Powered by Blogger.

Images Credit: Zhejiang TV

Sinopsis The King's Woman Episode 1 - 1


2 orang pria dan seorang wanita tampak berkuda menyusuri hutan. Mereka lalu tiba di sebuah kedai untuk makan sambil membicarakan seorang pendekar bernama Ge Nie yang berasal dari Kerajaan Qin tapi sekarang pergi meninggalkan Kerajaan Qin.

Ketiga orang ini adalah Gongsun Yu, Jing Ke yang merupakan murid Gong Sun Yu dan Gongsun Li adalah cucu Gongsun Yu. Mereka adalah warga Kerajaan Wey dan Gongsun Yu adalah Panglima Kerajaan Wey.


Jing Ke tidak mengerti kenapa Ge Nie memutuskan pergi meninggalkan Kerajaan Qin. Gongsun Yu mendesah, sekarang ini Kerajaan Qin seperti binatang buas. Sejak Su Qin gagal membentuk integrasi vertikal ke-6 kerajaan 10 tahun yang lalu, masih ada rasa dendam di antara semua kerajaan.

Sekarang, Kerajaan Qin yang paling kuat diantara kerajaan lainnya, berniat menaklukkan ke-5 kerajaan lain.

Lu Bu Wei, pimpinan politik di Kerajaan Qin, mambantu Raja Zhuang dari Kerajaan Qin untuk meretakkan hubungan antara Bangsawan Xinling dan Raja Anxi dari kerajaan Wei dengan tujuan untuk melemahkan Kerajaan Wei. (Wey dan Wei beda, yah.)

Dia juga menobatkan Ying Zheng, putra permaisuri Zhao, sebagai putra mahkota Kerajaan Qin demi mendapatkan dukungan para menteri dan memperluas kekuatan politiknya sendiri.

Gongsun Yu menduga kalau Ge Nie meniggalkan Kerajaan Qin karena dia tidak mau tinggal yang sama dengan orang semacam Lu Bu Wei.


Gongsun Li (Dilraba Dilmurat) ikut nimbrung. Gongsun Yu pernah bilang bahwa kerajaan Wey pernah bekerja sama dengan kerajaan Qin demi menentang sisten Inegrasi Vertikal. Tapi kemudian, kerajaan Wei menaklukkan dan menjajah mereka.

Gongsun Yu membenarkannya. Bahkan setelah itu, Raja kerajaan Qin mengasingkan Raja kerajaan Wey ke Yewang. Sejarah kerajaan mereka penuh dengan kepedihan.

Gongsun Li mengerti kalau tujuan Lu Bu Wei adalah demi menyatukan semua kerajaan. Menurutnya, peperangan antar kerajaan tidak akan pernah berakhir jika ke-6 kerajaan tidak mau bersatu.


Baik Gongsun Yu maupun Jing Ke terkejut mendengar ucapan Gongsun Li itu. Jing Ke berkomentar kalau pengetahuan Gongsun Li tentang seluk beluk politik sungguh luar biasa, tak kalah dari laki-laki.

"Tentu saja. Jika saja aku tidak terlahir sebagai perempuan maka aku pasti sudah mengikuti jejakmu, bekerja untuk istana." Ujar Gongsun Li. Tapi Gongsun Yu tampak tak nyaman mendengar ucapan cucunya itu dan buru-buru mengalihkan topik.


Raja kerajaan Qin, Ying Zheng (Zhang Bin Bin), sedang berburu di pegunungan barat. Dia berhasil memanah seekor rusa dengan didampingi puluhan pengawal. Puas, ia pun memerintahkan para pengawalnya untuk membawa pergi rusa itu.

Tapi tiba-tiba saja seorang pejabat bernama Zuo Yi datang dan memberitahu bahwa rusa itu tidak boleh dibawa. Dia menjelaskan bahwa setiap binatang yang diburu di wilayah ini harus diserahkan pada Bangsawan Changxin.

Raut wajah Ying Zheng langsung berubah mengeras mendengarnya. Zuo Yi menjelaskan bahwa aturan mengenai wilayah perburuan di pegunungan barat ini dibuat berdasarkan keputusan Ibu Suri.

Walaupun tampak jelas marah, tapi Ying Zheng tetap tenang dan memutuskan mematuhi aturan itu dan menghadiahkan rusa itu pada Bangsawan Changxin.


Saat rombongan Gongsun Yu memasuki kota Yuanyong, mereka melihat seorang gadis kecil yang terlempar ke udara oleh beberapa prajurit.

Tapi untunglah seorang pendekar yang tampak memiliki ilmu bela diri yang tinggi, cekatan menangkap anak itu dan menghajar para prajurit itu dengan mudah sampai mereka ketakutan dan langsung lari tunggang langgang.

Dialah pendekar Ge Nie yang mereka bicarakan semalam. Gongsun Li langsung menyapanya dan memperkenalkan mereka semua padanya. Dia mengaku bahwa mereka kemari untuk bertemu dengannya.


Gongsun Yu menjelaskan tujuan mereka mencarinya karena mereka ingin Ge Nie bergabung bersama mereka untuk membantu ke-6 kerajaan. Gongsun Li berkata bahwa jika seorang pendekar hebat sepertinya bergabung bersama mereka untuk melawan Qin, maka dia bisa sangat mempengaruhi bangkitnya moral rakyat.

Tapi Ge Nie tegas menyatakan kalau dia tidak tertarik membantu ke-6 kerajaan dan mengklaim kalau dia tidak sehebat yang mereka pikir. Tapi jika Gongsun Yu berhasil menghalanginya meninggalkan kota ini, maka dia bersedia mendengarkan apa yang mau Sun Yu sampaikan.


Ge Nie pun bergerak pergi, tapi Gongsun Yu dengan cepat menghalanginya hingga mereka saling beradu pedang dalam gerakan yang begitu indah dan artistik. Saat akhirnya rehat sejenak, mereka sudah berhasil mematahkan semua bangunan kayu di sekitar mereka.


Ying Zheng bersama adik tirinya, Chengjiao, pergi mengujungi Ibu Suri di Istana Changyang. Tapi yang mereka dapati di sana malah Ibu Suri sedang bermesraan dengan Bangsawan Changxin. Mereka bahkan begitu asyik hingga tidak menyadari kehadiran orang lain.

Ying Zheng tampak jijik melihat mereka dan cepat-cepat berdehem untuk menarik perhatian mereka. Kaget, mereka buru-buru saling melepaskan diri dengan panik.

Ibu Suri membuat-buat alasan kalau dia sedang sakit kepala jadi dia meminta Lao Ai (Nama Bangsawan Changxin) untuk memijatnya.


Ying Zheng tampak jelas tak mempercayainya, tapi dia tak membahasnya dan beralih topik memberitahu Ibu Suri bahwa persiapan upacara penobatannya sudah siap. Dia dan Chengjiao akan berangkat ke Kota Yong hari ini.

"Baguslah, Yang Mulia sudah lama menantikan upacara penobatan ini. Aku ikut bahagia untukmu. Acara yang begitu menggembirakan. Saudaramu juga akan datang menyaksikannya. Almarhum Raja juga akan merasa bersyukur." Ujar Ibu Suri.

Melirik Lao Ai, Ying Zheng menyinggung masalah perburuan di pegunungan barat yang sekarang dikuasai oleh Lao Ai. Ibu Suri beralasan kalau Ying Zheng kan sibuk dengan urusan negara, jadi dia menugaskan Lao Ai untuk menangani hal-hal kecil untuk membantu meringankan bebannya Ying Zheng.


Lao Ai menawarkan untuk mengembalikan rusa buruannya Ying Zheng jika Ying Zheng menyukainya. Ying Zheng menolaknya dengan senyum sinis. Karena Ibu Suri jarang pulang dan lebih banyak tinggal di istana ini, jadi Ying Zheng memutuskan untuk menghadiahkan rusa itu untuk Ibu Suri.


Gongsun Yu dan Ge Nie masih bertarung dengan sengitnya. Gongsun Yu hampir saja menang saat dia mendorong pedangnya ke Ge Nie. Tapi Ge Nie lebih cekatan menekan gagang pedangnya ke dada Gongsun Yu.

Gongsun Yu pun kalah dan ia menerima kekalahannya dengan besar hati, Ge Nie memang patas dijuluki pendekar pedang terbaik di dunia.


Ge Nie menegaskan kalau dia tidak pernah melibatkan diri dalam politik istana. Tapi karena mereka bertemu di sini, Ge Nie pun memberitahu mereka bahwa Jenderal Meng Wu memimpin pasukan ke luar kota.

Kerajaan Wey sudah sejak lama menjadi jajahan Kerajaan Wei. Jika Kerajaan Qin terus memaksa untuk memperluas wilayah ke timur, maka Raja Wei akan melindungi dirinya sendiri dengan cara mengorbankan Kota Puyang (yang ada di Wey). Ge Nie lalu pamit pergi. Sun Yu tentu saja cemas menyadari Kota Puyang dalan bahaya.


Ying Zheng berjalan keluar sambil terus menggerutu kesal dengan pemandangan menjijikan tadi sampai Chengjiao harus menegurnya dan memintanya untuk tidak marah-marah hanya karena pejabat rendahan seperti Lao Ai.

Lao Ai itu terkenal sebagai pria kasar dan tidak tahu sopan santun. Dan sekarang dia jadi semakin arogan setelah mendapat anugerah yang tak disangka-sangka.

"Orang-orang bilang kalau Lao Ai itu kasim palsu dan bukan pejabat sungguhan. Mereka bilang kalau Ibu menyukai wajahnya yang tampan dan tidur dengannya. Kau percaya itu?"


"Kalaupun itu benar, lalu kenapa? Kalau kita menghukum Lao Ai dan beritanya tersebar, maka reputasi Ibu Suri akan semakin buruk."

"Sejak kapan Ibu peduli dengan reputasinya?"

Tak ingin membahas masalah ini lebih jauh, Chengjiao mengingatkan Ying Zheng untuk fokus saja melawan perdana menteri, tidak perlu memikirkan masalah harem. Tapi menurut Ying Zheng, cara untuk melemahkan raja, justru bisa dimulai dari harem.

 

Li Zhong, kepala rumah tangga istana, datang tak lama kemudian dan mengabarkan bahwa dia sudah menangani urusan rusa buruan itu sesuai perintah Ying Zheng. Entah apa yang dia perintahkan, tapi hal itu membuat Ying Zheng senang.
 

Saat Ibu Suri terbangun keesokan harinya, ia malah terkejut melihat darah di tangannya dan di dada Lao Ai. Tapi Lao Ai sendiri baik-baik saja. Mereka langsung bingung mencari asal darah itu.

Mereka membuka selimut dan langsung shock mendapati kepala rusa berlumuran darah ada di ranjang mereka. Tak ayal, mereka berdua langsung saling berangkulan sambil gemetar ketakutan.


Rombongan Gongsun Yu tiba di sebuah penginapan dan bertemu Han Shen yang juga muridnya Gongsun Yu.

Han Shen sudah cemas menunggu mereka, dia kira kalau mereka bertemu pasukan Qin. Dia memberitahu mereka bahwa pasukan Qin membangun markasi tak jauh dari luar Kota Puyang. Mungkin mereka akan menurunkan pasukan mereka malam ini.

Mendengar itu, Gongsun Yu menduga kalau pasukan Qin pasti sudah sangat siap untuk merebut Kota Puyang hanya dengan satu pertempuran. Gong Sun Yu akan memimpin pasukan untuk melindungi Kota Puyang dan menyuruh kedua muridnya untuk melindungi gerbang kota timur dan barat untuk membantu rakyat mengungsi dengan aman.


"Kakek, apa yang bisa kulakukan?" Tanya GongSun Li yang tidak diberi tugas apapun.

Tapi alih-alih memberi cucunya tugas, Gongsun Yu meminta Jing Ke untuk menjaga Gongsun Li baik-baik. Gongsun Li langsung protes tidak terima, dia tidak mau diam saja.

"Kakek, biarpun aku wanita. Tapi aku juga punya hati dan keinginan untuk melindungi negaraku."

Jika kedua saudara seperguruannya membantu warga mengungsi, dia juga bisa melakukan hal yang sama. Sun Yu sama sekali tak meragukan tekad Sun Li untuk membantu mereka yang miskin dan lemah.

Tapi saat ini keadaan tidak aman dengan pasukan Qin yang sudah mendekat. Kota Puyang dalam bahaya besar. Gongsun Yu hanya ingin memastikan Gongsun Li aman karena dia adalah satu-satunya keturunan Keluarga Gongsun.


Gongsun Li sedih mendengarnya. Dulu orang tuanya mengorbankan nyawa mereka demi melindunginya. Sekarang kakeknya juga ingin mengorbankan nyawanya sendiri. "Apa ini satu-satunya cara agar keluarga Gongsun bisa menjaga keturunan satu-satunya?"

Gongsun Yu menegaskan kalau dia harus melidungi tanah airnya yang saat ini berada dalam bahaya. Gongsun Li tidak mengerti, apakah menjadi kesatria itu begitu penting? Bahkan sekalipun keluarga Gongsun memiliki banyak kejayaan dan menjadi kesatria, tapi apa gunanya jika hanya dia satu-satunya yang bertahan hidup?


Dengan membawa segel kerajaan yang didapatkannya dari Ibu Suri, Lao Ai sedang menghasut para pasukan bahwa raja yang sekarang adalah raja palsu dan Raja yang asli sudah mati terbunuh oleh si raja palsu.

Dia menunjukkan lencana militernya dan memerintahkan para pasukan (atas nama Ibu Suri) untuk ikut dengannya ke Kota Yong besok dan membunuh si raja palsu.

Bersambung ke part 2

1 comments:

Masih blom dapat feell a tetap semangat kak sama sinopsisnya 😃😃

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon