Powered by Blogger.

Images Credit: QQlive

Sinopsis The Eternal Love Episode 10 - 2


Keesokan harinya saat Lian Cheng pergi ke istana, Jing Xin diam-diam mengantarkan Tan Er keluar rumah dan menasehati Tan Er untuk mengatakan semua hal yang ingin Tan Er katakan. Dia juga mengingatkan Tan Er untuk kembali sebelum Lian Cheng pulang.

Begitu tandu yang membawa Tan Er pergi, Jing Xin berdoa semoga Tan Er bisa melakukan apa yang dia inginkan hari ini agar dia tidak bersedih lagi. Tanpa mereka sadari, Selir Yi diam-diam mengintip mereka tak jauh dari sana.


Di istana, ketiga pangeran sudah menunggu di luar Perpustakaan Kerajaan. Pelayan muncul tak lama kemudian dengan membawakan 3 gelas teh untuk mereka dari kaisar yang saat ini masih sibuk.

Yi Huai dan Jing Xuan langsung meminum minuman mereka. Hanya Lian Cheng yang merasa aneh karena entah kenapa minuman itu sangat dingin. Maka dia pun diam-diam menotok beberapa syaraf lehernya sebelum meminumnya.

Yi Huai lalu menanyakan pendapat Lian Cheng tentang minuman itu. Lian Cheng diam saja. Tapi Jing Xuan menggerutu kesal karena Pelayan ini malah menyajikan teh yang sudah dingin untuk mereka. Dia yakin kalau Lian Cheng pasti tidak menyukainya.


Di tengah jalan, Tan Er menyadari ada yang aneh. Tandu itu tidak menuju ke kediaman Yi Huai, tidak pula ke tempat biasanya mereka bertemu. Sepertinya ini jalan menuju...

Dia langsung bertanya pada para pembawa tandu ke mana mereka mau membawanya, tapi tak ada seorang pun yang menjawab. Tan Er mulai ketakutan sekarang. Dia memerintahkan mereka untuk menurunkannya. Tapi tak ada yang menggubrisnya.


Kaisar akhirnya turun tak lama kemudian dengan membawakan teh lain lagi. "Teh yang ini dipasangkan dengan teh yang disuguhkan tadi. Mereka dinamakan teh kerinduan cinta dan patah hati (putus usus)."

Jika mereka hanya meminum teh patah hati yang tadi, usus mereka akan bolong, sel-sel tubuh mereka akan mati yang pada akhirnya bisa membuat mereka meninggal. Tapi jika sekarang mereka meminum teh kerinduan cinta ini sekarang, tidak hanya akan menetralkan racun yang tadi, tapi juga akan membuat rasanya jadi enak.

Seperti jatuh cinta dengan keindahan jiwa yang menggairahkan. Tapi jika mereka hanya mencari keindahan cinta dan tidak mau mengalami patah hati, maka mereka akan teracuni oleh racun kerinduan, pendarahan lalu mati.

"Teh ini sangat menarik. Jadi hari ini, aku secara khusus meminta kalian mencicipinya. Minumlah."


Tapi ketiga pangeran malah jadi ragu untuk menyentuhnya. Kaisar terus mendesaka mereka untuk minum. Jika tidak, maka racun patah hati mereka akan mulai bereaksi dan dia bakalan menyebabkan anak-anaknya mati hanya karena kesenangan sesaat.

Ketiga pangeran masih ragu. Tapi akhirnya Jing Xuan yang memberanikan diri untuk meminumnya dulu, baru setelah itu Yi Huai juga ikut meminumnya. Tapi Lian Cheng masih terdiam ragu.

Yi Huai langsung nyinyir. "Kenapa Adik ke-8 tidak minum? Jangan mengecewakan maksud baik Ayahanda. Aku sudah merasakan teh ini barusan dan seperti yang Ayahanda katakan, rasa yang tertinggal benar-benar indah dan mengaduk jiwa."

Tentu saja Lian Cheng ragu karena dia tadi sudah berusaha menghilangkan racun patah hati itu hingga menghabiskan seluruh tenaga dalamnya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan sekarang?


Tapi saat melihat Kaisar menghabiskan tehnya, Lian Cheng mendadak punya ide untuk membuang tehnya. Saat Kaisar menanyakan alasannya membuang teh itu, Lian Cheng beralasan bahwa dia rela mati demi rakyat dengan cara patah hati daripada menderita sakitnya merindukan orang yang dia cintai. Karena itulah dia tidak akan meminum teh ini.

"Kau sungguh tidak takut mati? Aku bisa menyuruh pelayan untuk membuatkan teh kerinduan cinta lagi untukmu."

"Saat Tan Er terluka parah dan berada di ambang kematian karena aku, aku sudah mengalami penderitaan merindukan orang yang kucintai. Itu sungguh menyakitkan. Aku lebih baik mati daripada harus mengalaminya lagi. Rasa sedih yang memilukan hati ini, belum pernah aku mengalaminya. Lebih baik aku mengalaminya dan menanggungnya."

Kaisar diam saja. Tapi Jing Xuan panik, Lian Cheng kan sudah minum teh patah hati tadi. Ususnya bisa bolong dan sekarat. Cepat panggil tabib istana!


Tapi Kaisar melarang dan mengakui kalau teh ini sebenarnya tidak beracun. Kaisar mengklaim kalau ia hanya ingin main-main saja dengan mereka. Kaisar kagum dengan luasnya pikiran dan keberanian Lian Cheng. Ia juga sungguh terkesan dengan perasaan cinta Lian Cheng pada istrinya.

"Terima kasih, Ayahanda. Aku agak kasar tadi. Mohon Ayahanda memaafkanku."

"Tidak masalah. Tidak perlu formalitas."

Yi Huai jelas kesal mendengarnya. Kaisar senang. Hari ini setelah dia mencicipi teh dan ngobrol dengan putra-putranya, ia bisa melihat mereka punya kemajuan. Hanya Jing Xuan yang belum menunjukkan kemajuan apapun dan selalu membuntuti Lian Cheng.


"Ayahanda menertawakanku lagi. Kepandaian Kakak Ke-8 bukan sesuatu yang bisa kupelajari hanya karena aku mau."

"Kupikir juga begitu. Aku senang karena Kakak Ke-8mu tidak kena pengaruh burukmu."

"Karena penilaian Ayahanda yang begitu tinggi pada Kakak Ke-8 seperti ini, aku harus berusaha lebih keras. Jika tidak, kelak, bagaimana aku bisa membantu Kakak Ke-8 dengan baik?"

Jelas dari ucapannya, Jing Xuan berharap Lian Cheng yang akan mewarisi tahta. Sontak saja Lian Cheng membentak adiknya itu untuk jaga ucapannya.

"Xuan'er, apa mungkin dalam hatimu, kau sudah membuat keputusan untukku?" Tanya Kaisar.


Jing Xuan langsung panik meminta maaf dan menjelaskan bahwa bukan itu maksudnya. Yi Huai sok merendah dengan mengklaim kalau Jing Xuan pasti tidak menganggapnya penting karena dia tidak sebanding dengan Lian Cheng.

"Tampaknya di pemerintahan ini, bukan cuma satu orang saja yang punya pendapat yang sama dengan Adik Ke-14. Aku hanya bisa berusaha lebih keras. Jika tidak maka aku akan tertinggal semakin jauh dari Adik Ke-8."


Tak mau kalah, Lian Cheng mengklaim bahwa dia tidak sebanding dengan Yi Huai dalam hal kecerdasan dan strategi. Dia hanya orang yang suka malas-malasan, bahkan sempat diserang sebelumnya gara-gara Lencana Komando Kerajaan.

"Aku benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk membalas, Bagaimana bisa aku dibandingkan dengan Kakak Pertama?"


Menyadari perseteruan di antara kedua putranya, Kaisar buru-buru menyela dan menegaskan bahwa mereka memiliki kemampuan masing-masing yang unik. Dalam hatinya, Kaisar tak pernah merasa salah satu dari mereka yang paling menonjol daripada yang lain.

"Xuan'er, kau perlu belajar bertanggung jawab atas perkataanmu. Jangan gegabah bicara. Kalian semua boleh keluar."


Di luar, Yi Huai langsung mengkonfrontasi Lian Cheng atas ucapannya tadi. Dia benar-benar merasa malu karena ucapan Lian Cheng tadi membuatnya tampak bodoh.

Lian Cheng santai membalasnya, Yi Huai kan punya banyak kontak di sini. Masa dia tidak bisa tahu kalau kedua teh itu tidak beracun? Dibandingkan dengan itu, Lian Cheng justru merasa lebih bodoh.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau tehnya tidak beracun?"

"Ayahanda menggunakan cangkir teh yang sama dengan kita. Ayahanda yang biasanya selalu berhati-hati, bagaimana bisa ia membuat kesalahan seperti itu? Itu cukup untuk membuktikan kalau tehnya tidak beracun."


Yi Huai mengaku kalah. Tapi kemudian, dengan senyum liciknya dia menanyakan kabar istrinya Lian Cheng.

"Segalanya baik-baik saja. Kakak Pertama tidak perlu khawatir."

"Benarkah? Sungguh?"

"Apa maksud Kakak Pertama?"

"Tidak ada. Aku cuma ingin mengingatkanmu untuk menjaganya dengan baik. Jangan biarkan dia menderita."

Lian Cheng mulai cemas dan langsung menyuruh Yu Hao untuk bergegas pergi ke kediamannya untuk mengecek istrinya. Dia cemas, sepertinya ucapan Yi Huai tadi merujuk pada sesuatu.


Tan Er akhirnya tiba di tempat tujuannya yang ternyata rumah kediaman keluarga Qu. Dia mau kembali saat itu juga, tapi Nyonya Qu sudah menunggunya di gerbang dan sok ramah menyambutnya dan mengajaknya masuk.

Nyonya Qu langsung membawanya menghadap Tuan Qu dan ada Pan Er juga di sana. Tuan Qu langsung membentaknya untuk berlutut dan pelayan pun langsung mendorongnya ke lantai.

Dengan kejamnya Tuan Qu menuduh Tan Er bersekongkol dengan Lian Cheng untuk menentang keluarga Qu dan Yi Huai. Tan Er jelas bingung dengan tuduhannya, dia tidak pernah menentang Pangeran Pertama dan Tuan Qu.


Pan Er tiba-tiba menamparnya dan menuduh Tan Er benci padanya karena Tan Er ingin menjadi istri putera mahkota. Karena itulah Tan Er bersekongkol dengan Lian Cheng.

Dia terus menuduh Tan Er tidak tahu malu. Di satu sisi, dia sangat manis dan penuh cinta kasih pada Lian Cheng. Tapi di sisi lain, dia terus berusaha merayu Yi Huai. Dia mendapatkan keduanya demi keuntunganya sendiri.

"Aku tidak seperti itu. Mohon kakak tidak asal berspekulasi."

Nyonya Qu tidak mau menerima alasan apapun dan langsung menyuruh para pelayan untuk meyeret Tan Er ke halaman dan buat dia berlutut di sana. Dia hanya boleh bangkit setelah dia mengerti kesalahannya.
 

Yu Hao bergegas kembali ke rumah dan hanya bertemu Jing Xin di depan kamarnya Tan Er. Di mana Tan Er? Jing Xin berbohong kalau Tan Er sedang jalan-jalan. Yu Hao tak percaya. Kalau memang dia jalan-jalan kalau kenapa mereka tidak diberitahu.

"Cepat katakan, dimana Istri Pangeran?!"

"Kenapa kau terburu-buru seperti ini?"

Karena Pangeran Pertama memprovokasi Pangeran ke-8 di istana dan mengisyaratkan kalau itu berhubungan dengan Tan Er. Lian Cheng sangat cemas, makanya dia disuruh bergegas kemari untuk mengeceknya dan ternyata Tan Er memang tidak ada di rumah.

Jing Xin jelas kaget mendengar Yi Huai ada di istana. Sejak kapan dia pergi ke istana? Tentu saja sejak awal. Dia bahkan tiba duluan daripada Lian Cheng. Jing Xin sontak cemas mendengarnya, "Cepat beritahu Pangeran kalau Istri Pangeran mungkin dalam bahaya!"

"Jadi kau tidak tahu ke mana Istri Pangeran pergi?"

"Aku juga tidak tahu sekarang. Cepatlah pergi beritahu Pangeran tentang ini."


Para pangeran masih menunggu di luar Perpustakaan Kerajaan. Jing Xuan tidak mengerti, apa sebenarnya tujuan Kaisar dengan membuat mereka menunggu selama ini? Yi Huai santai, mungkin Ayahanda mereka sedang kesulitan untuk memutuskan sesuatu.

"Aku yakin saat Ayahanda memanggil kita lagi, beberapa hal mungkin sudah diputuskan."

Yu Hao datang saat itu juga dan langsung membisiki Lian Cheng sesuatu yang langsung membuatnya cemas. Yi Huai tersenyum licik melihat itu.


Tepat saat Lian Cheng hendak pergi, kasim muncul dan mengumumkan bahwa Kaisar ingin bertemu Lian Cheng. Tapi Lian Cheng terlalu mencemaskan istrinya dan memutuskan pergi saat itu juga. Senyum Yi Huai mengembang makin lebar.


Tan Er masih dipaksa berlutut di sana bahkan sekalipun hujan mengguyur deras. Nyonya Qu masih terus memaksa Tan Er untuk mengakui kesalahannya. Tapi Tan Er juga tetap teguh dengan pendiriannya, dia tidak salah apapun baik pada Ayahnya maupun pada Pangeran Pertama. Pangeran Pertama pasti akan mempercayainya

Pan Er kesal dan menyuruh Tan Er untuk berpikir. Menurutnya, bagaimana Tan Er bisa berakhir di sini hari ini? Dia pikir siapa yang sudah merencanakan semua ini hari ini?


Tan Er langsung lemas menyadari Yi Huai telah memanfaatkannya. Sekarang dia mulai memikirkan kembali tentang kecurigaan Lian Cheng dan Xiao Tan bahwa Yi Huai lah yang mengirim para pembunuh itu.

"Qu Tan Er, kapan kau akan menyadari bahwa kau hanyalah bidak yang dicampakkan Pangeran Pertama?"

Nyonya Qu senang melihat Tan Er sudah mulai sadar sekarang. Dengan begitu dia bisa berhenti berkhayal.

"Pangeran Pertama... Ah, aku harus menyebutkan calon Putera Mahkota dan seluruh Dong Yue pada akhirnya akan segera menjadi milik Pan Er. Berhentilah berharap untuk mengubah posisi rendahanmu di keluarga kami. Tenanglah dan teruslah jadi makhluk yang paling menyedihkan."


Patah hati, Tan Er berbohong menyatakan kalau dia tidak pernah memiliki perasaan apapun pada Pangeran Pertama. "Kelak, kami juga dua orang yang berjalan di jalan yang berbeda dan tidak akan memiliki hubungan lagi!"

Tan Er menangis dalam derasnya hujan. Hatinya begitu sakit hingga dia memohon agar Xiao Tan cepat muncul, dia tidak sanggup menanggung luka ini.


Tepat saat itu juga, Xiao Tan kembali dan langsung bingung mendapati dirinya di sini dan bukannya bertemu Yi Huai. Dan kenapa hatinya terasa begitu sakit dan kenapa dia tidak bisa mengendalikan air matanya?

"Kenapa aku merasa begitu lemah? Apa yang terjadi pada Tan Er?"

Melihat kedua wanita itu, Xiao Tan langsung bisa menduga. Jangan-jangan ini ulahnya Yi Huai? Tega sekali Yi Huai melakukan ini pada Tan Er yang begitu mencintainya. "Apa yang harus kulakukan? Cheng Cheng, di mana kau?"

 

Hujan sudah reda saat gerbang kediaman keluarga Qu akhirnya dibuka oleh Lian Cheng. Dia langsung menyelimuti Xiao Tan dengan jubahnya.

Nyonya Qu sontak pura-pura bego tak tahu kenapa Tan Er masih berlutut di sana dan sok baik meminta Tan Er bangkit biar dia tidak sakit. Nyonya Qu menawarkan tangannya, tapi Lian Cheng langsung kesal menampiknya, "Jauhkan tangan kotormu darinya!"

Dia lalu membantu Xiao Tan bangkit dan memperingatkan Nyonya Qu bahwa Tan Er adalah istrinya. "Jika kau berani melakukan hal ini lagi, aku tidak akan menjamin kau masih bisa hidup!"

Xiao Tan hanya diam, tampak begitu terpana melihat perhatian Lian Cheng padanya. Nyonya Qu cuek dengan gaya sombongnya.


Tuan Qu muncul tak lama kemudian sambil pura-pura berbaik hati mengundangnya masuk. Lian Cheng menolak, pintu kediaman keluarga Qu terlalu tinggi, dia tidak bisa masuk.

Dia langsung menyeret Xiao Tan pergi dari sana dan memperingatkan mereka. "Apa yang istriku alami hari ini, aku pasti akan membuat kalian membayarnya dua kali lipat!"

Mereka pun melangkah keluar dari sana. Tuan Qu sontak menyudahi aktingnya sambil mendengus sinis. Perkara hari ini tidak menyia-nyiakan usaha mereka. "Sekarang, posisi putera mahkota, pasti akan jadi milik Pangeran Pertama."

Bersambung ke episosde 11

6 comments

Lanjut unnie fighting 😃😃😃

Semangat lanjutin nulisnya kak...

Sebeel dengn keluarga Qu bikin greget,d tunggu lanjutn nya mba

Sebeel dengn keluarga Qu bikin greget,d tunggu lanjutn nya mba

ka' ima cantik dilanjut yahh cerita.nya
ditunggu !!

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon