatan. Tidak mau? Kalau begitu, lupakan saja. Sekretaris Min pun beranjak pergi. Panik, Ja Ya akhirnya menyerah dan memanggilnya "Oppa! Baiklah, aku akan memanggilmu begitu."

Sekretaris Min akhirnya mau berbalik. Apa yang mau Ja Ya tanyakan? Tentang waktu itu, tentang kenapa Hoo Ye memeluknya dari belakang. Sekretaris Min santai memberitahunya sebuah informasi, mantan teman sekelasnya Ja Ya yaitu Yoon So Ah, sekarang memiliki hati Hoo Ye. Jadi mendingan Ja Ya sadar diri.


Emosi, Ja Ya langsung menelepon kakeknya dan mengancam Ketua Shin untuk mengusir Ja Ya pergi dari sana atau dia akan meninggalkan Ketua Shin seorang diri dan pindah ke Amerika.


So Ah tiba di tempatnya Yeom Mi tak lama kemudian. Yeom Mi menyuruh So Ah untuk menyebutkan tanggal lahirnya biar dia bisa melihat peruntungan So Ah. Dia tidak tenang karena So Ah terus muncul dalam mimpinya. So Ah hendak bilang tapi dia ditelepon Sang Yoo saat itu dan suaranya kedengaran panik.


Mereka bergegas kembali ke klinik, tapi malah mendapati Sang Yoo sedang berjuang melawan para anak buahnya Ketua Shin yang mengusir dan mengepaki barang-barang mereka secara paksa.

Sambil menirukan gayanya Ketua Shin, Kepala Seksi Bang berkata kalau Ketua Shin mengusir mereka dengan alasan mereka belum bayar sewa dan juga karena pengaruh cucu Ketua Shin, yaitu Shin Ja Ya.


Tepat saat itu juga, Ma Bong Yeol datang dan langsung sok pahlawan memerintahkan mereka tidak menyentuh apapun dan melindungi So Ah dengan menyeret So Ah ke belakang punggungnya.

So Ah dan Sang Yoo langsung panik berusaha menenangkan Bong Yeol, bisa bahaya kalau Bong Yeol sampai meledak. Tapi orang-orang itu tidak mendengarkan perintahnya. Bong Yeol sontak meninju orang-orang itu.

 

Bahkan setelah dia dikurung di sel kantor polisi, Bong Yeol terus ngamuk-ngamuk sampai Pak Polisi kesal sendiri padanya. So Ah berusaha menjelaskan kalau Bong Yeol pasiennya, dia yang akan mengurusnya.

Tapi Polisi bersikeras tidak mau membebaskannya sampai walinya datang. So Ah cemas, karena walinya Bong Yeol sedang ada di luar negeri saat ini.


Untunglah Hoo Ye tiba saat itu juga dan membantu membebaskan mereka semua. Yeom Mi dan Sang Yoo mengantarkan pulang Bong Yeol yang masih menggila. Melihat kondisi So Ah, Hoo Ye menawarkan tangannya untuk So Ah pegang, soalnya So Ah kelihatan seperti mau pingsan.

Hoo Ye mengaku tertawa saat dia mendapat telepon. Dia menyadari kalau So Ah tidak memiliki kenalan terlalu banyak sepertinya. Jadi kenapa So Ah sangat ragu saat dia minta untuk jadi teman?

"Bagaimana? Menyenangkan kan punya teman kaya?"

So Ah mendengus geli mendengarnya. Hoo Ye menawarkan tumpangan pulang untuknya. Tapi So Ah menolak. Dia ingin jalan kaki saja soalnya tidak terlalu jauh, sambil sekalian mencari udara segar.

"Baiklah. Tapi aku akan mengecek untuk memastikan kau pulang dengan selamat."


So Ah pun berjalan pulang pelan-pelan. Di tengah jalan, Hoo Ye meneleponnya untuk tanya apakah dia sudah sampai di rumah atau belum. So Ah menjawabnya sambil jalan, sama sekali tidak menyadari Hoo Ye membuntutinya agak jauh di belakang.

So Ah curhat tentang cucu induk semangnya. So Ah bahkan tak peduli dengannya, tapi entah kenapa Ja Ya begitu membencinya. Lalu apa rencana So Ah menyangkut masalah kliniknya? So Ah berkata kalau dia akan menemui Ketua Shin dan memohon-mohon padanya.

Hoo Ye menawarkan dirinya untuk menemani So Ah, dia cukup pintar mengancam orang. Atau haruskah dia membeli gedung itu? Dia punya banyak uang loh.


So Ah belok ke gang rumahnya, tapi seketika itu pula langkahnya langsung membeku dan ponselnya terjatuh dari tangannya. Karena di sana... Habaek sedang menyandar di tembok dan menunggunya.


Perlahan, So Ah berjalan kepadanya dengan mata berkaca-kaca sebelum kemudian berlari kedalam pelukan Habaek dan menangis di sana.

"Aku sudah bilang jangan kemaleman, kau tidak pernah dengar."

Bersambung ke episode 12

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon