Powered by Blogger.

 Images Credit: KBS2

Sinopsis School 2017 Episode 5 - 1

Episode 5: Sesuatu Yang Tidak Tercatat dalam Evaluasi Siswa.

 

Eun Ho melongo shock mendapati si X yang dia kira Dae Hwi ternyta malah Tae Woon. Tapi dia tak percaya kalau Tae Woon si X, Tae Woon pasti cuma peniru kan? Dia pasti meminjam jaket hitam ini dari Suk Soo, iya kan?

Tae Woon menggerutu tersinggung dengan tuduhan Eun Ho. Tidak terima dikatain peniru, dia tidak melakukan sesuatu yang tidak orisinal, tahu! Dia sama sekali tidak suka meniru-niru. Dia lebih tidak suka dengan orang yang suka meniru.

"Yah, deh. Yah, deh. OMO! X-nya ada di sini!" Seru Eun Ho.

Tae Woon sontak membekap mulutnya. Eun Ho masih belum bisa mempercayainya. Apa Tae Woon anak-anak sampai meniru-nirukan si X?


Kesal, akhirnya Tae Woon membawa Eun Ho ke gudang yang sekarang jadi markasnya. Eun Ho masuk dengan wajah sinis... sampai saat dia melihat berbagai bukti berupa drone bergambar wajah Kepsek. Di sana pula, dia melihat fotonya Tae Woon bersama Dae Hwi dan Joong Gi.Eun Ho sungguh sulit mempercayainya, jadi Tae Woon sungguh si X betulan?

"Ini tidak masuk akal."

"Tidak mempercayai orang, itu adalah kebiasaan buruk."

Eun Ho menggerutu kecewa. Kenapa Tae Woon jadi si X. X itu kan memperjuangkan keadilan, wajahnya tampan dan peringkatnya juga bagus. Tae Woon dengan pedenya mengklaim kalau dia memenuhi semua kriteria itu.


Eun Ho ingat kalau si X pernah kena sayatan kaca di pinggangnya. Pinggangnya Tae Woon kan tidak ada bekas lukanya. Tae Woon mengoreksi, sayatannya bukan di pinggang, tapi di perut bagian bawah. Mau lihat untuk membuktikan? Haruskah dia buka celana? Eun Ho sontak memalingkan muka dengan malu dan kesal.


"Apa itu artinya kau memang X?"

"Iya." Tae Woon bangga.

Eun Ho sontak mendorong dadanya dengan kesal. Lalu kenapa Tae Woon melakukan hal-hal semacam itu? Itu hanya karena Tae Woon merasa kesal dan bosan. Eun Ho makin kesal mendengar alasannya.

"Apa ini menyenangkan bagimu? Tanpa tahu apa-apa, aku berlarian ke sana-kemari mencari X. Apa bagimu itu lucu? Apa kau menganggapku bodoh dan menyedihkan? Aku benar-benar putus asa. Kau mungkin melakukannya karena kesal dan bosan. Tapi karena perbuatanmu itu, aku... jadi sangat menderitanya."

Tae Woon jadi tak enak mendengarnya. Makanya kan dia menyelamatkan Eun Ho. Eun Ho makin sinis mendengarnya. Kalau Tae Woon mau main jadi pahlawan, dia main saja sendiri.

Ah, Eun Ho tahu. Pasti karena semua ini bukan masalah bagi Tae Woon. Soalnya kan dia anak direktur. Jadi tidak masalah walaupun dia ketahuan. Tae Woon tidak terima dengan tuduhannya.


Tiba-tiba mereka mendengar suara orang yang berusaha mendobrak pintu itu. Soo Ji berusaha keras membuka pintu itu tapi gagal. Yakin Tae Woon tidak akan bermasalah biarpun dia ketangkap, Eun Ho pun langsung berteriak.

Tapi Tae Woon cepat-cepat membekap mulutnya dan memperingatkannya bahwa jika dia ketangkap sekarang, maka Eun Ho akan dianggap sebagai komplotannya.


Tapi seruan Eun Ho barusan sempat terdengar oleh Soo Ji. Dia yakin mendengar sesuatu dari dalam. Tapi Kang Myung tidak mendengar apapun dan berusaha menghentikan Soo Ji, dia yakin tak ada apapun di dalam situ.

Tapi Soo Ji bersikeras kalau dia punya firasat tentang gudang ini dan terus berusaha membuka pintunya. Di mana kuncinya? Apa Kang Myung belum menemukannya? Kang Myung sedang berusaha mencarinya, tapi terus bersikeras meyakini kalau ini bukan tempatnya si X.

"Kalau begitu, aku harus merusak pintu ini." Gerutu Soo Ji, mereka lalu pergi dan Tae Woon akhirnya bisa mendesah lega.


Eun Ho mau pergi, tapi Tae Woon menahannya dan menyarankan Eun Ho untuk menghentikan semua ini. Eun Ho sontak sinis, Tae Woon lah yang harusnya berhenti melakukan hal-hal kekanak-kanakan ini.

"Semua ini karenamu...!" Kesal Tae Woon, tapi dia langsung menghentikan dirinya sendiri.

"Dasar bed*b*h egois! Aku tidak mau melihatmu lagi."


"Laporkan saja kalau begitu. Lakukan saja kalau itu yang kau mau. Baguslah, lagian aku mau berhenti kok."

"Yah, aku memang mau melaporkanmu. Kau kan tidak takut pada apapun. Karena ayahmu, sekolah ini seperti taman bermainmu dan anak-anak adalah mainanmu, iya kan?"

Tae Woon sungguh kecewa dengan anggapan Eun Ho tentangnya. Kalau Eun Ho memang memahaminya maka seharusnya dia jaga kelakuannya itu. Dia tahu kalau Eun Ho kesal dan kebingungan, tapi dia katakan saja apa yang dia tahu.

"Baik. Mana berani aku bicara sembarangan tentang anak pemilik sekolah ini. Aku juga tahu posisiku" sinis Eun Ho.

"Setidaknya kau sekarang sadar siapa dirimu."


Saat Tae Woon pulang, dia mendapati Kepsek sedang diomeli ayahnya gara-gara mengumumkan poin para murid secara terbuka itu, sekarang dilaporkan ke Kementerian Pendidikan. Kepsek meminta maaf dan berjanji akan melakukan segala cara untuk menangkap si X.

Tae Woon yang tengah membungkuk hormat pada Kepsek, sontak canggung mendengarnya. Dia hendak masuk kamar, tapi Dir. Hyun tiba-tiba berkata. "Dia mungkin saja bukan siswa biasa. Kau harus mengungkap semua perbuatannya itu dan meminta pertanggungjawabannya."


Tae Woon masuk kamar dengan kesal. Melihat kupon ayamnya Eun Ho, Tae Woon makin kesal teringat sindiran Eun Ho padanya tadi. Eun bahkan tak tahu apa-apa. Pada saat yang bersamaan, Eun Ho dengan kesal menggambar si X dengan muka seram.


Keesokan paginya, Dae Hwi naik bis sambil baca buku. Nam Joo naik di halte berikutnya dan Dae Hwi pun langsung memberikan kursinya sambil terus baca buku. Nam Joo mendesah kesal melihat itu.

Dae Hwi tahu apa yang Nam Joo kesalkan. Tapi dia mencoba menjelaskan tapi Nam Joo memotongnya dengan cepat. Dia tahu kalau Dae Hwi membacanya karena sebentar lagi ada evaluasi siswa.

"Sepertinya tak ada yang perlu kau cemaskan." Komentar Dae Hwi.

Konsultannya Nam Joo pasti akan mengurus semuanya untuk Nam Joo. Nam Joo sontak canggung mendengarnya. Dae Hwi penasaran apakah Nam Joo akan magang di perusahaan ayahnya? Nam Joo malah bingung apa maksud Dae Hwi dengan 'perusahaan ayahnya'?

Bukankah keluarganya Nam Joo punya perusahaan yang didirikan oleh kakeknya, Simgang Logistics. Dia mengaku kalau dia mengetahuinya saat sedang melakukan riset. Entah kenapa Nam Joo jadi semakin canggung dan gugup mendengar semua itu.


Kang Myung membagi-bagikan hasil laporan evaluasi murid-murid-nya dan menyuruh mereka untuk membandingkan hasil evaluasi tahun kedua ini dengan evaluasi tahun pertama mereka. Tandai apa-apa saja yang harus mereka masukkan untuk tahun kedua mereka.

Buatlah rencana masa depan yang detail melebihi yang sudah meka buat tahun lalu. Kalau ada yang perlu ditanyakan, mereka boleh konsultasi padanya. Ia juga memperingatkan mereka untuk tidak memberikan laporan evaluasi mereka pada siapapun.

Dalam laporan evaluasinya, Tae Woon dikatakan sebagai orang yang sangat berterus terang dalam mengungkapkan pendapatnya. Tae Woon mendengus sini, sungguh dekripsi yang parah.


Soo Ji tanya evaluasi siswa itu untuk apa. Kenapa anak-anak begitu heboh tentang hal itu. Kang Myung berkata kalau evaluasi itu seperti catatan kehidpan mereka. Evaluasi itu bisa dijadikan penentu mereka masuk universitas berdasarkan seberapa bagus evaluasi mereka.


Eun Ho tiba-tiba datang mengeluh, evaluasinya perlu bantuan mendesak. Eun Ho membayangkan hasil evaluasinya seolah dia kena penyakit kritis yang bisa merenggut nyawanya. Dia dilarikan ke RS dengan ditemani keluarganya yang menangis-nangis dan memohon-mohon pada pak Kepsek untuk menyelamatkan nyawa Eun Ho.


Sementara Eun Ho kritis di meja operasi, para guru mulai mendiskusikan kelangsungan nasib Eun Ho. Sepertinya dia takkan bisa masuk universitas dengan rangkingnya yang ada di level enam. Evaluasinya juga hampir kosong, belum lagi pengurangan poinnya dan kegiatan ekstrakulikulernya juga tidak banyak membantu.


Soo Ji heran, bukankah bagus kalau tidak semuanya berdasarkan peringkat. Universitas biasanya menerima siswa berdasarkan berbagai cara, bisa dengan evaluasi atau dengan peringkat.

Kang Myung setuju, para murid bisa menjelaskan sendiri tentang bakat dan impian masing-masing dalam evaluasi mereka. Eun Ho mengingatkan, semua itu juga tergantung pada uang. Untuk bisa melakukan berbagai kegiatan, kita harus mengikuti berbagai les privat.

Jadi initinya, Eun Ho harus belajar sepanjang malam jika dia mau kuliah lewat jalur peringkat. Dan jika dia ingin masuk kuliah melalui evalusi maka dia harus punya uang banyak.


Kang Myung canggung begitu melihat catatan evaluasinya Eun Ho. Agak berantakan, yah. Jadi, apakah itu artinya dia tidak akan bisa diterima di universitas manapun? Kang Myung geleng-geleng canggung sebelum akhirnya jujur mengangguk.

Tapi dia tetap berusaha menyemangati Eun Ho. Dia masih punya waktu kok, jadi Eun Ho tidak boleh menyerah. Eun Ho penasaran, apakah di sekolah mereka ini tidak ada kontes menggambar? Kalau ada, Eun Ho pasti akan berusaha sebaik mungkin. Tapi Kang Myung tak yakin, dia belum mendengar adanya kontes menggambar. Tapi dia berjanji akan mencari tahu.

"Pokoknya, jangan menyerah dengan evaluasimu. Mari kita lakukan segala cara, mengerti? Ah, cobalah minta saran dari seniormu."


Eun Ho pun langsung menghubungi Jong Geun sunbae tepat saat Tae Woon ada di sana dan langsung merengut kesal mendengar Eun Ho bicara dengan Jong Geun lagi. Hmm... atau mungkin dia cemburu? Heee.

Tapi Eun Ho malah diberitahu kalau Jong Geun mau kemping bersama pacarnya. Eun Ho kecewa. Tae Woon langsung sinis, dia sudah tahu kalau si Jong Geun itu pengkhianat. Dari mukanya saja sudah kelihatan.

 

Eun Ho kesal, kalau bukan karena 'seseorang', dia pasti bisa masuk Hanguk. Karena 'seseorang' menjebaknya, dia jadi kena potongan poin. Kalau saja malam itu Tae Woon tidak ada di ruang guru...

"Itu yang terakhir bagiku! Kalau bukan karena kau, aku pasti akan berhenti! Semua ini karenamu! Aku bisa mengakhiri semuanya jika saja kau tidak dituduh seperti itu."

"Akhiri saja semuanya. Termasuk kau dan aku."

"Bagaimana aku bisa melakukan itu?"

Dia tidak masalah jika hanya dia yang tertangkap dan keluarkan dari sekolah. Tapi bagaimana dengan Eun Ho. Eun Ho kan punya teman dan punya impian kampungan untuk jadi penulis webtoon. Dia hanya tak ingin Eun Ho di-DO.


Eun Ho tersentuh mendengarnya. Tapi dia tetap memperingatkan kalau dia belum memaafkan Tae Woon. Dia akan terus mengawasi Tae Woon, jadi berhati-hatilah.

Eun Ho mau pergi, tapi Tae Woon mengingatkan, katanya Eun Ho mau mengawasinya. Dia mengakui dia merasa bersalah dan berjanji akan berusaha bersikap bijaksana biar Eun Ho bisa mengawasinya terus.


Mereka akhirnya ke toko komik bersama. Tae Woon menggerutu terus-terusan kalau komik itu kekanak-kanakan, tapi menolak pergi. Eun Ho memperlihatkan sebuah komik superhero dan menasehati Tae Woon tentang bagaimana menjadi superhero yang baik dan benar.

Dia harus punya jiwa pejuang, keinginan untuk menyelamatkan orang lain dan kerelaan untuk mengorbankan diri. Tapi dia masih penasaran, kenapa Tae Woon melakukan itu? Karena Tae Woon merasa frustasi di sekolah, jadi dia ingin sedikit bersenang-senang.

Sungguh hanya itu alasannya? Eun Ho tak percaya. Tae Woon meyakinkan dengan canggung, hanya itu alasannya.


Eun Ho lalu menyuruhnya membaca salah satu komik. Tae Woon menggerutu sebal... tapi begitu membacanya, dia malah ketawa-ketiwi sendiri. LOL.


Eun Ho lalu membawa Tae Woon ke tempat kerja paruh waktunya dan memaksa Tae Woon untuk membantunya menyebarkan selebaran. Tapi Tae Woon malas dan terus menggerutu kepanasan. Dia makin kesal tidak terima saat ada siswa yang mengacuhkan selebaran yang disodorkannya.

"Senyumlah," tegur Eun Ho. Tae Woon sontak nyegir kuda. Tapi ini namanya ekspolitai, dia tidak mau melakukannya. Baiklah, kalau begitu Eun Ho akan melaporkan Tae Woon ke ayahnya saja. Tae Woon sontak membungkam mulutnya.

Eun Ho kembali ke pekerjaannya, menyebarkan selebarannya dengan senyuman yang kontan membuat Tae Woon terpesona.


Dae Hwi dan Hee Chan tiba bersama tak lama kemudian. Tae Woon langsung mengerti apa yang Dae Hwi lakukan bersama Hee Chan dan langsung menyindir, "Apa kau masih melakukan itu?"

Kesal, Dae Hwi langsung mengajak Hee Chan masuk. Sambil menunggu lift, Dae Hwi menyerahkan berbagai PR-nya Hee Chan yang sudah selesai dia kerjakan. Hee Chan berterima kasih karena Dae Hwi masih menyempatkan waktu mengerjakan PR-nya.

"Aku kan tidak mengerjakannya secara gratis."


Sementara Hee Chan dan Ibunya berkonsultasi di dalam, Dae Hwi mencatat segalanya dari luar. Melihat laporan evaluasi Hee Chan, Konsultan menilai ini tidak buruk. Hanya saja kurang menonjol dan bisa jadi nilai minus.

Dia langsung mengakhiri sesi konsultasinya tepat waktu. Tapi Ibu Hee Chan langsung mengeluarkan seamplop uang demi minta waktu 10 menit lagi. Kali ini dia menyuruh Dae Hwi masuk.


Menurut Konsultan, biarpun Dae Hwi juara satu di sekolah, tapi Seoyul akan tetap berat untuknya. Tak ada yang istimewa dengan penghargaannya, tidak cukup banyak juga dan tidak akan berpengaruh.

Dae Hwi ingin berkonsultasi lebih lanjut. Tapi Konsultan mengakhiri konsultasinya saat itu juga. Ibunya Hee Chan memerintahkannya keluar, sementara dia menyuap si Konsultan dengan tas mewah.

Konsultan sontak memuji-muji evalusinya Hee Chan setinggi langit dan memberikan berbagai nasehat untuk membuat evaluasinya Hee Chan jadi lebih baik. Dae Hwi hanya bisa menahan kesal menyaksikan semua itu.


Pak Kepsek bertemu dengan beberapa ibu murid konglomerat, termasuk Ibunya Hee Chan. Kepsek memberitahu mereka bahwa sekolah akan membuat kompetisi sebelum semester berakhir. Ini adalah kesempatan untuk menyempurnakan nilai evaluasi anak-anak mereka.


Hee Chan kesal melihat laporan nilainya yang lagi-lagi peringkat 2 dibawah Dae Hwi. Ibunya sontak mengomelinya, tak senang karena Hee Chan masih belum bisa mengalahkan Dae Hwi. Peringkat dua artinya dia kalah dari Dae Hwi. Pokoknya, dia harus menang. Ibu lalu memberikan contoh soal kompetisi matematika yang akan diadakan oleh sekolah.

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon