Powered by Blogger.

Images Credit: Zhejiang TV

Sinopsis The King's Woman Episode  3 - 1


Ying Zheng terkejut melihat kalung yang dipakai pendekar yang dia kira pria itu. Dia masih ingat kalau itu adalah kalung yang dipakai Li'er kecil. Li'er kecil pernah memberitahunya kalau ini adalah kalung warisan dari ibunya.

Dulu, saat seorang prajurit hendak membunuh Ying Zheng kecil, Li'er kecil langsung maju melindunginya. Tapi saat si prajurit hendak menebaskan pedangnya, Jing Ke kecil menusuknya dari belakang.

Bersama-sama mereka melarikan diri dan saling bahu membahu menolong Ying Zheng kecil yang hampir terjatuh ke jurang.


Ying Zheng senang menyadari dia ternyata teman masa kecilnya. Ying Zheng pun langsung menggenggam tangannya, "Li'er, kaukah itu? Benarkah ini kau?"

Li'er terus gelisah dalam tidurnya dan memanggil-manggil kakak sepergurruannya. Berusaha menenangkannya, Ying Zheng berkata. "Jangan khawatir. Aku ada di sini. Aku selalu di sini."

Mungkin mengira dia Jing Ke, Li'er pun mulai bisa tenang. Pelayan datang untuk mengurusnya, tapi Ying Zheng bersikeras mau mengurus Li'er sendiri dan dengan lembut menyeka wajah Li'er.


Lu Buwei merenung memikirkan masa lalu. Dulu, Ibu Suri sendiri yang memintanya untuk mencarikannya kekasih. Lu Buwei pun memperkenalkan Lao Ai pada Ibu Suri.


Dalam flashback, Ibu Suri menyuruh Lao Ai menari di atas meja. Lao Ai pun naik ke meja dan merayu Ibu Suri dengan tarian errr... seksi? Wkwkwk. gajebo banget.


Lu Buwei kira kalau Lao Ai itu cuma preman biasa, dia kemudian masuk ke istana sebagai kasim palsu dan status sosialnya pun diangkat. Lu Buwei tidak menyangka kalau ternyata Lao Ai jadi arogan, nekat, sok berkuasa dan tidak bisa menahan diri.

Lu Buwei terlalu sibuk dengan urusan politiknya hingga dia membiarkan Ibu Suri dan Lao Ai bersenang-senang hingga terjadilah pemberontakan itu. Berusaha menghibur tuannya, Bawahan Lu Buwei berkata bahwa mengawasi Ibu Suri dan Lao Ai sejak awal memang sulit mengingat mereka cukup lama tinggal di Kota Yong.

"Ibu Suri Zhao, si wanita bodoh itu! Tidak masalah mencarikannya lelaki untuk memenuhi hasratnya. Tapi aku harus membayarnya dengan posisi dan kekuasaanku di Kerajaan Qin ini."

"Lalu, apa langkah kita berikutnya?" tanya si bawahan.


Pendekar Lu membawa Jing Ke tinggal di rumahnya. Jing Ke berterima kasih karena Pendekar Lu sudah membantu mengobati luka-lukanya dan membiarkannya istirahat di sini.

Pendekar Lu ingat kalau Gongsun Yu memiliki seorang cucu perempuan, apa dia baik-baik saja? jing Ke mengaku kalau dia dan Li'er sebenarnya sedang mencari Pendekar Lu. Tapi entah kenapa mereka malah dikejar-kejar orang-orang jahat itu, sepertinya mereka mengincar Li'er.

Dia sengaja memancing mereka ke pinggiran kota untuk melindungi adik seperguruannya itu. Li'er mungkin masih menunggunya di Kota Luoyang. Pendekar Lu tahu siapa orang-orang itu. Mereka berasal dari Sekte Danding.

"Sekte Danding? Maksud anda, sekte milik Xiahou Yang yang terkenal suka memaksa berbagai negara untuk membayar mereka?"


Pendekar Lu membenarkannya. Tapi Jing Ke yakin kalau dia tidak pernah mendengar gurunya punya masalah dengan Sekte Danding. Lalu kenapa mereka mengincar Li'er?

"Kabar tentang Pendekar Gongsun yang gugur demi negara pasti telah menyebar ke seluruh penjuru Jianghu. Xiahou Yang kemungkinan besar menginginkan Kitab Teknik Pedang Huluo yang legendaris itu.. Karena itulah dia memerintahkan anak buahnya untuk melacak keberadaan kalian."

Jing Ke berpikir kalau kitab teknik pedang Huluo itu mungkin secarik kain sutra yang diberikan Gongsun Yu padanya.


Lu Buwei menemui Ibu Suri Huayang untuk melapor bahwa dia sudah mengirimkan 50.000 prajurit untuk menangani pasukan pemberontak Shandang yang bekerja sama dengan pasukan Kerajaan Zhao. Dia juga memerintahkan Bangsawan Chang'an (Chengjiao) untuk memimpin 50.000 pasukan lain sebagai tambahan.

Tapi Ibu Suri Huayang cemas jika Chengjiao diberikan kekuasaan militer yang terlalu besar, dia rasa itu hanya akan menguntungkan pihak musuh. Tapi Lu Buwei berkata bahwa kesempatan ini justru bisa mereka gunakan untuk menguji kesetiaan Chengjiao.

Kesempatan ini bisa mereka gunakan untuk menguji orang-orang di sisi Raja, untuk mengetahui apakah mereka kawan atau lawan. Ini bisa sangat berguna untuk menstabilkan kekuasaan Raja.


Dalam flashback sepuluh tahun yang lalu, saat Raja terdahulu sekarat dan berada di ambang maut, ternyata beliau menunjuk Chengjiao sebagai pewarisnya. Dia bahkan meminta Lu Buwei untuk segera mengesahkan titahnya ini.

Tapi Lu Buwei sudah punya rencana lain. Terang-terangan dia mengaku kalau dia sudah bersekongkol dengan Ibu Suri Huayang untuk menjadikan Ying Zheng sebagai pewaris tahta. Raja yang sudah sekarat, shock tapi tidak bisa melawannya sekali.

Sekarang, Lu Buwei tampaknya punya rencana tertentu dengan mengirimkan Chengjiao berperang melawan pemberontak. Entah apa rencananya.


Li'er akhirnya terbangun dan mendapati Ying Zheng tertidur di ujung ranjangnya. Sepertinya dia menjaga Li'er seharian. Li'er lalu bangun dan menyelimuti Ying Zheng.

Tapi hal itu malah membuat Ying Zheng terbangun. Dia benar-benar senang melihat Li'er sudah sadar dan langsung mencengkeram erat kedua lengan Li'er. "Apa kau baik-baik saja, Nona Sun?"

Li'er tak nyaman dengan cengkeramannya. Ying Zheng pun cepat-cepat melepaskannya. Mereka sama-sama mau bicara secara bersamaan. Li'er mengalah dan membiarkan Ying Zheng bicara duluan.


"Kalau kau tidak menahan serangan itu untukku, pasti akulah yang terluka parah."

"Aku mempelajari ilmu bela diri dari kakekku sejak kecil. Kakekku bilang, jika para ahli bela diri tidak mampu menyelamatkan orang lain, itu artinya kami hanyalah orang yang tidak tahu adat. Apa kau terkejut karena aku ternyata seorang perempuan, Tuan Muda Zhao?"

"Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu. Apakah Nona Sun nama aslimu?"

"Bukan. Namaku adalah Gongsun Li."

Dia mengaku sengaja menyamar jadi pria agar lebih mudah bepergian. Senyum Ying Zheng semakin lebar menyadari Li'er adalah teman masa kecilnya dulu, tapi dia tidak mengatakan apapun tentang dirinya dan masa lalu mereka.


Raja Wey masuk saat itu untuk menjenguk Li'er. Li'er mengenalinya dan sontak bersujud padanya. Ying Zheng juga buru-buru bersujud pada Raja Wey yang jelas saja membuat Raja Wey kaget dan kebingungan.

Tapi Ying Zheng diam-diam memberinya isyarat ke Li'er. Raja Wey mengerti kalau Ying Zheng pasti ingin menyembunyikan identitasnya dari Li'er.


Li'er memperkenalkan dirinya adalah anggota keluarga Gongsun, cucu dari Gongsun Yu, panglima perang Kota Puyang. Raja Wey meminta mereka bangun lalu tanya ke Li'er. "Apa kau sudah mengenal Qin..."

"Tuan Muda Zhao!" Sela Ying Zheng. "Aku datang dari Xianyang untuk berdagang di sini."

Li'er tanya apakah mereka berdua saling mengenal. Raja Wey gugup mengiyakannya lalu mengalihkan topik menanyakan kabar Gongsun Yu.


Li'er memberitahu kalau kakeknya sudah gugur saat tengah berusaha mempertahankan Puyang dari serangan pasukan Qin dan membantu rakyat mengungsi ke tempat aman.

"Beliau bertempur melawan keempat pendekar pasukan Qin hingga akhir. Beliau gugur demi negara."

Raja Wey terkejut mendengarnya, sama sekali tak tahu kalau Kota Puyang sudah jatuh. Li'er heran, apa Raja Wey tidak mengetahui hal itu? Raja Wey tak bisa menjawabnya dan diam-diam melirik Ying Zheng.

Ying Zheng menjelaskan ke Li'er bahwa sejak Raja Wey diasingkan ke Yewang, setiap gerak-geriknya diatur oleh Kerajaan Qin. Dia benar-benar terisolasi dari dunia luar dan rakyatnya.

Li'er jadi semakin heran mendengarnya. Jika Raja Wey terisolasi dari dunia luar, lalu bagaimana bisa Ying Zheng membawanya kemari?


Ying Zheng hampir saja mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, tapi Li'er terus saja nyerocos tentang Kerajaan Qin yang sangat kejam dan bengis. Mereka menyerang berbagai negara hingga membuat rakyat menderita.

Dia mengklaim dirinya baik-baik saja. Dia hanya takut jadi beban untuk Raja Wey dan Tuan Muda Zhao. Li'er sedih karena negaranya sudah ditaklukkan dan keluarga pun sudah habis. Dia punya rumah tapi tak bisa pulang.

Tapi Li'er sudah belajar bela diri sejak kecil. Karena itulah, dia akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk menentang Qin. "Yang Mulia, jangan khawatir. Saya dan Kakak Seperguruan saya, sebagai warga negara Wey, kami bersedia mati membela negara."

Gelisah karena yang Li'er terus mengutuki Kerajaan Qin tanpa tahu kalau dia sedang berhadapan dengan Raja Qin, Raja Wey buru-buru menghentikan ocehan Li'er.


Li Zhong datang saat itu karena ada hal penting yang harus dia laporkan. Ying Zheng pun keluar dan diberitahu tentang pemberontakan pasukan Shangdang yang dibantu oleh pasukan Kerajaan Zhao.

Karena itulah, perdana menteri ingin mengirim Chengjiao untuk memimpin pasukan melawan mereka dan Ibu Suri Huayang sudah memberikan izinnya. Ying Zheng kesal menyadari Lu Buwei sengaja membuat masalah selama dia pergi.


Dia meminta Chengjiao untuk tidak pergi. Tapi Chengjiao tak ingin melawan Ibu Suri Huayang. Selama ini, Ibu Suri Huayang tak pernah menyukainya. Jika dia menolak, Ibu Suri Huayang akan semakin tidak menyukainya.

Ying Zheng tetap cemas, Lu Buwei itu orang yang licik. Entah apa yang sedang direncanakan Lu Buwei dengan melakukan ini. Apapun rencana Lu Buwei, Chengjiao tetap berniat pergi dan meyakinkan Ying Zheng untuk tidak khawatir.

Li Zhong menyarankan agar Ying Zheng pergi bersama Chengjiao untuk menghindari munculnya masalah lagi. Tapi Ying Zheng tidak bisa, dia tidak mau meninggalkan Li'er.


Hidupnya di Kerajaan Zhao dulu sangat sulit. dulu, dia hampir mati di tangan pasukan Zhao. Li'er lah yang menyelamatkan waktu itu. Sekarang mereka akhirnya bisa bertemu kembali dan Li'er menyelamatkannya lagi. Karena itulah, Ying Zheng tidak mau meninggalkan Li'er sendirian di sini.

Kalau begitu, Chengjiao akan pergi sendirian. Dia meyakinkan kalau dia pasti akan pulang dengan selamat. Ying Zheng tidak perlu khawatir. Ying Zheng akhirnya setuju.


Beberapa hari kemudian, Li'er berterima kasih karena Ying Zheng sudah merawatnya, sekarang dia sudah merasa baikan. Berkat Ying Zheng pula, Li'er jadi bisa bertemu dengan Raja Wey.

Ying Zheng terus menatap Li'er. Selama beberapa hari mereka bersama, Ying Zheng menduga kalau Li'er pasti belum menikah. "Jika saja kebencinnya pada Qin tidak begitu dalam, aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengungkapkan perasaanku padanya yang terpendam selama bertahun-tahun."


Ying Zheng memberitahu Li'er kalau dia harus pergi karena kesibukannya. Dia meminta Li'er tetap istirahat di sini sampai dia sembuh dan memberikan lencana militer Qin pada Li'er untuk melindungi Li'er jika dia bertemu dengan pasukan Qin.

Li'er ragu menerima benda berharga itu, tapi Ying Zheng bersikeras memaksa Li'er hingga akhirnya Li'er mau menerimanya.


Dalam perjalanan keluar, Ying Zheng memperingatkan Raja Wey untuk menjaga Li'er baik-baik. Raja Wey berjanji akan melakukannya. Tapi dia memperhatikan, biarpun Li'er sudah menyinggung Ying Zheng dan mengutuk Kerajaan Qin, tapi Ying Zheng sama sekali tidak marah dan tidak menghukum Li'er.

Karena itulah, Raja Wey menduga kalau Ying Zheng pastilah punya hubungan spesial dengan Li'er. Dia lalu memberikan sebuah lukisan pada Ying Zheng. Dia mengaku bahwa saat anak buahnya berada di Luoyang, dia tak sengaja melihat seorang pelukis membuat gambar ini lalu membelinya.

Lukisan itu ternyata lukisan Li'er dalam pakaian pria. Raja Wey menduga kalau si pelukis pastilah sangat terpesona oleh kecantikan Li'er bahkan sekalipun dia memakai pakaian pria.

Ying Zheng menatap lukisan itu dengan sedih. Sebelum pergi, dia menoleh kembali ke arah kamarnya Li'er seolah tak ingin meninggalkannya. "Gongsun Li, aku akan bertemu denganmu lagi."

Bersambung ke part 2

2 comments

Udah nonton.. Tpi tetap ngg sinopnya.. Lanjut mbk..

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon