Powered by Blogger.

Images Credit: KBS2

Sinopsis School 2017 Episode 5 - 2


Para guru rapat mendiskusikan kompetisi. Tapi ternyata kesempatan itu hanya akan diberikan beberapa siswa yang berprestasi. Kang Myung jelas tidak setuju dan berusaha menyuarakan pendapatnya agar mereka memberikan kesempatan pada semua murid secara adil. Jika tidak, maka setelah evaluasi berakhir maka anak-anak lain akan sulit berkembang nantinya.

Tapi guru-guru yang lain tak ada yang sependapat dengannya. Menurut Guru Koo malah keadilan itu artinya memberikan lebih banyak kesempatan pada para murid yang pintar. Bu Jang juga merasa percuma memberi kesempatan ini pada semua murid, toh mereka tetap tidak akan bisa masuk universitas biarpun mereka diberikan kesempatan ini.

"Karena sekolah terlalu mendiskriminasi, mereka jadi belajar mendiskriminasi di luar." Komentar Guru Jung.


Bo Ra dengan takut-takut memanggil Young Gun untuk konseling evaluasi ke Kang Myung. Jika tidak maka Kang Myung mengancam akan mendiskusikan masalah pelanggaran waktu itu dengan Soo Ji.

Kang Myung berusaha memberinya nasehat, tapi Young Gun mendengarkannya dengan malas-malasan dan menegaskan kalau dia tidak akan kuliah. Bagaimana bisa dia kuliah dengan nilainya yang sekarang. Memangnya jika pengurangan nilainya dibatalkan, dia akan bisa kuliah?

Setelah Young Gun pergi, Bu Jang menasehati Kang Myung untuk tidak usah buang-buang waktu demi anak-anak semacam itu. Tulis saja evaluasi singkat. lagipula Young Gun benar kok, dia tidak akan bisa kuliah.



Eun Ho mendesah bingung, dia harus mengisi evaluasinya tapi tak tahu bagaimana caranya. Dae Hwi menyarankan agar dia membuat webtoon berseri. Kalau dia dapat respon bagus, mungkin saja itu bisa membantu Eun Ho masuk universitas.

Eun Ho memikirkannya, dia memang ada rencana membuatnya sih. Tapi apa itu sungguh bisa membantu. Dae Hwi menduga bisa, Eun Ho kan jago menggambar. Sungguh? Apa Dae Hwi bahkan pernah melihat gambarnya? Dae Hwi langsung canggung mengiyakannya.

"Kau beruntung. Kau tidak perlu mencemaskan apapun, karena kau adalah murid top sekolah." Komentar Eun Ho. Ah, mereka masih harus bersih-bersih.


Saat mereka bertiga menghadap Guru Koo, mereka sontak diomeli panjang lebar. Guru Koo bahkan mengancam akan memperpanjang hukuman mereka. Saat mereka hendak pergi, tak sengaja mereka mendengar guru seni mmeberi selamat untuk Bit Na karena dia mendapat peringkat pertama dalam kompetisi seni.

Eun Ho sontak kaget mendengarnya, tidak terima karena dia tidak pernah diberitahu tentang adanya kompetisi itu. Guru itu berbohong kalau dia sudah mengumumkannya, mungkin Eun Ho saja yang ketinggalan informasi.

Eun Ho tak percaya, dia bahkan tidak pernah melihat satu pengumuman pun. "Jangan-jangan, kalian sengaja tidak memberitahuku?"

Guru mengklaim percuma bagi Eun Ho untuk mengikuti kompetisi ini, nilainya tidak cukup tinggi dan itu tidak akan bisa membantunya masuk universitas.

"Membantu atau tidak, seharusnya anda memberi kami kesempatan yang sama. Bagaimana bisa sekolah bertindak diskriminatif terhadap siswanya sendiri?"

"Hati-hati kalau bicara."

"Biarkan saya bicara satu kali lagi. Semua murid di Geumdo ini... memiliki hidup yang sama berharganya. Murid-murid top bukan satu-satunya yang harus diutamakan!"



Tae Woon kagum pada Eun Ho. Dalam perjalanan keluar, mereka bertemu Bu Jang yang tanya apakah kompetisi matematiknya sudah diumumkan. Dia hendak bilang tentang ayahnya Tae Woon, tapi kemudian dia ingat ada Dae Hwi di sana. Dia langsung buru-buru diam lalu pergi.

Dae Hwi sontak menatap Tae Woon dengan kesal. "Apa kau masih hidup seperti itu? Kau masih saja menurut pada ayahmu." Sindir Dae Hwi.


"Cemaskan saja dirimu sendiri. Aigoo, bukankah sekarang waktunya mengerjakan PR-nya Hee Chan?"

"Apa yang kau tahu tentangku?"

"Aku tahu semuanya. Kenapa? Apa kau berharap dia akan melemparkan lembarang uang ke mukamu?"

"Tutup mulutmu. Tapi, kenapa juga kau mengikuti kompetisi matematika?"


Setibanya di rumah. Dir. Hyun memberitahu tentang kompetisi matematika itu dan melemparkan kunci jawabannya ke Tae Woon. Dia cukup menghafalkannya saja. Tae Woon menolak ikut. Berikan saja kesempatan ini pada anak-anak yang merasa putus asa.

Dir Hyun jelas kesal mendengarnya, orang lain bahkan rela membunuh demi mendapatkan kesempatan ini. Makanya Tae Woon tidak mau, karena itu memalukan.

"Belakangan ini kau lumayan tenang, apa kau sedang bosan?"

"Jangan khjawatir, aku tidak akan buat masalah. Lagipula Ayah pasti akan membereskannya untukku. Sama seperti saat aku menghajar temanku... dan saat temanku meninggal, Ayah juga melakukan hal yang sama."

"Kalau kau tahu maka sadarlah. Aku tidak akan membiarkanmu hidup sesukamu." Dir Hyun membanting kunci jawaban itu ke meja hingga menyenggol pigura fotonya Joong Gi, lalu pergi.


Kesal, Tae Woon membuang kunci jawaban itu dan menegakkan kembali pigura foronya Joong Ki yang membuatnya mengingat kembali kejadian malam itu.

Flashback,


Setelah kecelakaan itu, Dir Hyun menelepon seorang reporter dan meminta reporter itu untuk menyiarkan berita bahwa Joong Gi adalah anak nakal dan Joong Ki lah yang mendadak memotong jalan ke depan bis.

Tae Woon terlalu sedih hingga dia menolak makan. Tapi begitu suster pergi, dia mengendap-endap keluar dari rumah sakit.


Hari itu adalah hari pemakaman Joong Gi, tapi tak ada satu orang pun yang datang melayat. Hanya ada Ibunya Joong Gi dan Dae Hwi. Asistennya Dir Hyun datang untuk memberikan seamplop uang kompensasi dan Ibu terpaksa menerimanya dengan tangan gemetar.


Ibu memberitahu Dae Hwi bahwa ia memutuskan untuk mengkremasi Joong Gi besok. Toh tidak akan ada yang datang, Ibu hanya ingin Joong Gi melupakan dunia yang kejam ini dan pergi sejauh mungkin dari sini.

Ibu berterima kasih pada Dae Hwi. "Joong Gi sering sekali membanggakanmu. Dia bilang kau pintar dan tampan dan baik. Setiap kali dia bicara, dia pasti membicarakanmu dan Tae Woon. Dia ingin berhenti sekolah. Tapi karena bertemu dengan kalian..."


Tangis Joong Gi sontak pecah. Ibu pun langsung menangis. Tae Woon datang tepat saat si Asisten pergi. Tae Woon sontak cemas menyadari apa yang dilakukan si Asisten di sana barusan.

Dia pun bergegas ke sana dan mendapati Ibu dan Joong Gi menangis. Tae Woon begitu tercengang melihat amplop uang dari Ayahnya hingga dia tak berani masuk menghadapi mereka dan akhirnya pergi. Dae Hwi dan Ibu terlalu sedih hingga mereka tidak melihatnya datang.


Keesokan harinya, Ibu datang membawa abu Joong Gi ke sekolah. Berniat memperlihatkan kelasnya Joong Gi untuk yang terakhir kalinya. Tapi pihak sekolah melarang keras.

Tae Woon begitu emosi melihat semua itu dan langsung pergi ke ruang Kepsek dimana Dir Hyun memerintahkan Kepsek untuk melarang abunya Joong Gi masuk biar tidak menganggu anak-anak. Kepsek setuju, mereka tidak boleh membuat gosip agar tak ada yang menggali masalah ini lebih dalam.

Tae Woon datang dan langsung berlutut di hadapan Ayahnya. Dengan berlinang air mata, dia berusaha memohon agar Dir Hyun mengizinkan abu Joong Gi masuk, satu kali saja. Dia berjanji akan mendengarkan apapun yang Dir Hyun katakan. Tapi Dir Hyun tak peduli sedikitpun dan langsung pergi.

Flashback end.


"Baik dulu maupun sekarang, aku tetap saja seorang pecundang." Keluh Tae Woon pada Joong Gi.


Saat dia beranjak pergi, dia melihat kupon ayamnya Eun Ho dan tampak memikirkan sesuatu. Dia lalu berkendara ke tempat biasa dan Eun Ho datang tak lama kemudian untuk mengantarkan pesanan ayamnya.

"Katanya ada gadis cantik yang mengantarkannya. Mana? Apa dia ikut?" Canda Tae Woon.

Eun Ho tahu, pesan ayam ini cuma alasan kan? "Apa kau suka..."

Tae Woon gugup "Apa?"

"Bikin masalah denganku?"

Tae Woon lega mendengarnya. "Tahu saja kau. Lain kali, aku akan memikirkan cara lainnya."


Mereka lalu duduk bersama. Eun Ho heran, ada apa dengan Tae Woon? Apa dia ketahuan ayahnya? Tidak, memangnya Tae Woon sama seperti Eun Ho yang selalu ketangkap basah? Apa Eun Ho tidak kerja paruh waktu hari ini.

"Tentu saja aku harus bekerja. Aku harus bekerja amat sangat keras supaya aku tidak merasa bersalah. Aku hidup menggantikan orang lain. Aku akan berusaha yang terbaik demi orang itu. Aku merasa bersalah, makanya aku harus berusaha keras."

Karena itulah, dia juga menasehati Tae Woon untuk tidak buang-buang waktu dan hiduplah dengan baik. Eun Ho tahu kalau Tae Woon pasti sedang memikirkan Joong Gi. "Kau pasti memikirkannya lebih daripada aku memikirkannya."


Keesokan harinya, Dae Hwi melihat pengumuman kompetisi itu dan berniat mau ikut. Hee Chan jelas tak senang dengan hal itu dan berusaha membuat Dae Hwi membatalkan niatannya dengan berkata bahwa juri kompetisi itu adalah para profesor Seoyul dan dia dengar kalau soalnya lumayan susah. Sayang usahanya gagal karena Dae Hwi tetap bertekad mengikuti kompetisi itu itu.


Pulang sekolah, Dae Hwi ke toko buku dan mencatat contoh-contoh soal. Dia benar-benar bekerja terlalu keras hingga dia mimisan. Saat dia belajar di perpus bersama Hee Chan, Hak Joong dtang tak lama kemudian dan terang-terangan bilang ke Hee Chan tentang lembar soal kompetisi matematika yang mereka miliki.

Hee Chan jelas tak nyaman karena adanya Dae Hwi di sana. Dae Hwi sontak tercengang mengetahui mereka punya lembar soal kompetisi matematika itu. Hak Joong dengan santainya menasehati Hee Chan untuk jujur saja pada Dae Hwi biar dia tidak buang-buang waktu. Tapi Hak Joong berkata bahwa walaupun mereka tahu jawabannya, Tae Woon tetap akan jadi juara satu.

"Hyun Tae Woon akan ikut kompetisi?" Dae Hwi sontak meremas bukanya dengan penuh amarah.


Sikap Hee Chan berubah sekarang. Tanpa segan dia memberitahu Dae Hwi bahwa kompetisi ini adalah untuk meningkatkan spesifikasi anak-anak tertentu. "Kali ini sepertinya tak ada tempat untukmu."

"Tak ada tempat untukku? Baguslah." Sinis Dae Hwi.

 

Tae Woon lewat tepat saat itu juga dan Dae Hwi langsung blak-blakan menyindirnya. Uang benar-benar luar biasa, yah. "Kalau ayahmu punya banyak uang, kau bisa jadi pintar juga."

Tae Woon jelas tidak terima hinaannya. Dae Hwi dengan kesal menyuruh Tae Woon melepaskannya, atau akan dia habisi mereka berdua. Setelah Dae Hwi pergi, Hee Chan sontak menyindir Dae Hwi.


"Ada apa dengannya?" Tanya Tae Woon.

"Ini soal kompetisi matematika. Dia tidak tahu, malah belajar keras. Kami lalu memberitahu dia kalau pemenangnya sudah ditentukan, dan dia jadi marah. Dia tidak tahu diri."

Tae Woon sontak kesal mendengar hinaan Hee Chan. "Kau benar-benar orang yang konsisten. Kau selalu konsisten dengan kebusukanmu itu."


Dae Hwi merobek-robek bukunya dengan sedih dan marah lalu membuangnya ke tempat sampah. Saat dia pulang malam harinya, dia malah mendapati Ibunya mau membuat kartu kredit dan Dae Hwi disuruh jadi penjaminnya.

Dae Hwi yang sudah tidak mood seharian, sontak merobek-robek dokumen itu dengan penuh amarah. Air matanya mengalir saat dia memohon-mohon pada Ibu berulang kali untuk menghentikan semua ini.


Keesokan harinya, Kang Myung mengucap selamat untuk Dae Hwi karena dia memenangkan kontes di Universitas Hanguk. Dae Hwi pasti akan diterima di Hanguk. Tapi Dae Hwi berkata kalau dia tak sanggup membayar biaya kuliah di kampus swasta. Karena itulah, dia bersikeras mau masuk Universitas Seoyul bagaimanapun caranya.

Kang Myung mengerti kalau Dae Hwi pasti cemas dengan evaluasinya. Dia menasehati Dae Hwi mengikuti kompetisi di sekolah sebanyak yang dia bisa. Tapi kan kompetisinya tidak banyak. Hanya ada sisa 3 kompetisi. Jika dia memenangkan semuanya, hanya 3 kolom yang akan terisi.

"Bapak tahu, ada lomba matematika dalam waktu dekat."

"Ah, benar. Kau akan mengikutinya, kan? Kau harus menang tak peduli bagaimanapun caranya. Seoyul mempertimbangkan matematika dan sains sebagai syarat masuk utama. Selama ini kau kan jago matematika."


Dae Hwi canggung mengiyakannya. Saat dia hendak pergi, dia melihat seorang guru memasukkan soal-soal kompetisi matematika kedalam sebuah lemari. Dae Hwi sontak bimbang memikirkan sesuatu. Tapi malam harinya saat dia memikirkan ucapan si Konsultan dan hee Chan, dia akhirnya memutuskan sesuatu.


Eun Ho di gudang bersama Tae Woon dan memperlihatkan gambar komiknya pada Tae Woon. Tapi Tae Woon langsung mengkritik ceritanya yang gaje banget. Dia memberikan saran sambil menoleh ke arah Eun Ho, tapi langsung terdiam gugup saat menyadari kedekatan mereka dan cepat-cepat menjauh.


Eun Ho sama sekali tidak menyadari ketidaknyamanan Tae Woon dan santai saja mendekat lagi sambil menuntut Tae Woon meneruskan omongannya tadi. Tae woon menasehatinya untuk memberi penjelasan akan kenapa si pahlawan melakukan hal itu, seharusnya kan Eun Ho memahami bagaimana perasaannya.


Tapi Eun Ho tidak paham dan memutuskan keluar untuk cari angin. Tapi langkahnya seketika terhenti saat dia melihat seorang pria berhoodie hitam mengendap-endap masuk ke gedung sekolah.

Eun Ho mengikuti pria itu sampai ke ruang guru dan melihat pria itu hendak mencuri soal ujian kompetisi matematika. Pria itu baru menyadari kehadiran Eun Ho sesaat kemudian. Dia sontak panik dan melesat keluar dari sana. Eun Ho langsung mengejarnya.

Pria itu jelas bukan Tae Woon, karena Tae Woon ada di sana melihat Eun Ho mengejar pria misterius itu. Eun Ho tiba-tiba kesandung di tengah jalan dan dia kehilangan jejak si pria misterius gara-gara itu. Tapi dia tidak menyerah begitu saja dan kembali berlari ke suatu arah.


Pria itu terus berlari dan berlari. Tapi tiba-tiba saja Eun Ho muncul dari samping dan dia sontak mundur untuk mnghindari tubrukan hingga membuat soal matematika yang dipegangnya terjatuh. Eun Ho shock melihat wajah pria itu. Perlahan, cahaya menyinari wajah pria itu dan dia adalah Dae Hwi.

Bersambung ke episode 6

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon