Powered by Blogger.

Images Credit: Zhengjia TV

Sinopsis The King's Woman Episode 2 - 2


Malam harinya, Lu Buwei mendatangi sebuah tempat dimana mereka menahan Lao Ai. Dilihat dari kondisinya, sepertinya Lao Ai sudah disiksa. Lu Buwei menyuruhnya memilih, mati cepat di tangannya atau dia akan menyerahkan Lao Ai ke tangan Ying Zheng dan menjalani siksaan yang sangat berat.

Jika Lao Ai mati di tangannya, mayatnya akan tetap utuh. Tapi jika dia jatuh ke tangan Ying Zheng maka bukan cuma tubuhnya akan terpotong-potong, tapi kepalanya juga akan digantung di dinding kota.

Lao Ai ketawa ngakak dan menyindir ancaman Lu Buwei yang sebenarnya cuma takut kalau Ying Zheng akan mengetahui kalau Lu Buwei lah yang menyuruhnya pura-pura jadi kasim dan merayu Ibu Suri agar dia bisa mengendalikan Ibu Suri dan pada akhirnya menyingkirkan Ibu Suri.


Emosi, Lu Buwei sontak menamparnya keras-keras. Tiba-tiba terdengar suara Ying Zheng yang mendengar percakapan mereka tadi. Saking shock-nya, Lu Buwei sampai lupa memberi hormat.

"Kau sudah bekerja keras. Kau jauh-jauh bergegas kemari dari Xianyang, tapi pertunjukkanmu malam ini cukup menarik. Aku merasa terhibur." Sindir Ying Zheng

Dia mengaku kalau dia sebenarnya sengaja membiarkan Lu Buwei mengetahui keberadaan Lao Ai. Dia tahu kalau Lu Buwei pasti akan datang kemari. Lu Buwei berkata kalau dia bersedia dihukum.


Ying Zheng hanya terdiam menatapnya sembari mengingat masa kecilnya. Dulu. Lu Buwei pernah berkata pada Ying Zheng kecil untuk diam saja di tempatnya sebagai raja. Dia yang akan mengatur segalanya untuk Ying Zheng.


Sekarang, Ying Zheng berkata kalau menyingkirkan dua pejabat pemerintahan pada saat yang bersamaan itu tidak bagus.

Karena itulah, sekarang Ying Zheng membalikkan kata-kata Lu Buwei dulu, menyuruh Lu Buwei untuk diam saja di posisinya sebagai kanselir. Jangan harap Lu Buwei bisa pergi ke mana-mana selama Ying Zheng masih membutuhkannya. Dia akan mengatur segalanya untuk Lu Buwei.

Ini baru permulaan. Ying Zheng juga menginginkan tebusan dari mereka yang pernah menghina dan menyinggung dirinya.

 

Beberapa pendekar keluar bersama Pemimpin mereka. Salah satu pendekar melaporkan tentang Kota Puyang yang sudah jatuh ke tangan Qin. Pemimpin mereka tak terlalu terkejut mendengarnya mengingat Kerajaan Wey memang sudah lama merosot selama bertahun-tahun.

Tapi apa dia tahu di mana keberadaan Gongsun Yu? Si murid memberitahu kalau Gongsun Yu sudah tewas saat membela negaranya. Dia dengar kalau dia dikalahkan oleh 4 pendekar tangguh.

Mereka lalu membahas tentang Jurus Pedang Huluo yang kabarnya sangat sakti. Kabarnya jurus pedang itu sudah punah, tapi si pemimpin yakin kalau Gongsun Yu mewarisi Jurus Pedang Huluo itu.

Jika Gongsun Yu masih memiliki jurus pedang itu, dia tidak mungkin mati. Jadi mungkin Gongsun Yu sudah mewariskannya pada keturunannya. Karena itulah, mereka harus mencari cucu perempuan Gongsun Yu itu.


Raja Kerajaan Wey yang diasingkan, tiba-tiba kedatangan tamu yang tak lain tak bukan adalah Ying Zheng. Awalnya dia tidak percaya, tapi begitu melihat Ying Zheng di hadapannya, dia sontak bersujud ketakutan.

Dia benar-benar ketakutan pada Ying Zheng sampai bicaranya tergagap. Ying Zheng dan Chengjiao geli melihat reaksinya. Raja Wey dengan takut-takut bertanya apakah Ying Zheng datang untuk membunuhnya?

"Membunuhmu? Kenapa juga aku ingin membunuhmu?"


Raja Wey malah tambah ketakutan dan bersujud makin dalam. Ying Zheng santai berkata kalau dia ingin menghabisi Raja Wey, maka dia tidak perlu repot-repot datang kemari. Dia hanya perlu memberi titah dan secangkir arak beracun sudah cukup untuk membunuh Raja Wey.

Ying Zheng malah tanya-tanya ini itu tentang segala sesuatu mengenai Kerajaan Wey. Apa yang mereka makan? Apa yang mereka nyanyikan? Apa kebiasaan pria dan wanita di sana? dan lain sebagainya.

Dia terdengar benar-benar penasaran... karena dulu waktu mereka masih kecil, Li'er dan Jing Ke pernah memberitahunya kalau mereka berasal dari kerajaan Wey.

 

Li'er sedang tidur saat tiba-tiba dua orang pria menerobos masuk kamarnya dan langsung menyerangnya dan sengaja melepas tusuk rambutnya Li'er. Jing Ke mendengar keributan mereka dan bergegas ke sana.

Kedua orang itu menyadari Li'er adalah perempuan dan mengenali jurus yang Li'er gunakan adalah jurus pedang dari keluarga Gongsun. Jing Ke tanya apa yang mereka inginkan. Tapi kedua pria itu malah kabur.


Li'er mau mengejar mereka, tapi Jing Ke mencegahnya. Mengingat kedua orang itu tidak berusaha melukai mereka, Jing Ke yakin kalau mereka punya tujuan lain. Kalau mereka mengejar kedua orang itu, Jing Ke takut kalau mereka malah akan masuk perangkap.

"Sepertinya mereka mengenali kita dari keluarga Gongsun. Siapa yang sedang berusaha menyelidiki kita?"


Keesokan harinya, Li'er dan Jing Ke pergi meninggalkan penginapan. Tapi di tengah jalan, Li'er baru ingat kalau tusuk rambut pemberian kakeknya ketinggalan. Li'er mau kembali untuk mencarinya, tapi Jing ke mencegahnya.

Jing Ke menyuruh Li'er untuk masuk ke penginapan lain sementara dia pergi mencari tusuk rambutnya Li'er.


Kebetulan, di penginapan itu, Li'er bertemu lagi dengan Ying Zheng dan Chengjiao. Ying Zheng tampak begitu bahagia bertemu Li'er lagi.

Li'er penasaran tentang sekumpulan pria berpakaian hitam yang ikut pergi bersama Ying Zheng waktu itu. Untuk apa mereka? Ying Zheng beralasan kalau keadaan sekarang sangat kacau. Sebagai pengusaha, dia harus membawa pengikut untuk melindunginya.

Dia tanya Li'er mau ke mana? Li'er mengaku kalau dia dan kakak seperguruannya mau pergi ke Daliang untuk mencari Pendekar Lu. Ying Zheng kecewa mendengar mereka mau meninggalkan kota ini. Tapi di mana kakak seperguruan Li'er?

"Dia kembali ke penginapan untuk membantuku mencari sesuatu."

"Merupakan keberuntunganku bertemu denganmu kali ini."

"Tuan Muda Zhao, kau terlalu baik. Aku dan kakak seperguruanku dari dunia persilatan. Kami suka berteman."


Jing Ke kembali ke penginapan dan menemukan tusuk rambutnya Li'er di sana. Tapi saat dia hendak pergi, kedua pria kemarin datang lagi dan kali ini dengan membawa lebih banyak orang.

Mereka langsung menuntut keberadaan Li'er. Jing Ke mengklaim tak kenal, mereka cuma kenalan biasa dan sekarang sudah berpisah jalan. Jelas mereka tak percaya dan mengancamnya untuk menjawab pertanyaan mereka. Jing Ke bergerak cepat mendorong meja ke arah mereka lalu bergegas kabur lewat jendela.


Li'er, Ying Zheng dan Chengjiao tengah bersulang saat sekawanan penjahat menerobos masuk. Sepertinya mereka anak buahnya Lao Ai dan langsung menyerang Ying Zheng.

Li'er berusaha melawan mereka. Tapi saat salah seorang penjahat hendak menyerang Ying Zheng, Li'er maju melindunginya hingga dia kena tusuk pisau. Ying Zheng sontak menendang si penjahat.


Para penjahat itu dengan cepat diringkus para pengawalnya Ying Zheng sementara Li'er terjatuh pingsan. Ying Zheng murka dan langsung memerintahkan Li Zhong untuk membunuh para penjahat itu.

Li Zhong cemas, dia yakin sekutunya Lao Ai bukan cuma mereka. Bahaya kalau mereka terus tinggal di Luoyang. Karena itulah, dia menyarankan lebih baik mereka kembali ke istana.

Ying Zheng menolak dan bersikeras mau menyembuhkan Li'er dulu, Li'er sudah menyelamatkan nyawanya.


Dia lalu bergegas membawa Li'er ke kediaman Raja Wey dan menyuruh Raja Wey untuk mencarikan tabib terbaik.

"Kalau kau tidak bisa menyelamatkan pendekar mulia ini, maka aku akan membuatmu mati tanpa makam!" Ancam Ying Zheng.

Selain itu, dia juga memperingatkan Raja Wey untuk tidak membocorkan berita tentang keberadaannya di tempat ini. Jika tidak, Ying Zheng mengancam akan membunuh Raja Wey. Panik, Raja Wey bergegas pergi mencarikan tabib.


Jing Ke lari ke dalam hutan sementara para penjahat itu terus mengejarnya. Tapi kemudian mereka melempar pedang untuk menghalangi jalannya dan menyerangnya.

Jing Ke berusaha melawan mereka saat tiba-tiba saja muncul kakak seperguruan para penjahat itu dan dia mampu menyamai kekuatan Jing Ke. Dia mengenali jurus pedang Jing Ke berasal dari keluarga Gongsun dan mengancam Jing Ke untuk segera menyerahkan Gongsun Li padanya.


Jing Ke terus berusaha melawan si penjahat. Tapi pada akhirnya, dia kalah. Si penjahat hampir saja menebasnya saat tiba-tiba muncul seorang pendekar yang menyelamatkannya. Dialah Pendekar Lu Guojian yang dicari-cari oleh Li'er dan Jing Ke. Mereka berusaha menyerangnya, tapi Pendekar Lu dengan mudahnya mengalahkan mereka.


Ying Zheng mondar-mandir cemas sementara tabib mengobati Li'er di dalam. Chengjiao melapor kalau dia tidak bisa menemukan keberadaan Jing Ke, tapi Chengjiao akan mengirim orang lagi untuk mencarinya nanti.

Chengjiao ragu dengan tabib pilihan Raja Wey mengingat dia tabib rakyat biasa. Tabib Wey meyakinkan kalau dia tabib hebat yang mengenal ratusan obat.


Tabib akhirnya keluar tak lama kemudian dan memberitahu bahwa biarpun lukanya dalam, tapi Li'er pasti akan sembuh. Dia akan meresepkan beberapa obat untuk Li'er.

Ying Zheng ingin melihat kondisinya. Tabib tanya apa hubungan Ying Zheng dengan pasien. Ying Zheng mengaku kenal dengannya belum lama ini dan orang itu menyelamatkan nyawanya.

Menyadari Ying Zheng sepertinya tidak mengetahui identitas si pasien yang sebenarnya, Tabib meminta mereka untuk menyuruh pelayan mengurus si pasien dulu baru Ying Zheng bisa menjenguknya.

"Kenapa?" Tanya Chengjiao heran.

"Pendekar yang kalian sebut itu... adalah wanita." Ujar Tabib. Semua orang kaget mendengarnya.


Ying Zheng masuk tak lama kemudian dan mendapati Li'er gelisah dalam tidurnya dan memanggil-manggil kakak seperguruannya. Ying Zheng mengelus keningnya untuk menenangkannya. Tapi yang paling menarik perhatiannya adalah kalung yang dipakai Li'er. Sepertinya dia mengenali kalung itu.

Bersambung ke episode 3

4 comments

Aku suka ceritanya, menarik. Dilanjut mba Ima. Semangat ya!

Next next eonni , ga sabar nunggu cerita selanjut.a 😊😂

This comment has been removed by the author.

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon