Powered by Blogger.

Images Credit: QQLive

Sinopsis The Eternal Love Episode 16 - 2


Qing Yun yang sama sekali tidak mencurigai niat baik Pan Er, berpikir untuk membantu Xiao Tan saja. Lagipula acara ini kan tujuannya agar dia bisa berbaikan dengan Xiao Tan. Dengan begitu, Lian Cheng akan memandangnya secara berbeda nanti.

Tanpa pikir panjang, dia langsung saja mengambil araknya Xiao Tan dan meminumnya bahkan sebelum Pan Er dan Tan Er sempat menghentikannya. Pan Er, Tan Er dan Lian Cheng jelas panik.


Racun itu bereaksi dengan sangat cepat. Seketika itu pula Qing Yun ambruk dan darah mengalir dari mulutnya. Ibu Suri dan yang lain panik, jelas tidak menyangka akan jadi begini.

Menyadari ajalnya sudah dekat, Qing Yuan membelai wajah Lian Cheng. "Syukurlah... bukan kau (yang meminum racun itu)..." Qing Yun meninggal seketika.

Ibu Suri panik memerintahkan untuk memanggil tabib istana. Tapi Lian Cheng memeriksa nadinya dan memberitahu semua orang bahwa Qing Yun sudah meninggal dunia karena keracunan.


Ibu Suri sontak menjerit marah pada pelakunya, berani sekali mereka membunuh Qing Yun di depan matanya. Kasim Li langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk menuduh Xiao Tan sebagai pelakunya.

Ibu Suri hampir marah padanya. Tapi Lian Cheng cepat-cepat membela Xiao Tan. Biarpun Qing Yun meminum araknya Xiao Tan, tapi Xiao Tan tidak pernah menyentuh cangkir araknya, dia juga tidak pernah meninggalkan jamuan makan ini.

Jing Xuan juga mendukung Xiao Tan. Dia bisa menjadi saksinya. Pelayan yang membawa masuk arak beracun itu dan dia juga yang menuangkannya. Xiao Tan tidak mungkin punya kesempatan untuk meracuni arak itu.

 

Kasim Li mengendus cangkir itu dan mengkonfirmasi kalau araknya lah yang beracun dan langsung menunjuk pelayan yang membawa arak itu. Si pelayan langsung dipaksa berlutut di hadapan Ibu Suri.

Si pelayan sontak ketakutan dan berusaha meyakinkan Ibu Suri kalau dia tidak bersalah. Justru waktu dia di luar tadi, dia sempat bertabrakan Puteri Mahkota.

Dia bilang kalau kakinya sakit dan menyuruhnya untuk meletakkan araknya dan mengambilkannya obat. Tapi saat dia kembali dengan membawa obat, Pan Er malah sudah menghilang. Dia lalu buru-buru masuk untuk membawa arak itu.

Ibu Suri bersumpah akan membuat hidupnya bagai di neraka jika dia berani mengucap kebohongan. Pan Er panik, tapi dia tidak kehilangan akal dan menuduh si pelayan memfitnahnya dan meminta Ibu Suri untuk tidak mempercayai omongan pelayan ini.


Tuan Qu pun langsung membela putrinya dan meyakinkan kalau putrinya tidak punya dendam terhadap Qing Yun, jadi dia tidak mungkin melakukan itu.

Lian Cheng menuntut Ibu Suri untuk terus menyelidiki, dia harus mendapat jawaban karena Qing Yun adalah istri keduanya dan dia mati sia-sia.

"Entah apakah pelakunya pelayan itu ataukah Puteri Mahkota, jika mereka memang meracuni araknya, maka racun itu pasti masih ada pada mereka. Kita harus menggeledah mereka."


Seorang pengawal menggeledah si pelayan, tapi dia tidak menemukan apapun. Pan Er semakin panik. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan saat Kasim Li mendekat dan mulai menggeledahnya.

Dia menemukan botol racun itu di lengan bajunya Pan Er. Dia mengendusnya dan mengkonfirmasi kalau itu adalah racun yang sama dengan yang digunakan di arak yang diminum Qing Yun.

"Kau...! Apalagi pembelaanmu sekaranng?!" Geram Ibu Suri. "Pengawal! Tangkap dia!"

Tuan Qu panik berusaha membela Pan Er. Dia yakin kalau ini pasti kesalahpahaman. Yi Huai dan Pan Er tak beranjak dari tempat duduknya kok sedari tadi. Melihat Yi Huai diam saja, Tuan Qu memintanya untuk memohon pada Ibu Suri.


Tapi yang tak disangkanya, Yi Huai dengan dinginnya lepas tangan. Pan Er sudah berani melakukan tindakan semacam itu, dia tidak akan menoleransinya. "Masalah ini tidak ada hubungan denganku, jadi Ibu Suri silahkan memberikan hukuman yang sepantasnya."

Tuan Qu makin panik memohon belas kasihan Ibu Suri untuk Pan Er dan memaafkannya. Tapi tentu saja tak ada maaf baginya. Ibu Suri memerintahkan para pengawal untuk menangkap Pan Er sekarang juga dan kurung dia di ruang bawah tanah, tak ada seorangpun yang boleh mengunjunginya.


Malam harinya, Tuan Qu bersujud di hadapan Yi Huai dan berusaha meminta Yi Huai untuk menyelamatkan Pan Er demi dirinya yang selama ini selalu setia pada Yi Huai.

Yi Huai tetap menolak. Masalah ini sudah jadi begini, bagaimana mungkin dia menyelamatkan Pan Er.

"Meskipun bukan demi aku, Putera Mahkota kumohon, pertimbangkanlah hubungan siami-istri kalian..."


BRAK! Yi Huai menggebrak meja penuh amarah. "Hubungan suami istri? Dia mencoba membunuh Tan Er, dia sudah menghancurkan titik terakhir perasaan yang kumiliki untuknya!"

Dan sekarang, Pan Er malah melakukan kesalahan yang lebih buruk. Alih-alih membunuh Tan Er, dia malah membunuh keponakan kesayangan Ibu Suri. Apa mungkin Bangsawan Anle akan melepaskan kesalahan ini begitu saja?

Sekarang semua bukti sudah ada dan diserahkan pada Ibu Suri. Jangankan dia, bahkan Kaisar sekalipun tidak akan bisa menyelamatkan Pan Er. Tuan Qu ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi Yi Huai langsung menghentikannya.

"Baguslah karena masalah ini tak ada hubungannya denganku. Aku tidak membeberkan perbuatannya yang dulu itu sudah termasuk memberimu kehormatan!" Yi Huai langsung pergi tak mau peduli lagi.


Tak punya pilihan lain, Tuan Qu akhirnya mendatangi dan memohon bantuan Xiao Tan. Xiao Tan sungguh tak percaya mendengarnya. Berkali-kali Pan Er menyiksanya dan sekarang Tuan Qu berani memohon belas kasihannya!

"Pan Er memang salah. Tapi, bisakah kau mempertimbangkan hubungan sedarah kalian dan menolongnya? Aku pasti akan selalu mengingatnya dalam hatiku."

"Hubungan darah? Waktu dia berencana mencelakaiku, apa dia bahkan memikirkan hubungan darah kami?!"


Tuan Qu beralasan kalau Pan Er hanya bingung karena obsesinya. Dia janji kalau Tan Er menyelamatkan Pan Er, dia akan mengawasi dan membimbing Pan Er dengan baik. Pan Er pasti akan sangat berterima kasih atas kebaikan Tan Er.

"Ayah. Jika aku yang membuat kesalahan sebesar ini, apa kau juga akan memikirkan cara untuk menyelamatkanku? Jangan bicarakan tentang fakta kalau dia sedang berada dalam situasi tanpa harapan. Bahkan sekalipun aku bisa menyelamatkannya, apa kau bisa yakin kalau dia tidak akan menyakitiku lagi nantinya?!"

Tuan Qu mendesah sedih, sepertinya Xiao Tan masih belum bisa memaafkannya. Dia memohon pengertian Xiao Tan. Keluarganya sekarang berada diambang kehancuran. Seandainya dia punya pilihan lain, maka dia tidak akan mempermalukan dirinya dan memohon-mohon pada Tan Er seperti ini.


"Baiklah. Tan Er... tidak, Istri Pangeran Ke-8. Anggap saja aku memohon padamu." Tuan Qu langsung berlutut di hadapannya.

Xiao Tan buru-buru menariknya bangun dengan kesal dan mengingatkan Tuan Qu kalau Pan Er tertangkap basah oleh Ibu Suri. Bahkan Putera Mahkota pun tidak bisa menolongnya, lalu bagaimana bisa dia menyelamatkannya.

"Jika Pangeran Ke-8 ikut campur, maka situasinya bisa berubah."

"Pangeran Ke-8? Kenapa juga Pangera Ke-8 menyelamatkannya? Dia (Lian Cheng) sangat membencinya hingga dia lebih suka mencabik-cabiknya!"


"Tapi Pangeran Ke-8 menyukai dan mencintaimu. Tan Er, jika kau bisa meyakinkan Pangeran Ke-8, aku rela menyerahkan pusaka berharga keluarga: Mutiara Penekan Jiwa."

Hmm... penawaran yang menarik. Xiao Tan teringat ucapan Kakek Liu waktu itu. Bahwa jika dia ingin kembali ke dunianya, maka dia harus mendapatkan Mutiara Penekan Jiwa.

"Akan kupikirkan dulu," kata Xiao Tan. Tuan Qu pun berterima kasih padanya.


Keesokan harinya, Jing Xin lagi-lagi berdiskusi dengan kedua nonanya. Tapi tak peduli sejahat apapun Pan Er kepadanya, Tan Er masih begitu baik hati memikirkan hubungan keluarga antara dirinya dan Pan Er. Apalagi Pan Er adalah satu-satunya saudara sedarahnya.

Jing Xin pun mencoba membujuk Tan Er untuk menyelamatkan Pan Er demi Tan Er. Xiao Tan ngomel-ngomel kesal menggerutui kebodohan Tan Er. Bisa-bisanya Tan Er memohon demi orang yang berniat membunuhnya. Terlalu baik hanya akan membuatnya mati dibuli cepat atau lambat.

Tapi tak lama kemudian, Jing Xin memberitahu Tan Er kalau Xiao Tan sudah setuju untuk menyelamatkan Pan Er dan bicara pada Lian Cheng nanti.

Lalu saat Xiao Tan kembali, Jing Xin memberitahukan pesan Tan Er. "Nonaku bilang kalau kau orang yang sangat baik. Dia bilang, kau pasti punya cara, iya kan?"

"Kau membuatnya terdengar sangat mudah. Bagaimana bisa ada begitu banyak ide bagus?"


Ibu Suri mendatangi penjara bawah tanah tempat Pan Er dikurung. Pan Er langsung jatuh berlutut dan memohon-mohon pengampunan Ibu Suri. Tapi tentu saja Ibu Suri begitu marah padanya.

"Berani sekali kau menyentuh orang-orangku. Akan kubiarkan kau mati tragis!"

Pan Er meyakinkan kalau Ibu Suri salah menuduhnya, arak beracun itu sebenarnya untuk Tan Er. Dia sungguh tak menyangka kalau Qing Yun akan meminumnya. Semua ini salahnya Tan Er.


Dia memohon agar Ibu Suri menyelidiki masalah ini dengan baik. Bahkan sekalipun dia punya nyali besar, dia tidak akan berani mencelakai Qing Yun.

"Kau tidak akan berani? Bukankah kau cukup berani?"

Apa Pan Er pikir dia tidak tahu kalau Pan Er lah yang mengatur percobaan pembunuhan Lian Cheng di teater waktu itu? Pan Er mengklaim kalau dia tidak bersalah. Dia tak ada hubunganya dengan insiden itu.

Ibu Suri sinis, dia tahu betul kalau Pan Er dan Ibunya menghasut Qing Yun untuk membunuh Tan Er agar mereka punya kesempatan membunuh Lian Cheng juga dan menjadikan Qing Yun sebagai kambing hitam.


Kasim Li memberitahu Pan Er kalau Ibu Suri sudah memperkirakan segalanya dan mengirimnya untuk melindungi Lian Cheng. Jika tidak, Lian Cheng pasti sudah lama mati di tangan pembunuhnya Pan Er.

"Tapi kau masih berani membebaskan dirimu sendiri dari masalah ini di hadapanku? Kejahatan membunuh Lian Cheng, bahkan sekalipun aku membiarkanmu mati 10.000 kalipun, tidak akan cukup untuk menghilangkan kemarahanku!"

Tapi pertemuan mereka ini terpaksa terpotong dengan cepat saat seorang pengawal datang mengabarkan Lian Cheng datang dan minta bertemu dengan Ibu Suri.

Ibu Suri merasa aneh dengan kedatangan Lian Cheng di saat sekarang ini. Dia memutuskan pergi tapi terlebih dulu dia bersumpah akan menyaksikan sendiri bagaimana Pan Er dikuliti sedikit demi sedikit.


Lian Cheng mondar-mandir gelisah menunggu kedatangan Ibu Suri. Yang ditunggunya akhirnya datang tak lama kemudian dan tanya ada urusan apa Lian Cheng buru-buru datang kemari.

"Aku datang untuk Qu Pan Er."

"Apa kau akan memohon pengampunan untuknya?"

"Benar."

Ibu Suri menolak. Pan Er sudah membuat Qing Yun mati. Jika dia tidak membunuh Pan Er, maka kemarahannya takkan sirna. Bangsawan Anle juga membutuhkan jawaban atas kematian putrinya.


"Nenek, ada satu hal yang membuatku penasaran. Apa Nenek bersedia memberiku jawabannya?"

"Apa?"

"Hidupku dan hidup Qu Pan Er, manakah yang jauh lebih penting?"

"Tentu saja, hidupmu."

"Bagus sekali. Jika kita memanfaatkan hidup Qu Pan Er sebagai tukar ganti untuk kesempatan yang lebih besar untukku agar aku bisa naik tahta. Haruskah kita menukarnya atau tidak?"

Ibu Suri tak mengerti apa maksudnya itu? Lian Cheng pun memberitahu tentang Tuan Qu yang berusaha meminta pertolongan Yi Huai, tapi Yi Huai menolak demi menyelamatkan dirinya sendiri.


Dia mengklaim kalau Tuan Qu akhirnya mendatanginya karena tak punya jalan lain. Jika dia membantu Tuan Qu, maka dia bisa menggunakan kekuatan keluarga Qu untuk keuntungannya sendiri.

"Demi Qu Pan Er, Pejabat Qu rela memberikanku pusaka berharga keluarganya. Aku tidak tahu apa itu. Tapi itu adalah sesuatu yang sangat diinginkan oleh Putera Mahkota. Aku yakin kalau itu harus dilakukan demi memperjuangkan tahta. Kini saatnya mendapatkan pusaka itu dan memanfaatkan keluarga Qu demi keuntunganku."

Baiklah. Ibu Suri akhirnya malah mengalah dan melepaskan Pan Er. Tapi masalah kematian Qing Yun, Ibu Suri memerintahkan Kasim Li untuk memberitahu Kaisar untuk mengubur Qing Yun nanti.

Dia akan dianugerahi anumerta sebagai Puteri Istri Pangeran dan dia sendiri yang akan menenangkan seluruh keluarga Bangsawan Anle. Lian Cheng tersenyum puas mendengarnya.


Malam harinya, pelayannya Tuan Qu memberitahu majikannya bahwa Pan Er sudah dibebaskan dari tahananya. Tuan Qu begitu lega mendengarnya. Semua ini berkat Pangeran Ke-8. Berarti sekarang saatnya menyerahkan Mutiara Penekan Jiwa miliknya itu.


Pan Er kembali ke kediaman Putera Mahkota dan hanya disambut pelayan pribadinya. Pan Er heran apa yang sebenarnya terjadi, kenapa malah Pangera Ke-8 yang memohon pengampunan untuknya? Di mana Putera Mahkota?

"Saya kurang jelas detilnya. Tapi saya dengar dari kediaman Qu bahwa Tuan Qu menggunakan pusaka berharga keluarga demi memohon ampun dari Pangeran Ke-8." Ujar si pelayan.

Pan Er langsung panik menyadari pusaka apa yang dimaksud itu lalu bergegas pergi ke kediaman Pangeran Ke-8. Tanpa mereka sadari, kedua penyihir sedang mencuri dengar semua pembicaraan mereka dari kejauhan.


Tuan Qu membawa 4 orang pria untuk menggotong sebuah kotak berat yang didalamnya berisi Mutiara Penekan Jiwa itu ke kamarnya Tan Er.

Setelah para pelayan disuruh pergi, Tuan Qu membuka kotak itu. Di dalamnya masih ada kotak kedua sampai Xiao Tan berpikir kalau Mutiara Penekan Jiwa itu pastilah sebesar bola.

Tuan Qu terlbih dulu bersujud hormat pada para leluhur, lalu mengeluarkan sebuah belati untuk mengiris telapak tangannya sendiri. Dia meneteskan darahnya ke mutiara putih yang tertempel di atas kotak.


Seketika itu pula mutiara itu bersinar merah lalu membuka dengan sendirinya, memperlihatkan sebuah kotak yang lebih kecil dan menyinarkan cahaya ungu yang sangat terang.
Bersambung ke episode 17

3 comments

Makin kemari makin seru cerita a,smngat unnie..😃😎

Semangat kak nulis eps selanjutnya....ditunggu bgt ☺😊

Kak sibuk bngetnya?? Updatenya skrang lma dan 1 ja.. Cayooo buat nliz sinopsisnya.....

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon