Powered by Blogger.

Images Credit: QQLive

Sinopsis The Eternal Love Episode 8 - 2


Yi Huai sedang membaca buku saat dia menyadari kedatangan dua penyihir itu. Dia langsung kesal mengingatkan mereka untuk tidak datang ke kediamannya.

Tapi mereka juga langsung balas mengkonfrontasinya karena mereka dengar rumor yang mengatakan kalau Lian Cheng mendapatkan Mutiara Penekan Jiwa. Yi Huai makin kesal mendengarnya, itu kan cuma rumor. Bagaimana bisa mereka bertindak begitu gegabah?

"Tapi mutiara itu memang hilang dari tempatnya semula di kediaman Qu!"

"Mohon Pangeran sudi untuk pergi memastikannya."

"Aku punya rencanaku sendiri."

"Pangeran Pertama, jangan menyerah untuk mendapatkan tahta hanya karena kau kehilangan wanita yang kau cintai. Kau benar-benar akan kehilangan lebih daripada yang akan kau raih."


Dua hari sudah Xiao Tan melek hanya supaya dia tidak berganti jadi Tan Er. Bahkan sekalipun dia sudah terkantuk-kantuk dan beberapa kali hampir roboh, dia tetap memaksa matanya untuk tetap membuka. Jing Xin sampai cemas melihatnya.

Jing Xin memberitahu kalau hari ini Yi Huai mengirim sesuatu untuk Lian Cheng lewat pengawal pribadinya. Dia juga mengirim surat untuk Tan Er. Xiao Tan membuka surat itu dengan mata yang sangat lelah sampai pandangannya butuh waktu beberapa detik untuk bisa fokus.


Ternyata Xiao Tan meminta bantuan Yi Huai untuk mencarikan tukang kayu tua itu atas nama Tan Er. Dan dalam suratnya, Yi Huai memberitahukan informasi alamat tukang kayu tua yang dicari-cari Tan Er itu.

Jing Xin langsung kesal menyadari Xiao Tan memakai nama Tan Er untuk minta bantuan Yi Huai. Xiao Tan tak menyangka kalau Yi Huai bisa mendapatkan informasi secepat ini. Sepertinya dia rela melakukan apapun yang diminta Tan Er.

"Tapi Xiao Tan kalau kau benar-benar pergi, lalu bagaimana dengan Pangeran ke-8?"


Xioa Tan malas membahas masalah itu sekarang dan mengajak Jing Xin pergi mencari tukang kayu itu. Dia bahkan tidak kuat berdiri, tapi tetap ngotot untuk pergi.

 

Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di alamat si tukang kayu. Tapi rumah itu tampak seperti rumah yang tak berpenghuni. Yakin ini alamat yang benar? Jing Xin yakin benar, alamat rumah ini yang tertulis dalam surat itu.

Xiao Tan mau masuk, tapi tiba-tiba saja dia berpaling ke Jing Xin dan tanya apakah dia merasa ada yang mengikuti mereka. Jing Xin sontak celingukan cemas, jangan menakutinya.


Xiao Tan pun mencoba mengetuk pintu rumah itu, tapi tak ada jawaban. Akhirnya dia membukanya sendiri dan mendapati rumah itu memang rumah kosong dan tampak seram. Yi Huai yang sedari tadi sudah menunggu, langsung menampakkan dirinya.

Sepertinya dia mengira Xiao Tan mencari alamat tukang kayu hanya sebagai alasan biar mereka bisa bertemu. Xiao Tan kesal, dia serius mencari tukang kayunya, di mana dia?


"Katakan padaku. Kenapa kau mencari ranjang dan tukang kayu tua itu?" Tuntut Yi Huai.

Xiao Tan tergagap mencari alasan. Itu... karena dia hanya bisa tidur di ranjang yang dibuat si tukang kayu itu. Ranjangnya di rumah sudah rusak, apa tidak boleh dia meminta si tukang kayu untuk memperbaikinya?

"Jadi Mo Lian Cheng tidak mengirimmu kemari?"

Xiao Tan baru sadar sekarang, jadi sedari tadi sebenarnya tidak ada tukang kayu di sini, bukan? Yi Huai terus menuntut, apa benar Mo Lian Cheng memiliki mutiara itu? Xiao Tan benar-benar kesal menyadari Yi Huai ternyata cuma memanfaatkannya hanya demi mendapatkan informasi tentang Lian Cheng.


"Aku melakukannya demi kita. Mutiara itu berhubungan dengan masa depan kita!"

"Dulu, aku memang sangat berbakti padamu dan membantumu mendapatkan apapun yang kau inginkan. Tapi sekarang segalanya sudah berbeda, aku benar-benar mencintai Mo Lian Cheng sekarang!"

Yi Huai berusaha menyentuhnya. Tapi Xiao Tan langsung menampik tangannya dan memperingatkannya untuk memperhatikan sikapnya.

"Jangan lagi memintaku bertemu denganmu mulai sekarang dan jangan lagi menggunakan namaku untuk melakukan sesuatu yang menguntungkanmu seorang! Mulai sekarang. Kau adalah Pangeran Tertua dan aku adalah Istri Pangeran ke-8. Jing Xin, ayo pergi!"

Tanpa mereka semua sadari, semua pembicaraan mereka didengar oleh Lian Cheng dari cela pintu dan senyumnya mengembang begitu lebar mendengar semua ucapan Xiao Tan. Dia pun bergegas pergi sebelum Xiao Tan keluar.

Yi Huai sedih melihat kepergian Xiao Tan. "Semua yang kulakukan hanya untukmu. Tidakkah kau mengerti?"


Xiao Tan menggerutu kesal sepanjang jalan. Dia sungguh tak menyangka kalau Yi Huai ternyata seperti itu. Jing Xin cemas, apa yang Xiao Tan lakukan itu bisa merusak hubungan Tan Er dan Yi Huai.

Xiao Tan tak percaya mendengarnya, dia justru sedang membantu Tan Er. Dalam hati Mo Yi Huai itu cuma ada tahta, bukan Tan Er.

"Tapi dengan menginginkan tahta, bukankah pada akhirnya dia juga ingin bersama nonaku?"

"Demi tahta, dia bisa mengorbankan nonamu kapanpun. Lebih baik kau beritahu Tan Er tentang masalah ini."

Xiao Tan menegaskan kalau dia bukan orang yang suka mengambil keuntungan dari orang lain. Dia pasti akan menemukan tukang kayu secepatnya dan mengembalikan tubuh ini pada Tan Er. Dia tidak mau lagi melakukan apapun untuk si nona yang terlalu tergila-gila dan si baj*ngan tidak setia itu.


Jing Xin mau protes lagi. Tapi tepat saat itu juga, dia melihat seorang pembunuh yang mengarahkan panah pada Xiao Tan. Jing Xin refleks menggunakan dirinya untuk menamengi Xiao Tan.

Tapi tiba-tiba saja Yi Huai muncul, mendorong Jing Xin dan menyelamatkan Xiao Tan dari panah itu. Lian Cheng muncul saat itu juga dan langsung mendorong Yi Huai dari istrinya dengan memakai tenaga dalamnya. Yi Huai terhuyung mundur dan sempat melihat si pembunuh bergegas pergi dari sana.

"Terima kasih telah menyelamatkannya, Kak."

"Aku terlalu gegabah dan terlalu ribut dengan Pangeran ke-8 sampai membuat pembunuhnya kabur."

"Kurasa kakak terlalu risau menyelamatkan Tan Er"


Yi Huai heran, kenapa Lian Cheng ada di sini? Lian Cheng beralasan kalau dia cuma kebetulan lewat. Bagaimana dengan Yi Huai sendiri?

"Aku punya hal penting untuk dibicarakan dengan Tan Er."

"Kalau begitu maaf sudah menganggu kalian. Aku akan membawa istriku pulang dan mengunjungimu di rumah."

"Ada beberapa hal pribadi yang harus kami diskusikan secara pribadi. Aku tidak akan merepotkanmu."

"Kakak terlalu khawatir. Kami sangat dekat dan tak punya rahasia. Sudah sore, aku akan membawa istriku pulang untuk istirahat. Sayang, ayo pergi."


Si pembunuh itu langsung berlutut di hadapan Tuannya yang kesal karena dia gagal membunuh Xiao Tan. Si pembunuh itu meminta maaf dan memanggil Tuannya sebagai 'Istri Pangeran'... karena ternyata dia adalah Pan Er.

Dia tidak mau tahu, pokoknya hari ini harus ada kepala yang terpotong. Kalau bukan kepalanya Xiao Tan, maka dia memotong kepala si pembunuh.

 

Xiao Tan sedang mandi. Jing Xin hendak membawakan air hangat tambahan, tapi langkahnya terhenti saat melihat Lian Cheng ada di depan pintu kamar mandi. Dia buru-buru melarang Jing Xin menyapanya dan menuntut Jing Xin untuk menyerahkan timba air itu padanya dan mengusir Jing Xin.


Dia lalu masuk diam-diam. Mengira yang datang Jing Xin, Xiao Tan santai saja menyuruhnya untuk menambah air panasnya. Lian Cheng menyiramkan air hangat itu dengan lembut.

Tapi kemudian Xiao Tan malah menggerutu mengasihani Yi Huai yang tadi malah diejek padahal dia sudah menyelamatkannya. Cemburu, Lian Cheng langsung menyiram air hangatnya dengan kasar sampai Xiao Tan protes kesakitan.


"Aku akan memandikanmu hari ini," bisik Lian Cheng tiba-tiba sampai Xiao Tan langsung menjerit saking kagetnya. Dasar baj*ngan! Keluar!

"Kau istriku, kenapa aku harus pergi? Aku ingin mandi bersamamu."

"Kalau kau tidak pergi, aku akan berhenti mandi!"

Tapi tiba-tiba terdengar suara penyusup di luar. Lian Cheng secepat kilat, mematikan cahaya kamar dan membungkus Xiao Tan dengan jubah mandi.


Suara pedang beradu, terdengar nyaring dari luar. Tapi Lian Cheng meyakinkan Xiao Tan untuk tidak takut, dia sudah menyuruh Yu Hao berjaga di luar dan Jing Xin ada di kamarnya.

"Aku tidak takut."

"Aku pasti akan melindungimu. Siapapun yang menyakitimu adalah musuhku."

Xiao Tan semakin terpesona mendengarnya, dia sangat keren. Lian Cheng pun bergegas membopong Xiao Tan pergi dari sana.


Keesokan paginya, Yu Hao dan beberapa pelayan mempersiapkan keperluan bepergian untuk Lian Cheng dan Xiao Tan. Xiao Tan keluar sambil ngomel-ngomel kesal karena dipaksa keluar sepagi ini, apa Lian Cheng tidak ingat kalau kemarin dia hampir terbunuh dua kali?

Jing Xin dengar, Selir Yun dan Selir Yi kemarin mendatangi Lian Cheng sambil menangis dan marah-marah, tapi Lian Cheng sama sekali tidak menganggap mereka.

"Dia sangat tidak adil. Aku ingin sekali mereka pergi menggantikanku. Bagaimana bisa istri pangeran malah bangun lebih pagi daripada agen real estate?"

 

Jing Xin mencoba menenangkannya dan mengajaknya masuk ke tandu saja sekarang. Xiao Tan terpaksa menurut dengan wajah cemberut. Lian Cheng keluar tak lama kemudian dengan membawa sebuah kotak dan mereka pun berangkat ke sebuah rumah di tengah hutan.

Xiao Tan malas masuk dan mencoba menawarkan bantuan pada Yu Hao yang sedang memindahkan barang-barang. Tapi Yu Hao menolak. Jing Xin menyarankannya untuk masuk saja dan menemani Lian Cheng, mereka tidak butuh bantuannya di sini.

"Kudengar Yu Hao bilang kalau Pangeran belum pernah membawa siapapun kemari. Kau yang pertama. Sepertinya Pnageran sangat tulus padamu."


Xiao Tan tentu saja senang mendengarnya. Tapi tiba-tiba saja dia merasakan hawa aneh. Bahkan beberapa pepohonan di depannya, tampak bergoyang aneh padahal tak ada angin. Gara-gara percobaan pembunuhannya kemarin, dia jadi lebih sensitif dalam merasakan bahaya.

Dia langsung menyeret Jing Xin menunduk ke dekat tandu. Dia yakin ada orang yang mengawasinya di depan sana. Lian Chen dan Yu Hao baru saja keluar saat tiba-tiba dua buah anak panah melesat tepat ke arah Xiao Tan.

 

Kedua wanita itu sontak menjerit ketakutan, tapi syukurlah panah-panah itu meleset. Lian Cheng dan Yu Hao pun bergegas menyeret kedua wanita ke arah berlainan. Sekelompok pembunuh langsung keluar dan mengejar mereka.

Xiao Tan mencemaskan Jing Xin. Lian Cheng meyakinkannya kalau Jing Xin aman bersam Yu Hao, dialah target para pembunuh itu.

"Kalau kau targetnya, lalu kenapa kau membawaku?" Protes Xiao Tan.

"Tetap berada di dekatku. Akan ada pertunjukan bagus untuk ditonton nanti."


Alih-alih terus berlari demi menyelamatkan nyawanya, Xiao Tan malah melepaskan diri dari Lian Cheng hanya untuk protes panjang lebar menggerutui Lian Cheng yang punya banyak musuh. Tahu begini dia pasti bakalan membeli lebih banyak asuransi jiwa.

"Asuransi? Bagaimana bisa aku meninggalkanmu?"

"Dasar baj*ngan! Bukankah kau ahli bela diri? Kenapa kau tidak membunuh mereka saja?"

"Aku tidak bisa mengalahkan orang sebanyak itu!"

Perdebatan mereka mendadak terpotong saat sebuah panah meluncur ke arah mereka. Lian Cheng pun bergegas menyerat Xiao Tan kabur dari sana.


Tapi sayang, langkah mereka terhenti dengan cepat saat mereka terhalang jurang. Panik, Xiao Tan menyarankan Lian Cheng untuk menyuruh Yu Hao keluar sekarang juga. Tapi Lian Cheng mengingatkannya kalau dia tidak sungguh tidak meyiapkan pertahanan apapun, kenapa Lian Cheng tidak mempercayainya?

"Tentu saja aku tidak percaya. Aku tidak percaya kau menyeretku kemari untuk mati!"

Salah satu pembunuh berkata kalau mereka cuma menginginkan Mutiara Penekan Jiwa itu. Mereka tidak akan melakukan apapun padanya. Mereka akan segera pergi setelah mereka mendapatkan mutiara itu.

"Kekuatan apa yang dimiliki Mutiara Penekan Jiwa sampai kau mencoba menyerangku?"

"Kami hanya mengikuti perintah. Kami bahkan tak tahu apa itu Mutiara Penekan Jiwa. Kau harus segera memberikannya pada kami. Jika tidak, maka kami akan melukaimu."


Para pembunuh itu maju perlahan dan Lian Cheng mulai menyodorkan kotak yang sedari tadi dipegangnya itu. Dia melempar kotak itu ke mereka. Tapi tepat saat itu juga, Xiao Tan melihat sebuah anak panah melesat ke Lian Cheng.

Xiao Tan langsung maju untuk menjadikan dirinya sebagai tameng. Anak panah itu melesat melewati rambutnya dan membuat mereka jadi oleng hingga mereka terjun ke jurang bersama-sama.

 

Para pembunuh itu sontak cemas, jelas mereka tidak bermaksud membunuh Lian Cheng. Dari percakapan mereka, ternyata mereka adalah orang-orang kiriman Yi Huai dan tidak diperintah untuk membunuh.

Tapi mereka tak bisa berbuat apapun sekarang dan hanya bisa melihat Lian Cheng dan Xiao Tan terjun semakin dalam hingga mereka tak kelihatan lagi karena terhalang asap tebal. Mereka yakin kalau mereka takkan kenapa-kenapa, toh mereka sudah berhasil mendapatkan pusaka ini. Mereka pun pergi.


Kedua penyihir itu ada di dekat sana sedari tadi. Si pria kesal, dia sudah menyangka kalau Yi Huai akan gagal, Yi Huai itu tidak tegas. Ternyata dialah yang menembakkan panah ke Lian Cheng tadi demi mendapatkan mutiaranya.

Si wanita tampak galau. Jika mereka mengmbil mutiaranya dan membebaskan Lian Cheng, konsekuensinya terlalu besar. Tapi mereka juga sudah berjanji pada Yi Huai untuk tidak membunuh.

"Aku takut Mo yi Huai tidak akan berterima kasih pada kita."

"Kita hanya perlu memenuhi janji kita pada Tuan."


Xiao Tan tersangkut di dahan pohon dan berusaha memegangi tangan Lian Cheng. Tapi Lian Cheng malah menyuruhnya untuk melepaskan tangannya dan meyakinkannya kalau dia masih bisa selamat.

"Aku tidak akan melepaskannya."

"Kalau kau tidak melepaskannya, kau juga akan mati."

"Sebelum aku mati, aku masih harus mendapatkan surat cerai. Aku masih muda dan cantik. Aku tidak boleh jadi janda."

"Kau tidak mau jadi janda karena kau tidak ingin kehilangan aku, kan?"

"Jangan mengada-ada. Aku cuma menginginkan surat cerai."

"Karena kau tidak ingin kehilangan aku dan aku juga tidak ingin berpisah darimu, maka mati kita mati bersama-sama." Lian Cheng menarik Xiao Tan hingga dahan pohon itu patah dan mereka pun terjun.

Bersambung ke episode 9

7 comments

Ditunggu bgt lanjutanya....☺

Mulai eps ne kblkang mkin seru... Ttp smngt bak ima...

Wah semakin seru ceritanya.. Tetap semangat ya.. Ditunggu lanjutannya.. 😍😍

Makin seru ditunggu lanjutannya uni

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon