Powered by Blogger.

Images Credit: Zhejiang TV

Sinopsis  The King's Woman Episode 1 - 2


Keesokan harinya, Ying Zheng menjalani upacara penobatannya sebagai Raja Qin. Acara dimulai dengan Ying Zheng melakukan penghormatan pada para leluhur lalu dilanjutkan dengan penobatan oleh perdana menteri Lu Buwei, lalu ditutup dengan sejud hormat dari para pejabat dan pasukan kerajaan.

Tampak senyum kecil penuh kepuasan di wajah Ying Zheng saat melihat orang-orang yang bersujud padanya sebelum kemudian dia mempersilahkan mereka berdiri.


Sementara itu, pasukan Qin mulai menerobos Kota Puyang dengan dipimpin Jenderal Meng Wu. Peperangan itu begitu keji dan bengis, darah tertumpah dari kedua kubu. Tapi jelas kekuatan Qin jauh lebih besar dan pasukan Wey dibantai dalam waktu singkat.

Bahkan dengan mudahnya mereka mendobrak gerbang Kota Puyang, sementara Gongsun Yu hanya bisa melihat tak berdaya.

 

Li Zhong datang tak lama kemudian untuk mengabarkan kalau pasukan Qin sudah berhasil menerobos Kota Puyang dan ini adalah hadiah dari Jenderal Meng Wu untuk penobatannya Ying Zheng.


Saat Jenderal Meng Wu memasuki kota, dia melihat Gongsun Yu dan Han Shen. Dia langsung memanggil ke-4 pendekar andalannya (Angin, Hutan, Api dan Gunung) untuk melawan pasukan musuh yang masih tersisa.

Gongsun Yu pun segera memerintahkan Han Shen untuk melindungi dan memimpin warga melarikan diri sementara dia akan berusaha menahan ke-4 pendekar itu. Han Shen protes tak setuju, tapi Gongsun Yu ngotot memaksanya pergi.

Han Shen pun pergi, dan Jenderal Meng Wu memerintahkan ke-4 pendekar untuk bergerak. Tapi dua dari mereka, tiba-tiba pergi ke arah lain. Sontak saja Gongsun Yu panik dan buru-buru mengejar kedua pendekar itu.


Seorang jenderal lainnya datang memberitahu Ying Zheng tentang Lao Ai yang menghasut para prajurit untuk membunuh Ying Zheng yang dia tuduh raja palsu dan sekarang mereka sedang bergerak kemari. Lao Ai bahkan memiliki cap mobilisasi pasukan milik Ibu Suri.

Flashback.


Cap militer milik Ibu Suri itu ternyata bukan diberikan oleh Ibu Suri pada Lao Ai, melainkan dirampas secara paksa oleh Lao Ai.

Ibu Suri bahkan berusaha memohon pada Lao Ai untuk tidak melakukan pemberontakan ini karena Ying Zheng adalah putranya. Tapi Lao Ai tak peduli dengan alasan kalau dia tidak membunuh Ying Zheng maka Ying Zheng akan membunuhnya duluan.

Flashback end.


Chengjiao heran, dari mana Ibu Suri memiliki cap mobilisasi pasukan? Lu Buwei mengaku kalau dialah yang memberikan cap militer itu pada Ibu Suri demi menjamin keselamatan Ibu Suri selama dia tinggal di Kota Yang. Dia tak menyangka kalau cap itu akan salah digunakan oleh penjahat itu.

Ying Zheng nyinyir mendengar kata-kata Lu Buwei itu, bukankah Lu Buwei sendiri yang menawarkan Lao Ai ke Ibu Suri? Dia lalu memerintahkan Li Zhong untuk menyiapkan kuda untuknya.

"Aku harus membunuh Lao Ai dengan tanganku sendiri."


Saat pasukan Qin hendak menyerang para warga Wey yang hendak melarikan diri, Gongsun Yu muncul tepat waktu melindungi mereka. Ia segera memerintahkan warga untuk kabur, sementara ia seorang diri menangani para pasukan Qin dan ke-4 pendekar.


Romobongan Gongsun Li berhenti di sebuah tanah lapang untuk beristirahat dan kali ini dia mengubah penampilannya dan menyamar jadi errr... pria. (Cewek secantik ini menyamar jadi cowok? Wkwkwk)

Gongsun Li tanya apakah Kakeknya akan menemui mereka di sini? Dia penasaran apakah Kakeknya sudah meninggalkan kota sekarang? Jing Ke terdiam galau, tak tahu bagaimana harus menjawabnya.

Karena ternyata dalam flashback, Gongsun Yu sebenarnya tidak berencana meninggalkan kota. Malam itu, ia malah mengaku ke Jing Ke bahwa jika kota hancur maka ia pun akan mati.


Gongsun Li heran melihat raut wajah Jing Ke dan menuntut jawaban Jing Ke. Terpaksalah, Jing Ke akhirnya mengakui kalau Gongsun Yu tidak akan datang.

"Guru bilang kalau dia akan melindungi Kota Puyang hingga titik darah penghabisan. Ia tidak ingin kau ikut mati bersamanya. Jadi dia memintaku untuk membawamu pergi."

Shock, Gongsun Li langsung marah-marah padanya dan memutuskan kembali ke kota saat itu juga. Cemas, Jing Ke pun bergegas menyusulnya.


Gongsun Yu berusaha melawan dan bertahan sekuat tenaga, tapi tampak jelas ke-4 pendekar itu jauh lebih kuat darinya. Dia berhasil menusukkan pedangnya ke mata salah satu pendekar. Tapi si pendekar juga berhasil menusukkan pedangnya ke tubuh Gongsun Yu.


Saat Gongsun Li dan Jing Ke tiba di sana, mereka mendapati Gongsun Yu sudah terkapar di tanah dalam keadaan sekarat. Dengan tenaga yang masih tersisa, Gongsun Yu meminta Jing Ke untuk melindungi Gongsun Li.

Gongsun Li memohon agar kakeknya bertahan, dia janji akan mencarikan tabib. Tapi Gongsun Yu tahu kalau ajalnya sudah semakin dekat.

"Li'er, kau bisa lihat bagaimana dunia saat ini. Manusia rela bertempur sampai mati hanya demi kekuasaan. Ingatlah kata-kataku, tidak perlu hidup berkorban untuk rakyat. Hiduplah untuk dirimu sendiri."


Gongsun Yu semakin lemah. Sekali lagi ia meminta Jing Ke untuk melindungi Li'er lalu ia pun menghambuskan nafas terakhirnya. Li'er dan Jing Ke menangis pilu, meratapi kepergiannya.


Pasukan pengkhianat yang dipimpin oleh Ying Zheng dan Chengjiao, berhasil dikalahkan. Namun Lao Ai berhasil melarikan diri. Saat Ying Zheng dan pasukannya tiba di markasnya Lao Ai, dia memerintahkan semua orang yang ada di sana dibunuh dengan sadisnya.

Ying Zheng bahkan turun tangan langsung membantai semua orang yang menghalangi jalannya lalu menggorok leher tangan kanan Lao Ai. (Wiiih! Kejamnya!)

"Sebar perintahku. Kejar terus Lao Ai!" Perintahnya.


Setelah membantai semua anak buah Lao Ai, Ying Zheng langsung pergi melabrak ibunya. Dengan takut-takut, Ibu Suri berusaha meyakinkan Ying Zheng kalau dia juga dibohongi oleh Lao Ai. Dia tidak pernah menyerahkan cap militer itu ke Lao Ai.

Tapi Ying Zheng terlalu marah untuk mempercayainya dan langsung mengarahkan pedang ke Ibu Suri. Tidak terima karena dia dihina oleh Lao Ai dan Ibu Suri malah memberikan segalanya untuk Lao Ai.

Ibu Suri meratap sedih, "Kau tak mengerti betapa menderitanya aku dalam hati. Kau tak mengerti kalau aku sangat kesepian."


Tepat saat itu juga, Lu Buwei datang dan Ibu Suri langsung lari ke belakang punggung Buwei. Dia juga meyakinkan Ying Zheng kalau Ibu Suri benar-benar ditipu oleh Lao Ai. Bagaimanapun, dia tetaplah Ibunya Ying Zheng yang mengandung dan melahirkannya.

"Meski dia membohongimu, namun rasa cintanya sebagai orang tua tidak berubah. Mohon berikan hukuman yang ringan."


Ying Zheng tertawa sinis sebelum kemudian mengarahkan pedangnya ke Buwei. "Aku memanggilmu paman. Bahkan si pengkhianat Lao Ai itu menyebutmu sebagai ayah angkatku. Selain Raja terdahulu, masalah kasih sayang orang tua ini, aku mendapatkanya dari banyak ayah."

Ibu Suri panik memohon pada Ying Zheng untuk tidak membunuh Buwei. "Kau tidak boleh membunuh Perdana Menteri. Dia... dia adalah..." (Apa? Apa? Apa?)

"DIAM!" Bentak Ying Zheng.

Dia memutuskan tidak membunuh Ibu Suri. Tapi karena Ibu Suri bekerja sama dengan pemberontak, Ying Zheng menghukum Ibu Suri dengan mengasingkannya. Ibu Suri langsung jatuh berlutut memohon pengampunan Ying Zheng, bahkan berusaha meminta Buwei untuk menolongnya. Tapi tak ada yang bisa Buwei lakukan dan keputusan Ying Zheng pun sudah bulat.


Li'er dan Jing Ke mengubur Gongsun Yu di sebuah hutan dan mereka memberikan penghormatan terakhir dengan berlinang air mata. Li'er benar-benar sedih, sekarang dia tak memiliki siapapun lagi. Apa yang bisa dilakukan wanita lemah sepertinya untuk dunia ini?

Jing Ke mengulurkan tangan, berniat menghiburnya. Tapi sesuatu membuatnya ragu dan akhirnya dia mengurungkan niatnya.

 

Di istana, beberapa pelayan tengah membantu Ying Zheng memakai jubah kebesarannya. Dia lalu mengeluarkan secarik kain yang membuatnya teringat akan masa kecilnya.

Flashback.
 

Ying Zheng kecil hampir terjatuh ke jurang. Tapi untunglah ada seorang gadis kecil dan anak lelaki lain yang menolongnya. Si gadis kecil itu ternyata Gongsun Li kecil dan si anak lelaki satunya adalah Jing Ke kecil. (Jadi mereka teman masa kecil? Waduh, sekarang mereka malah berada di pihak yang berbeda.)

Gara-gara insiden itu, tangan Ying Zheng kecil terluka. Lalu Li'er kecil mencoba meringankan lukanya itu dengan menciumi tangan Ying Zheng kecil berulang dan Ying Zheng kecil tampak terpesona pada Li'er.

Setelah selesai menciumi tangannya, Li'er kecil memperban tangan Ying Zheng kecil dengan kain (kain yang masih disimpan Ying Zheng sampai sekarang).


Ketiga anak itu lalu berdoa pada bulan di langit. Li'er kecil berharap mereka semua bisa selamat, sehat dan bersahabat selamanya. "Aku berharap perdamaian di dunia ini dan tidak ada lagi peperangan."

"Aku harap berharap aku semakin maju dalam ilmu bela diri dan ilmu pedangku mencapai kesempurnaan sehingga aku bisa melakukan hal kesatria seperti guruku dan melindungi rakyat kecil dari kejahatan." Harapan Jing Ke kecil.

"Aku berharap untuk menjadi seseorang yang ditakuti semua orang agar aku bisa melindungi orang-orang yang ingin kulindungi." Itulah harapan Ying Zheng kecil.

Flashback end.


Li Zhong datang tak lama kemudian untuk mengabarkan bahwa semua menteri sudah datang ke istana, Ying Zheng bisa masuk sekarang. Ying Zheng menyimpan kain itu kembali ke dalam jubahnya lalu pergi.

Bersambung ke episode 2

3 comments

Tambah seru 😉
lanjut unnie.....

Wahh penasaran! Lanjut terus ya bkin sinop nya fighting~|

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon