Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Bride of the Water God Episode 13 - 1


So Ah menjatuhkan ponselnya saat melihat Habaek menunggunya di tempat biasa dan langsung menghambur kedalam pelukannya dan menangis di sana.

Hoo Ye yang cemas bergegas menyusulnya, tapi malah mendapati So Ah dan Habaek berpelukan. Dia cepat-cepat bersembunyi di belakang tembok.

Habaek melepaskan pelukannya untuk memperhatikan So Ah. Sepertinya dia kurusan dan ada lingkaran hitam di matanya. Habaek suka So Ah seperti ini, dia kelihatan seperti freesia di musim semi.

Menghapus air mata So Ah, Habaek mengingatkan akan peringatannya dulu. Sekali dia jatuh cinta kepadanya, maka takkan ada apapun yang bisa menyingkirkan sihir itu.


Melihat ponsel So Ah di jalan, Habaek berjalan ke sana untuk mengambilnya, tapi dia sama sekali tidak melihat Hoo Ye yang bersembunyi di dekatnya. Dia langsung kembali ke So Ah dan merangkulnya pulang.

Hoo Ye hanya bisa menatap mereka dengan sedih. Apalagi saat dia melihat So Ah juga melingkarkan lengannya merangkul pinggang Habaek.


Soo Ri terharu bisa bertemu So Ah lagi. Dia hampir saja mau memeluk So Ah, tapi tidak berani. Akhirnya So Ah yang menepuk-nepuk punggungnya, dia juga senang bisa bertemu Soo Ri kemmbali.

Sambil memberi ramen untuk Soo Ri, So Ah tanya apa yang sebenarnya terjadi. Soo Ri berkata kalau Habaek diberi tugas lain. Tugas mencari semacam arti. Dia harus menyadari sesuatu.

Soo Ri bercerita bahwa saat mereka kembali ke Negeri Air, air merah telah datang 4 kali. Habaek cukup kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Segala sesuatu di Negeri Air sangat berbeda daripada di sini.

Biasanya dia agak sensitif saat terjadi sesuatu, tapi dia diam terus seperti sedang marah. Lalu suatu hari, dia mulai jadi sangat keras kepala akan sesuatu.

Flashback.


Murid Imam Besar memberitahu Habaek bahwa Imam Besar mengunjungi Negeri Langit dan meninggalkan pesan untuk Habaek. Waktu beliau memberitahu Habaek untuk mencari tahu kenapa batu dewa ada di dunia manusia, itu bukan tugas yang diberikannya pada Habaek.

"Jadi pria tua ittu akan terus keras kepala seperti ini?" Kesal Habaek.

Jelas-jelas waktu itu, Imam Besar menyuruhnya untuk mencari tahu kenapa batu dewa ada di dunia manusia. Jelas-jelas Imam Besar menyuruhnya untuk mencari jawaban atas pertanyaannya. Tapi Murid Imam Besar menegaskan bahwa itu bukan pertanyaan.


Melihat Habaek kesal, Soo Ri langsung angkat bicara membelanya. Jelas-jelas itu pertanyaan dan kalau calon raja bilang begitu, maka itu artinya itu adalah pertanyaan.

Kenapa Imam Besar sangat keras kepala? Habaek kan bilang kalau dia mau kembali untuk mencari jawabannya. "Apa kau pernah melihat Tuan Habaek menawarkan dirinya untuk mencari sesuatu sebelumnya?"

Flashback end.


Begitulah kisahnya. Gara-gara kekeraskepalaan Habaek, Imam Besar hampir tidak mendapatkan izin dari Dewa Alam Semesta dan mengirim Habaek kemari. Soo Ri tak tahu apakah Habaek akan bisa menemukan sesuatu.

Saat So Ah naik, dia melihat Habaek sedang menatap boneka Yong Yong. So Ah sudah mau menjelaskan, tapi Habaek menyela duluan dan menggodanya.

Dia tidak tahu kalau So Ah akan menggunakan boneka untuk memuaskan kebutuhan emosionalnya. Apa yang So Ah lakukan pada boneka ini? Apa So Ah menyiksanya? Atau melakukan sesuatu yang aneh karena dia kesepian.

Malu, So Ah langsung merebut boneka itu darinya. Habaek lalu berjalan ke pintu loteng. Dia heran, kenapa So Ah lebih suka putar jalan lewat depan padahal kan lewat pintu ini lebih cepat.


Habaek membuka kembali kamar lotengnya dan mendapati tak ada satupun yang berubah. Dia nyerocos panjang lebar tentang semua pesan yang dia katakan pada So Ah sebelum dia pergi, tapi tak ada satupun yang So Ah lakukan.

So Ah berkaca-kaca menatap punggung Habaek. Tapi dia cepat-cepat berpaling saat Habaek menatapnya dan tanya apa yang ingin Habaek temukan di sini. Soo Ri bilang kalau Habaek diberikan tugas baru, yaitu menemukan alasan kenapa batu dewa ada di dunia manusia.

Habaek langsung memeluknya dari belakang. Dia sama sekali tidak peduli tentang masalah itu. Dia datang kemari karena dia tahu kalau So Ah tidak baik-baik saja. Dia tetap harus kembali. Itu tetap harus kulakukan.


"Aku datang untuk mengucap selamat tinggal dengan benar. Aku tidak mau meninggalkan penyesalan apapun. Bahkan sekalipun kita harus berpisah, aku ingin meyakinkan diriku bahwa aku cukup mencintai. Jika kau tidak siap. Jika kau tidak setuju, maka aku akan pergi."

"Demi mengucap selamat tinggal dengan benar, kau ingin cukup mencintai. Itu tidak masuk akal, tapi kedengarannya bagus. Kupikir-pikir, kurasa aku sudah sangat merendahkan hidupku sendiri. Jika aku tidak mencintai diriku sendiri, siapa yang akan mencintaiku? Seseorang pasti sangat kasihan padaku, hal sebagus ini terjadi padaku."

"Itu karena kau baik."

"Tidak, aku tidak baik."

"Kau baik."

 

Baiklah, menjadi orang baik di dunia ini tidak mudah. Pepatah mengatakan kalau orang baik akan mendapatkan pria yang baik, tapi film semacam itu tidak akan laku jaman sekarang ini.

"Aku cuma pria baik? Aku ini dewa."

"Jadi pesannya adalah 'Orang yang baik akan bertemu dewa'?"

"Apa menurutmu itu cukup?"

"Lalu apa lagi?"

"Sesuatu seperti ini." Habaek pun langsung mencium So Ah mesra.


Tanpa mereka sadari, Hoo Ye menatap rumah So Ah dengan sedih. Teringat kembali perintah Moo Ra yang menyuruhnya untuk mendapatkan So Ah dan buat dia melupakan Habaek, Hoo Ye mendesah bahwa itu bukanlah sesuatu hal yang mudah dilakukan.


So Ah terbangun keesokan paginya dan langsung mengecek kamar loteng. Tapi kamar loteng kosong, So Ah mendesah sedih. Tapi kemudian dia mendengar suara-suara dari luar. Dia langsung keluar dan mendapati Soo Ri sedang bersih-bersih dan Habaek baru selesai mandi.

Senyum So Ah langsung mengembang seketika. Soo Ri heran, kenapa So Ah keluar dari kamar itu. So Ah canggung, dia cuma sedang mencari sesuatu. So Ah cari apa? Tanya Habaek sambil mendekatinya. So Ah makin canggung, bingung harus jawab apa.

"Apa kau mencariku?" Goda Habaek sambil masuk ke kamar. So Ah langsung membeku dan Habaek diam-diam tersenyum bahagia.


Soo Ri memberitahu So Ah kalau dia akan kerja paruh waktu lagi di penyewaan perahu bebek. Habaek heran melihat So Ah masih di rumah, apa dia tidak akan ke klinik. So Ah membenarkan, kliniknya tutup sementara waktu, ada sedikit masalah.

Tapi tidak masalah kok. Dia kan hidup bersama Dewa Yang Maha Kuasa, jadi untuk apa repot-repot bekerja. Mulai sekarang, berikanlah keuntungan dari kekuatanmu yang hebat. Tapi Habaek langsung canggung. Soo Ri dengan entengnya bilang kalau Habaek tidak punya kekuatannya.

"Kekuatanmu tidak kembali? Kau bilang kalau kekuatanmu akan kembali jika kau kembali ke Alam Dewa."

Habaek membenarnya, kekuatannya memang kembali di Alam Dewa. Tapi Habaek meninggalkan kekuatannya di sana.

Flashback.


Ternyata salah satu persyaratan Habaek untuk kembali ke dunia manusia adalah dia diharuskan untuk meninggalkan kekuatannya. Imam Besar beralasan biar adil dan dia menolak bernegosiasi lagi.

Karena Habaek tidak akan menyelesaikan misinya, makanya ia melakukan tindakan pencegahan. Habaek harus kembali untuk penobatanya. Imam Besar hanya mengizinkan Habaek untuk menggunakan kekuatannya satu kali saja supaya Habaek bisa membuka Gerbang Dewa untuk kembali. Saat air merah ke-6 datang, ia akan mengirimkan kekuatannya.

Flashback end.


Begitulah kisahnya. So Ah tercengang mendengar cerita itu. Memangnya kekuatan itu semacam kotak makan siangatau semacamnya? Bagaimana bisa ditinggalkan di sana? Tapi, kenapa kekuatan Habaek menghilang saat pertama kali dulu?

"Aku tanya padanya, tapi dia hanya memberiku senyum aneh. Dia cuma bilang kalau itu bisa saja terjadi. Dia sangat tidak jelas."

"Jadi maksudmu, kau kembali dengan tangan kosong?"

Soo Ri mengoreksi, "Dengan lapar."


So Ah sontak menatapnya sinis. Habaek meyakinkannya kalau yang ada di Negeri Air tidak semuanya jahat. Dia diperbolehkan membawa sesuatu yang sangat dibutuhkan di dunia manusia. So Ah antusias, apa yang dia bawa? Apa semacam tongkat sihir yang bisa membuat emas dan perak?

"Lebih hebat daripada itu." Kata Habaek. Habaek dan Soo Ri berjejer lalu dengan pedenya menunjukkan KTP dan SIM baru yang mereka miliki.

"Sekarang aku bisa menyetir." Kata Habaek

"Sekarang aku bisa kerja secara resmi." Soo Ri senang. So Ah cuma bisa melongo kecewa.

 

Bi Ryeom melihat Moo Ra tidur dan mengangkat teleponnya. Bi Ryeom menyuruh Moo Ra untuk mengangkat telepon Tuan Kim dan menasehatinya untuk tidak terlalu menyusahkan managernya itu. Apa Moo Ra tidak kasihan padanya.

Jika hidup Tuan Kim adalah film, maka dia adalah protagonisnya dan Moo Ra adalah pemeran pembantu yang sangat kejam. Dan jangan pula bilang kalau Tuan Kim bisa mencari nafkah berkat dirinya. Jika bukan karena para staf-nya maka Moo Ra tidak akan malas-malasan seperti ini.

"Kalian semua melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh yang lain."

"Apa ada yang salah denganmu?"

"Tidak. Kurasa karena apa yang kulihat. Aku melihat manusia bicara seperti itu di TV semalam."


Moo Ra akhirnya menurutinya dan bicara pada Tuam Kim dengan nada lebih lembut. Tuan Kim meminta Moo Ra untuk menyampaikan ucapan terima kasihnya pada Bi Ryeom. Dia sungguh berterima kasih atas bantuan Bi Ryeom.

Sutradara bilang kalau dia bisa syuting adegan ciuman lagi saat Moo Ra sudah siap, dia bersedia menunggu. Moo Ra kesal mendengarnya dan langsung mematikan teleponnya.


Bi Ryeom terus nyerocos menggodai Moo Ra dan membahas apa yang didengarnya di TV kemarin, bahwa tidak ada manusia yang terlahir demi orang lain. Tapi menurut Bi Ryeom, dia ada demi Moo Ra.

"Begitu, yah? Karena itu kau menjual sema tanah dan keliling dunia selama 10 tahun?" Sinis Moo Ra.

"Aku kembali secara berkala untuk menghiburmu. Apa kau tidak suka aku pergi jauh sekian lama?"


Moo Ra sontak canggung, tentu saja tidak. Bi Ryeom tersenyum geli melihat reaksinya. Saat mereka kembali ke apartemennya Moo Ra, Bi Ryeom heran melihat Moo Ra mondar-mandir lewat cela pintu.

Moo Ra memakai lipstiknya. Dia mau latihan ciuman dengan boneka besarnya, tapi akhirnya memutuskan untuk latihan mengucap dialog ucapan selamat tinggal dulu. Tapi tiba-tiba dia mendengar suara Bi Ryeom mendengus geli.

Malu, Moo Ra mau pergi. Tapi Bi Ryeom langsung mencegahnya dan menyatakan kalau dia akan membantu Moo Ra. Dia langsung menarik Moo Ra kedalam pelukannya dan mencium mesra bibir Moo Ra.


Moo Ra begitu kaget dan cepat-cepat mendorongnya menjauh. Bibir Bi Ryeom sampai belepotan lipstik gara-gara ciuman mesra barusan. "Seperti itulah rasanya. Ingatlah perasaan itu. Denga begitu kau akan bisa melakukannya (adegan ciuman)."

Moo Ra kesal dan langsung melayangkan tangan untuk menamparnya. Tapi Bi Ryeom gesit menghindar dan menangkap tangannya. Ada apa dengan Moo Ra? Sepertinya dia lupa dengan fakta kalau dia adalah tunangan Moo Ra.


Moo Ra kesal dan memperingatkan Bi Ryeom untuk tidak mengucap kata 'tunangan' itu lagi. Loh, kan Moo Ra yang memohon-mohon padanya untuk jadi tunangannya. Apa dia berubah pikiran sekarang?

"Kapan aku bilang begitu?"

Moo Ra sendiri menyuruh Bi Ryeom untuk bilang ke Habaek kalau mereka tunangan karena Moo Ra cemburu pada gadis itu. Waktu dia bilang ke Habaek waktu itu, Habaek malah mengucap selamat untuk mereka.

Bahkan demi membantu Moo Ra, Bi Ryeom sampai harus putus dengan seorang wanita padahal wanita itu adalah wanita tercantik di Negeri Langit. Moo Ra canggung, Bi Ryeom kan tidak terlalu menyukai gadis itu. Lagipula semua orang tahu kalau dia palyboy.

"Playboy juga punya hati."


Kesal, Moo Ra mau menghajarnya lagi. Tapi lagi-lagi Bi Ryeom menangkap tangannya dengan cepat dan memeluk Moo Ra erat-erat. Moo Ra panik berusaha melepaskan diri, tapi Bi Ryeom memeluknya makin erat. Kenapa Moo Ra pura-pura tidak tahu tentang perasaannya.

Mendengar itu, Moo Ra pun berhenti melawan. Tapi dia masih kesal dan memperingatkan Bi Ryeom untuk tidak bicara dengannya.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon