Powered by Blogger.

Images Credit: QQlive

Sinopsis The Eternal Love Episode 11 - 2


Memikirkan upacara penobatan Putera Mahkota, Xiao Tan yakin mereka akan bertemu Yi Huai di sana. Kalau begitu, biar Tan Er saja yang pergi agar dia tidak bersedih terus setiap hari. Kalau dia menangis setiap hari, dia bisa mati lemas nantinya.

Tapi Jing Xin ragu karena Tan Er sangat sedih sekarang ini, dia tidak mau bertemu Yi Huai. Tapi... Xiao Tan ada benarnya juga. Mereka tidak boleh membiarkan Tan Er menahannya, dia harus pergi.

Maka Xiao Tan pun berbohong kalau dia tidak cinta uang. "Bahkan sekalipun kau memberiku cek 5 juta yuan, aku tidak mau."


Seketika itu pula Tan Er muncul kembali dengan wajah sedih. Jing Xin antusias memberitahunya bahwa Lian Cheng akan membawanya ke istana hari ini untuk menghadiri penobatan Putera Mahkota.

"Jadi dia benar-benar menjadi Putera Mahkota. Aku tidak mau pergi. Aku sudah bilang kan, aku tidak akan menemui orang kejam berhati dingin itu lagi."


Sepertinya dia berbohong karena tiba-tiba saja Xiao Tan kembali lagi. Xiao Tan bingung, dia mencoba berbohong lagi dengan berkata bahwa di dunia modern dia dikejar banyak pria-pria muda tampan, om-om dewasa dan juga pria-pria berperut six pack.

Tapi kali ini malah tidak berhasil. Xiao Tan jadi tambah bingung, apa yang terjadi? Kenapa berbohong malah tidak mempan sekarang? Tak menyerah, dia terus mencoba berbohong dengan berkata kalau dia tidak merasakan apapun saat dia tidur dengan Lian Cheng. Dia payah. Pfft!

Tetap tidak berhasil. "Apa aku harus pingsan? Coba sajalah!"


Xiao Tan langsung mengosongkan meja dan bersiap menjedotkan kepalanya ke meja. Panik, Jing Xin refleks mengulurkan tangannya dan jadilah kepala Xiao Tan menumbuk tangan Jing Xin.

"Xiao Tan, apa yang kau lakukan?"

"Aku sangat marah!"

 

Di istana, Yi Huai dibantu para pelayan berganti baju putera mahkota lalu berjalan ke istana dan bertemu kedua adiknya di depan.

Mereka memberikan penghormatan mereka padanya walaupun Jing Xuan tampak jelas melakukannya dengan setengah hati dan muka cemberut. Yi Huai sok merendah menerima penghormatan mereka.


"Kelak, kalian akan menjadi tangan kanan dan kiriku. Mari kita bersatu dan bekerja bersama untuk membuat Dong Yue kita makmur. Bukan begitu, Adik Ke-8"

"Tentu saja. Putera Mahkota memiliki kecerdasan dan keahlian strategi yang luar biasa. Kau juga pandai bersiasat. Tentu saja aku harus banyak belajar."

"Oh, setelah aku dinobatkan, kita punya banyak waktu untuk membahasnya."

Jing Xuan kesal memprotes kesombongannya, tapi Yi Huai cuek dan Lian Cheng pun cepat-cepat menghentikan ocehan Jing Xuan dan mengajaknya masuk saja.


Sementara itu, Xiao Tan dipanggil menghadap Ibu Suri yang langsung to the point melabraknya karena gara-gara Xiao Tan lah, Lian Cheng tertipu oleh Yi Huai hingga dia gagal mendapatkan posisi Putera Mahkota. Dia tidak bisa membantu, sekarang malah mencelakai Lian Cheng juga.

"Katakan! Apa kau bekerja untuk Mo Yi Huai untuk mencelakai Cheng'er?!"

Xiao Tan menyangkal keras, dia dan Yi Huai tidak punya hubungan apapun. Dia mencintai Lian Cheng, kenapa juga dia harus menyakitinya? Kalau Ibu Suri tidak percya, ia bisa bertanya langsung pada Lian Cheng.

"Tidak perlu. Aku ingin meninggalkan kediaman Pangeran Ke-8."

Tentu saja Xiao Tan menolak, "Dalam masalah ini, saya tidka bisa menyetujuinya!"

"Kau berani menentangku?"

"Saya tidak berani."


Ibu Suri jelas kesal mendengarnya, "Kau mungkin telah merayu Cheng'er. Tapi aku bisa melihat segalanya dengan jelas! Jika kau terus tinggal di kediaman Pangeran Ke-8, entah apa yang akan kau lakukan lagi pada Cheng'er!"

Ibu Suri memutuskan takkan memperpanjang masalah putera mahkota lagi. Tapi dia tidak bisa membiarkan Xiao Tan terus tinggal di kediaman Pangeran Ke-8 lagi. Xiao Tan mau pergi sendiri, atau dia yang harus memaksanya?

Xiao Tan mengingatkan Ibu Suri bahwa pernikahannya dengan Lian Cheng adalah perintah dari mendiang Kaisar, jadi dia tidak berani pergi begitu saja.

Ibu Suri kesal mendengar Xiao Tan mengancamnya dengan menggunakan titah kerajaan dan langsung menuduh Xiao Tan tamak, dia jelas-jelas menginginkan posisi Puteri Mahkota.

"Ibu Suri, tidak semua wanita berharap menjadi Istri Pangeran yang bodoh ini atau menjadi permaisuri yang bodoh."


Kesal, Ibu Suri langsung memerintahkan para dayang untuk menampar Xiao Tan. Tapi tepat saat itu juga, Kasim Li datang untuk mengabarkan kedatangan Putera Mahkota.

Begitu Yi Huai masuk, Ibu Suri langsung sinis menyindir kehebatan siasat yang dipakai Yi Huai. Melihat Xiao Tan di sana, Yi Huai berusaha menyelamatkannya dengan memohonkan pengampunan untuk Xiao Tan.

Tapi Ibu Suri cepat menyela dan menyindir mereka, sebaiknya mereka menghindari kecurigaan. "Kau memohonkan pengampuan baginya di hadapanku? Apa kau tidak takut kalau Kaisar dan para pejabat istana akan mendengar tentang ini dan membuat posisi putera mahkotamu terancam?"


Tepat saat itu juga, kasim mengumumkan kedatangan Lian Cheng. Senyum Xiao Tan langsung mengembang seketika. Tanpa basa-basi, Lian Cheng meminta Ibu Suri untuk berhenti mempersulit keadaan istrinya.

"Dibandingkan dengan Tan Er, tahta tidak berarti apa-apa bagiku. Tan Er adalah wanitaku. Jika siapapun berani menyakitinya, bahkan sekalipun dia anggota keluarga, aku tidak akan membiarkannya."

Dia langsung menyeret Xiao Tan pergi dari sana. Yi Huai pun langsung undur diri. Ibu Suri benar-benar marah dengan kejadian ini dan langsung mengusir semua orang dari sana.


Tapi kemudian, Kasim Li datang untuk memberitahunya bahwa ada seseorang menemukan sebuah bukti entah apa. Ibu Suri mempersilahkan orang itu masuk. Seorang wanita bertudung lalu masuk membawakan lukisan kiriman Yi Huai pada Tan Er. Begitu melihat lukisan itu, Ibu Suri tampak memahami maknanya.


Tak lama kemudian, Kasim Li pergi menemui Lian Cheng untuk menyampaikan pesan Ibu Suri yang ingin bertemu Lian Cheng. Ibu Suri berkata bahwa ada hal penting yang mau beliau bicarakan dengan Lian Cheng.

Lian Cheng menolak dengan alasan kalau dia punya urusan lain yang harus dia urus. Tapi Kasim Li ngotot meyakinkan Lian Cheng bahwa apa yang mau Ibu Suri katakan itu masalah penting. Lian Cheng harus kembali ke istana bersamanya.


Lian Cheng akhirnya menurut dan pergi menemui Ibu Suri yang bertanya apakah pada hari pemilihan putera mahkota, apakah Lian Cheng pergi ke kediaman Qu? Lian Cheng berusaha menyangkalnya, tapi Ibu Suri tak percaya.

Biarpun dia sudah tua, tapi dia bisa melihat dengan jelas kalau Yi Huai dan Tuan Qu membuat jebakan untuk Lian Cheng dan mungkin Tan Er terlibat dalam persekongkolan mereka. Jelas-jelas Tan Er tu mata-matanya Yi Huai.

"Nenek, mohon jangan membuat perkiraan yang tidak masuk akal. Tan Er orang yang polos dan naif. Dia tidak punya niatan untuk mencelakaiku."

"Begitukah? Kurasa kau tidak tahu siapa dia yang sebenarnya. Dia sudah sangat menyesatkan hatimu."


Untuk membuktikan ucapannya, Ibu Suri memberikan lukisan itu pada Lian Cheng. Ibu Suri yakin kalau Lian Cheng cukup pintar untuk memahaminya tanpa perlu dia menjelaskan kalau lukisan ini digunakan Yi Huai untuk membuat rencana dengan Tan Er.

Lian Cheng memang langsung bisa memahaminya dan seketika itu pula wajahnya mengeras penuh emosi. Ibu Suri meyakinkan kalau Tan Er itu tidak pernah benar-benar mencintai Lian Cheng.

"Cheng'er, dengarkan aku. Sekarang, kau sudah kalah dalam putaran pertama perebutan tahta. Sekarang, cara yang terbaik adalah menceraikan Qu Tan Er dan menikahi Yun'er. Kekuatan Bangsawan Anle tidak bisa dianggap remeh, dia bisa membantumu."

Tapi biarpun tampak sedih, Lian Cheng tetap bersikeras menegaskan bahwa di kediamannya, hanya akan ada Istri Pangeran seorang. Dia lalu cepat-cepat undur diri.

Ibu Suri tidak mau menyerah begitu saja dan menawarkan taruhan dengan Lian Cheng. "Kita lihat saja apakah Qu Tan Er benar bersekongkol dengan Mo Yi Huai atau tidak."

Lian Cheng tak menjawab dan langsung pergi.

 

Jing Xin berusaha membangunkan Xiao Tan, tapi Xiao Tan terlalu malas untuk bangun sampai Jing Xin harus membangunkannya secara paksa. Saat Jing Xin membuka pintu, dia malah melihat ada segulung lukisan di lantai, entah siapa yang menaruhnya di situ.

Begitu melihatnya, Jing Xin bergegas memperlihatkannya pada Xiao Tan. "Xiao Tan, jangan tidur terus. Pangeran Pertama mengirim pesan untuk nonaku!"


Xiao Tan mendadak bangun untuk melihat lukisan itu. Itu lukisan burung yang sama, hanya saja kali ini dalam tulisannya, Yi Huai ingin bertemu Tan Er siang ini di Mao'er Hutong.

Xiao Tan sontak ngomel-ngomel kesal merutuki Yi Huai. "Dasar bed*bah itu! Dia masih punya muka untuk datang? Dia pikir gampang apa membuli Qu Tan Er?"

"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita harus memberitahu nonaku?"

Xiao Tan punya ide bagus, dia sendiri yang akan pergi menemuinya. "Akan kucabik-cabik dia!"

Jing Xin tidak setuju, menurutnya itu tidak bagus. Xiao Tan masa bodoh, ayo pergi!


Sebelum keluar, Xiao Tan celingukan mengecek keadaan dulu. Tapi tiba-tiba saja Lian Cheng muncul di belakangnya dan tanya dia mau ke mana? Xiao Tan gugup beralasan kalau dia bosan, jadi dia mau jalan-jalan keluar.

"Kau begitu ingin keluar rumah? Bagaimana kalau aku pergi bersamamu?" Tawar Lian Cheng, jelas-jelas dia sedang menguji Xiao Tan.

Xiao Tan panik menolaknya, dia cuma mau pergi untuk membeli beberapa kebutuhan wanita, jadi Lian Cheng tidak perlu ikut.

"Jika aku memintamu untuk tinggal bersamaku, kenapa kau bersikeras mau pergi?"

"Aku cuma akan pergi sebentr. Aku akan segera kembali dan tinggal bersamamu. Bagaimana?"

Xiao Tan langsung bergegas pergi saat itu juga. Lian Cheng mengulurkan tangan berusaha menghentikannya, tapi Xiao Tan pergi begitu cepat.


Begitu tiba di tempat tujuan, tak ada siapapun di sana. Xiao Tan langsung ngomel-ngomel kesal merutuki Yi Huai yang telat. Apa dia bahkan punya secuil ketulusan? Qu Tan Er pasti sudah buta dengan mencintai pria tak punya hati semacam itu!

Sebuah kereta akhirnya datang tak lama kemudian. Xiao Tan memanggil Yi Huai. Tapi yang keluar dari dalamnya ternyata Lian Cheng dan wajahnya tampak begitu marah. Xiao Tan terkejut melihatnya, kenapa dia ada di sini?

"Pertanyaan bagus. Kau bertemu diam-diam dengan Pangeran Pertama, seharusnya aku tidak datang!"


Xiao Tan panik menjelaskan kalau dia datang mewakili orang lain. Lian Cheng langsung sinis menyindirnya, Xiao Tan memang sangat pintar dan kemampuan aktingnya sungguh luar biasa.

"Kau menyembunyikannya dengan sangat baik. Aku bahkan tidak menyadarinya."

"Tidak! Aku tidak pernah berbohong padamu!"

Tapi Lian Cheng tidak percaya. Jadi Xiao Tan bersekongkol dengan Mo Yi Huai untuk muncul di kediaman Qu pada hari pemilihan putera mahkota dan berakting di hadapannya?

"Qu Tan Er... kau terlalu pintar. Kau tahu kalau aku menyukaimu, jadi kau memanfaatkan kasih sayangku untuk merebut posisi putera mahkota. Aku harus bertepuk tangan dan memberimu pujian, kau melakukannya dengan sangat baik."


"Kau salah paham. Ini semua kesalahpahaman!"

"Lalu apa ini?" Tuntut Lian Cheng sambil memperlihatkan lukisannya.

"Itu... itu bukan milikku. Itu bukan ditulis untukku!"

"Berhentilah berbohong! Aku tidak akan mempercayainya lagi! Dan kau tidak perlu kembali ke kediaman Pangeran Ke-8! Bukankah kau menginginkan surat cerai? Akan kuberikan padamu."

Lian Cheng mau pergi, tapi Xiao Tan menghentikannya dan bertanya. "Jika aku bukan Qu Tan Er, apa kau masih akan mencintaiku?"

"Aku tidak punya banyak waktu. Cepat katakan."

Xiao Tan berusaha meyakinkan kalau dia sungguh tidak berbohong pada Lian Cheng. Dia bahkan berani bersumpah bahwa kalau dia mata-mata, maka dia akan tertabrak kereta itu. Tapi Lian Cheng langsung membentaknya.


Xiao Tan akhirnya mengakui kalau dia bukan Qu Tan Er yang sebenarnya. Dia hanya mengambil alih tubuhnya. Dia dan Tan Er menggunakan satu tubuh yang sama. Xiao Tan tahu kalau Lian Cheng mungkin tak mempercayainya. Tapi inilah kebenarannya.

"Hari ini, aku datang menggantikannya."

Tapi tentu saja ucapannya itu tidak masuk akal dan Lian Cheng tidak mempercayainya sedikitpun. "Qu Tan Er, ap kau pikir aku anak umur 3 tahun?"

"Aku tahu kau tidak akan mempercyaiku. Tapi aku bisa membuktikannya padamu."

Bersambung ke episode 12

5 comments

Unni lnjut truz... cayooooo!!!!

Lanjutin yg iini aj dlu bak,,, yg lain kan msh nuggu jdwal tyang per minggunya... Mumpung msh seru2 nya... Mkasih...

Memang ya drama pilihan mbak Ima selalu menjanjikan bagusnya.
Karena baca sinop drama ini buat penasaran, akhirnya saat jalan ke toko kaset, dapat juga ni kasetnya dan saya uda nonton sampe akhir. Sedih jg sih nggak bisa liat keceriaan xiao tan lg saat uda tamat. Tapi nggak kehilangan akal, saya ulang nonton lagi dari awal wkwkwk...sambil tetap baca sinopnya mbak Ima.
Saya suka drama ini karena romantis dan komedinya.
Terima kasih ya mbak Ima atas sinopnya. Tetap dilanjutkan ya....

Keren lucu smangat terus mba ima nulis sinopnye ....and jgn lama2 lanjutannya he he he

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon