Powered by Blogger.

Images Credit: KBS2

Sinopsis School 2017 Episode 7 - 2


Di sekolah, Eun Ho mendapati Dae Hwi sibuk belajar sambil mendengarkan musik di luar kelas. Dae Hwi mencoba menanyai Eun Ho, apa menurut Eun Ho si X itu ada di kelas mereka. Eun Ho langsung canggung, entahlah.

"Padahal kalau aku tahu, aku mau membantunya. Kau tahu kan, aku berhutang pada X."

"Tidak juga. Itu memang sesuatu yang harus dilakukan..." Sadar dirinya keceplosan, Eun Ho buru-buru meralat. "Maksudku, yang menurut X harus dia lakukan."

"Benar. Karena X sepertinya adalah orang baik."


Mengalihkan topik, Eun Ho tanya Dae Hwi sedang mendengarkan apa. Dae Hwi memberikan sebelah earphone-nya pada Eun Ho dan mereka pun mendengarkan lagu bersama-sama sambil senyam-senyum. Tepat saat itu juga, Nam Joo dan Tae Woon tiba di sana dan langsung cemburu.

"Apa pacarmu selalu semanis itu?" Kesal Tae Woon.

"Entahlah. Aku tak pernah melihatnya seperti itu."


Nam Joo langsung masuk kelas dengan kesal dan Tae Woon menghampiri mereka, menuntut bicara berduaan saja dengan Eun Ho padahal niatnya cuma untuk menjauhkan Dae Hwi dari Eun Ho. Begitu berduaan, yang dia tanya cuma apa bunga kesukaan Eun Ho sampai Eun Ho heran sendiri mendengarnya.


Di markas X, Eun Ho sibuk menggambar sementara di belakangnya, Tae Woon sedang menggalau ria antara ingin memberikan earphone untuk Eun Ho tapi terlalu gengsi untuk melakukannya. Frustasi, akhirnya dia batal lalu menyalakan musik keras-keras sambil mengklaim kalau inilah caranya mendengarkan musik. Dia tidak pakai earphone seperti seorang pengecut.


Kepsek shock mendengar Direktur Hyun memutusklan untuk menurunkan posisinya sebagai cara untuk menunjukkan bahwa sekolah mereka menunjukkan penyesalan dan berusaha memperbaiki keadaan.

Direktur Hyun berjanji akan mengembalikan posisi Kepsek begitu keadaan sudah membaik nantinya. Kepsek jelas keberatan, tapi dia tak punya pilihan.


Byung Goo terburu-buru masuk kelas untuk mengabarkan kabar baik, Kepsek dipecat. Di dilaporkan atas tuduhan diskriminasi dan memanipulasi siswa. Seorang siswi menduga kalau yang melaporkannya pasti si X. Keren! Tae Woon langsung membusungkan dada dengan bangga lalu cepat-cepat pasang tampang datar lagi.


Pak Park dengan senang hati membantu mengepaki barang-barangnya Kepsek. Dia bahkan langsung menyingkirkan papan nama Kepsek dan menggantinya dengan papan namanya sendiri.

"Sepertinya kau sudah lama menantikan ini," sindir Kepsek.

Pak Park bersumpah kalau dia tidak gila jabatan. Tapi begitu Kepsek pergi, dia langsung menduduki kursi barunya dan mendesah bahwa selama ini dia selalu ingin duduk di meja ini. Dia bahkan menyuruh Ibunya Sa Rang untuk menurunkan foto Kepsek dan singkirkan ke sudut paling gelap.


Di luar, Eun Ho dengan santai menyindir Kepsek. Tapi dia mengklaim kalau dia tidak menyindir, dia hanya sedang menghapal puisi yang mereka pelajari hari ini. Kang Myung heboh membantu membawakan kardusnya Kepsek, tapi ujung-ujungnya dia ikutan nyindir.

Kesal, Kepsek memperingatkan mereka untuk menangkap si X saja. Kalau hasil ujian akhir mereka jelek, mereka bakalan menyesal. Dia lalu pergi dengan kesal, apalagi saat melihat kantor barunya yang sangat kecil, bahkan belum dibersihkan.


Dae Hwi dan Nam Joo kencan di cafe, tapi Dae Hwi bahkan tidak melirik Nam Joo sedikitpun saking sibuknya belajar. Dia baru menengadah saat Nam Joo protes. Nam Joo mengajaknya makan malam bersama, tapi Dae Hwi canggung menolaknya, lagi-lagi karena dia harus belajar. Kecewa, Nam Joo langsung pergi dengan kesal.


Dia lalu jalan-jalan ke mall bersama Bit Na. Bit Na inggin masuk ke area VVIP, tapi lupa membawa kartu VVIP-nya. Dia langsung meminta Nam Joo untuk meminjami kartu miliknya. Jelas saja Nam Joo langsung gugup beralasan kalau dia juga lupa bawa.

Bit Na mulai merasa aneh. Waktu itu juga Nam Joo tidak bawa. Petugas meminta mereka menyebut nama saja. Bit Na menyebutkan namanya dan namanya langsung muncul di sistem komputer.

Nam Joo tentu saja ragu menyebutkan namanya dan memutuskan tidak ikut masuk dengan alasan biar tidak ketahuan ibunya, dia tidak diperbolehkan belanja gara-gara nilainya turun. Mending dia pulang saja, lagian dia ada janji ke salon. Bit Na memutuskan mau ikut ke salon saja. Salon mana? Nam Joo sontak gugup tak tahu bagaimana harus menjawabnya.


Pulang malam harinya, Nam Joo melihat ayahnya datang membawa rak bekas. Nam Joo sontak marah-marah, tak suka Ayah memungut sampah orang lain seperti seorang pengemis. baiklah, baiklah. Ayah mengalah.

Tapi Ayah penasaran, dia tidak ada masalah dengan temannya yang waktu itu kan (Dae Hwi). Dia tampan, dia pantas mendapatkan putri ayah. Nam Joo jadi semakin marah membahas masalah itu, tak suka dengan kedatangan Ayah ke sekolah hanya demi mengantarkan roti itu.

"Nam Joo-yah, kau kan suka roti itu."

"Bikin malu saja. kenapa ayah begini-begini saja? Kenapa Ayah tidak bekerja sekeras orang tua yang lain? Kenapa Ayah selalu jadi orang yang menyedihkan begini?!"

Tepat saat itu juga, Ayahnya Eun Ho baru turun setelah mengantarkan pesanan. Nam Joo pun langsung naik dengan kesal. Ayah Eun Ho berusaha menghibur Ayah Nam Joo. Anak-anak jaman sekarang memang susah dipahami, bahkan sekalipun mereka anak kita sendiri.


Keesokan harinya di sekolah, Bit Na heboh sendiri mencari pulpen mahalnya yang entah menghilang kemana. Saat Bo Ra hendak pergi, Bit Na dengan kasarnya merampas tempat pensilnya Bo Ra dan menjatuhkan semua isinya ke lantai.

Bo Ra jelas tidak terima dan langsung menyuruh Bit Na memungut barang-barangnya kembali. Bit Na jelas tidak mau dan terus saja menuduh No Ra mencurinya sambil mendorong-dorongnya sampai Bo Ra terjerembap ke lantai.


Bo Ra terus membela diri, tapi Bit Na semakin agresif menjambaki rambutnya. Jadilah mereka ribut jambak-jambakan. Bu Jang berusaha berteriak menghentikan mereka, tapi tak ada yang menggubrisnya.

Direktur Hyun dan tim Kementerian Pendidikan tiba di sana saat itu dan jelas kaget melihat kekacauan ini. Baru saat Guru Koo berteriak menegur mereka, kedua siswi itu berhenti dan wajah Bo Ra berdarah.

Pejabat Kementerian Pendidikan langsung menyuruh Pak Park untuk menerapkan aturan kekerasan di sekolah. Mereka harus segera melapor jika ada kekerasan di sekolah.

 
Mereka langsung dibawa menghadap Kang Myung, Bit Na bersikeras mengklaim kalau Bo Ra lah yang memulai pertengkaran duluan, sementara Bo Ra diam saja. Kang Myung berusaha meminta Bo Ra untuk menceritakan kejadian itu dari sudut pandangnya sendiri. Apa yang dikatakan Bit Na itu benar?

"Tidak. Bit Na menjambak rambutku duluan."

Bit Na ngotot menyangkalnya. Kang Myung berusaha menanyai Bu Jang sebagai saksi, tapi Bu Jang yang tampak ketakutan untuk ikut campur, ngotot mengklaim kalau dia tak tahu awal mula pertengkaran itu. Jadi dia tidak tahu siapa yang salah. Bit Na diam-diam tersenyum licik.


Frustasi, Kang Myung menyuruh mereka kembali ke kelas dulu dan jangan bertengkar lagi. Saat Bo Ra beranjak pergi, dia melirik Bu Jang dengan kecewa dan Bu Jang langsung menghindari tatapan matanya.


Kang Myung lalu menghampiri Bu Jang dan menyinggung Bu Jang yang tahun lalu adalah guru wali kelasnya Bo Ra. Kang Myung yakin kalau Bu Jang pasti tahu kalau Bo Ra bukan orang yang akan memukul duluan, Bo Ra anak yang pendiam dan lugu.

Bu Jang geram, mana dia tahu. Biarpun dari luar kelihatan, bisa saja Bo Ra melakukan kekerasan di belakang mereka. Bahkan orang tua mereka saja tak tahu anak mereka yang sebenarnya seperti apa. Dia kan bukan ibunya mereka.


Bo Ra dan Bu Jang berpapasan di luar. Bu Jang hendak melewatinya dengan kepala tertunduk gugup sampai saat Bo Ra menghentikannya. Bu Jang jangan salah paham, Bo Ra tidak akan pernah minta bantuan pada Bu Jang. Dia sudah cukup belajar dari kesalahannya dulu.

"Aku tidak berharap apapun dari Ibu, jadi jangan menatapku seolah Ibu takut kalau aku akan meminta bantuan lagi pada Ibu. Itu tidak akan terjadi lagi."


Karena cerita dari Bo Ra dan Bit Na saling bertentangan, jadi Kang Myung memberitahu Bo Ra bahwa mereka akan menunda sidang untuk menentukan siapa yang bersalah. Kang Myung berharap yang bersalah akan minta maaf duluan dan yang satunya menerima maafnya.

Bo Ra memutuskan untuk mengaku bersalah saja. Dia akan bilang kalau dia yang memukul duluan. Percuma melawan Bit Na, Ibunya Bit Na pasti akan menyewa pengacara mahal untuk membelanya dan dia takkan bisa menang. Keluarganya tidak akan sanggup mengatasi masalah ini.

Kang Myung jelas tidak setuju dan berusaha menyemangati Bo Ra. Tapi keputusan Bo Ra sudah bulat dan langsung pergi.


Kang Myung jadi murung gara-gara itu. Soo Ji heran melihatnya, apa dia ada masalah? Kang Myung mendesah lesu, kenapa kelasnya tak pernah tenang? Kang Myung merasa ini karena dia seorang pengecut.

"Mereka bertengkar satu sama lain. Mereka bahkan berpasangan dan mengendap masuk ke ruang guru." (Oops! Keceplosan)
 
Soo Ji jadi yakin kalau malam itu Kang Myung memang mendengar sesuatu. Terpaksa Kang Myung mengakuinya, dia mendengar suara cewek dan cowok malam itu. Dia tak tahu mereka siapa, tapi mereka yakin kalau mereka muridnya. Dia tidak bisa memberitahu sekolah tentang ini dan tidak tahu harus bagaimana.

"Tentu saja kau harus menemukan mereka dan tanya apa yang mereka lakukan di sana."


Tapi jika mereka murid kelas 11-1, Soo Ji yakin kalau yang perempuan adalah Eun Ho. Ingat tidak waktu mereka tengah berusaha mengejar X sampai ke belakang sekolah waktu itu. Hanya ada Eun Ho di sana, lalu Eun Ho mengarahkan mereka semua ke suatu arah.

Waktu itu mereka sangat terburu-buru hingga mereka percaya saja omongan Eun Ho dan pergi menuju arah yang Eun Ho tunjuk. Soo Ji merasa kalau X waktu itu bukan berhasil lolos, tapi disembunyikan oleh Eun Ho. Karena itulah Soo Ji terus mengawasi Eun Ho. Tapi dia tidak mendapat petunjuk apapun.

Tapi Kang Myung yakin bukan Eun Ho. Waktu Eun Ho difitnah, dia begitu putus asa. Jadi pasti bukan dia. Tapi Soo Ji tetap yakin, bisa saja karena Eun Ho tak punya pilihan lain. "Mungkin dia punya alasan sendiri."


Tae Woon sedang mainan ponsel. Eun Ho tiba-tiba melihat ada yang mengomentari webtoonnya. Eun Ho bahagia. Tae Woon nyinyir, si komentator itu pasti menyukai sesuatu yang kekanak-kanakan. (Ehm, tapi aku yakin yang ngirim komentar Tae Woon deh)

Tae Woon lalu mengambil sesuatu, sementara Eun Ho menguncir rambutnya. Saat Tae Woon kembali ke meja, dia langsung terpana menatap lehernya Eun Ho sampai-sampai dia langsung melepaskan kunciran Eun Ho dan mengacak-acak rambutnya jadi kayak hantu. Gini lebih cantik.


Soo Ji dipanggil menghadap atasannya yang menanyakan masalah yang ada di sekolah. Soo Ji berkata kalau mereka cuma remaja yang hormonnya sedang meledak-ledak, jadi yah begitulah. Tapi menurut Kepala Polisi, semua kejahatan yang dilakukan si X bukan masalah remeh.

Direktur Hyun dan Kepala Polisi cukup dekat, dan sekarang Kepala Polisi tak tahu bagaimana harus menghadapinya. Karena itulah, Kepala Polisi memerintahkan Soo Ji untuk segera mengatasinya. Ini melukai harga diri mereka.

Soo Ji ragu, jika mereka bersikap keras, takutnya itu akan melukai anak-anak. Kepala Polisi tanya apakah itu mengingatkan Soo Ji akan masa lalunya. Soo Ji langsung terdiam dan menyangkalnya.

Dia keluar tak lama kemudian dengan galau, apalagi Kepala Polisi memperingatkannya untuk segera menyelesaikan masalah ini sebelum Direktur Hyun meminta diadakan investigas resmi.


Maka Soo Ji pun mendatangi Guru Koo untuk minta sarannya dalam menangani masalah ini dan mengungkapkan kecemasannya karena dia tak ingin menyakiti anak-anak. Guru Koo santai menasehati Soo Ji untuk melakukannya saja sesuai aturan.

"Jika kau mengikuti aturan dan tidak goyah maka kau akan tahu apakah kau benar atau tidak atau apakah kau melakukan kesalahan. Dan kalau kau membuat kesalahan, kau akan tahu apa kesalahanmu."

 

Di rumah, Direktur Hyun memberi Tae Woon instruksi untuk menunjukkan penyesalan saat dia diberi hukuman nanti dan salahkan saja Kepsek. Tapi Tae Woon mengiyakannya dengan linglung, malah sibuk mikirin Eun Ho. "Pasti akan cantik kalau dia mengikat rambutnya."

Keesokan harinya, Eun Ho sedang menggodai Tae Woon saat Soo Ji mendatanginya dan membawa Eun Ho ke kantornya Soo Ji untuk diinterogasi bersama Guru Koo.


Mereka tanya kenapa Eun Ho masuk ke ruang guru malam itu? Malam itu dia tidak sendirian, kan? Dengan siapa dia masuk malam itu? Siapa siswa laki-laki yang bersamanya waktu itu? Sebaiknya dia jangan bohong karena mereka punya bukti dan saksi.

Eun Ho memainkan jarinya dengan gugup, "Aku tidak bisa mengatakannya."

"Kalau kau tidak mengatakan siapa yang bersamamu malam itu, maka kau harus menanggung semuanya sendiri dan akan dikeluarkan dari sekolah ini."


Eun Ho jadi semakin galau. Saat dia keluar tak lama kemudian, dia memberitahu Tae Woon kalau para guru tahu ada yang masuk ke ruang guru malam itu. Tapi mereka tak tahu apakah orang itu Dae Hwi atau Tae Woon.

"Lalu kau bilang apa?"

"Kubilang aku tidak bisa mengatakannya."

"Seharusnya kau bilang saja kalau kau bersamaku atau Dae Hwi atau siapalah. Apa kau gila? Kau bisa dikeluarkan dari sekolah. Sekali ketahuan, kau tidak akan bisa lolos."

"Jadi aku harus bagaimana? Kau dan Dae Hwi juga bisa habis kalau ketahuan."

Tae Woon frustasi mendengarnya. "Hei, bodoh. Apa kau mau mati hanya demi menyelamatkan kami? Sudahlah. Kau diam saja, aku yang akan mengurusnya."


Tae Woon memikirkan hal ini sepanjang malam. Memikirkan Eun Ho yang pernah difitnah sebagai X dan keputusasaan Dae Hwi. Eun Ho pun mondar-mandir tak tenang.


Keesokan harinya, dia gelisah menunggu Tae Woon di parkiran sepeda. Saat Tae Woon datang tak lama kemudian, Eun Ho menuntut apa yang akan Tae Woon lakukan.

Tae Woon tak menjawabnya dan langsung saja masuk ke ruang guru dan terang-terangan mengaku ke Guru Koo bahwa dialah yang malam itu masuk ke ruang guru bersama Eun Ho. Dae Hwi datang saat itu dan mendengar pengakuan Tae Woon. Kang Myung sampai terlonjak kaget dari kursinya. Guru Koo pun menatapnya tak percaya.

Bersambung ke episode 8

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon