Powered by Blogger.

Images Credit: iQiyi

Sinopsis Memory Lost Season 3 Episode 1 - 2


Si penyusup itu mengenal Jin Xi, bahkan menyapanya. "Kak Su Mian, akhirnya aku menemukanmu. Kita bertemu lagi setelah sekian lama, seperti inikah caramu memperlakukanku?"

"Kau..."

"Kak Su Mian, kau yang mengajariku taktik pengalihan dulu. Kau belum lupa, kan?"

Gugup, Jin Xi mengikuti permainannya dan mengiyakannya saja. Tapi tepat saat itu juga, si penjahat itu diberitahu temannya yang mengintai dari luar kalau Han Chen sudah kembali.

"Cepat sekali. Padahal kita belum mengenang masa lalu," rutuk pemuda itu.


Jin Xi sontak menghantamkan kepalanya ke kepala pemuda itu dan menghindar, tapi pemuda itu tiba-tiba mengacungkan sebuah remote control dan mengancamnya untuk tidak bergerak atau Han Chen akan mati.

"Apa maksudmu?"

"Aku memasang bom di mobilnya Han Chen. Aku kemari hari ini cuma untuk mengantarkan surat. Dan berhubung suratnya sudah terkirim, jadi aku bisa pergi. Jangan bergerak, kalau kau bergerak, aku akan... BOOO~!!!"

"Aku akan mendengarkanmu. Bisakah kau beritahu aku siapa kau?"

"Kak Su Mian, kau sungguh lupa padaku? Aku adik yang paling dekat denganmu... Aku A."

Perlahan dia mundur, lalu melempar remote control itu. Jin Xi cepat-cepat menangkap remote itu sementara A keluar dari sana secepat mungkin.


Tepat begitu dia menghilang, Han Chen tiba di depan kamar dan langsung memanggil-manggil Su Mian sambil bersiap dengan senjata.

Jin Xi membuka pintu dengan panik dan menyerahkan remote-nya, ada bom di mobilnya Han Chen. Han Chen mencoba menekannya, tapi ternyata tidak terjadi apapun.


Jin Xi sontak merutuk kesal, bisa-bisanya dia dipermainkan A. Han Chen berusaha menenangkannya, dia mempercayai gertakan A karena Jin Xi mencintainya dan peduli padanya.

Karena tempat ini tidak aman, Han Chen usul agar Jin Xi kembali ke asrama dan dia akan ikut tinggal di sana. Jin Xi setuju, keamanan asrama jauh lebih baik. Han Chen merasa bersalah dan meminta maaf karenanya, dia membawa Jin Xi kemari dengan maksud agar dia bisa melindungi Jin Xi. Tapi ternyata...

"Bagaimana bisa ini salahmu? Siapa yang tahu kalau akan terjadi hal seperti ini? Lagipula, aku sudah aman kan sekarang?"


Han Chen lalu masuk kamar untuk mengambil sesuatu. Saat dia kembali, dia membawa sebuah peluit untuk Jin Xi. Jin Xi memperhatikan peluit itu dan langsung mengejek bentuknya yang biasa banget.

"Itu peluit penghargaan yang kudapatkan di Akademi Kepolisian. Angkatanku ada 2000 orang dan cuma ada satu penghargaan."

"Kau sehebat itu?"


"Di masa depan, aku akan selalu dekat untuk mendengarkan peluit ini. Jika kau berada dalam bahaya, bunyikanlah. Aku pasti akan ada di sana."

"Oke. Tapi kenapa kau tidak memberiku peluit yang sangat berharga ini sebelumnya?"

"Mana kutahu. Kau sangat sombong, mungkin kau akan mengira kalau ini sangat jelek."

"Mungkin saja. Benda berharga ini, jika kutaruh bersama cincin kita dan menggunakannya setiap hari, apa menurutmu akan kelihatan bagus?"

"Kalau menurutmu bagus, berarti bagus."

"Tapi seandainya aku benar-benar membunyikannya suatu hari nanti, bagaimana jika kau tidak muncul?"

"Hanya jika aku mati."

Jin Xi langsung protes tak suka. "Jangan bercanda seperti itu!"


Saat itulah Jin Xi melihat sesuatu yang tidak disadarinya sedari tadi. Han Chen mengikuti arah pandangnya dan mendapati sebuah surat terselip di pigura berbunyi: Pada hari ke-7, jam 7 lebih 7 menit, tunggulah kami - A, R, L.


Di markasnya, L sedang menggambar sebuah cakar iblis yang memakai cincin tengkorak. Saat A datang tak lama kemudian, dia tanya apakah A sudah mengirimkan surat itu? Begitu A mengiyakannya, L langsung gemetar menahan amarah, teringat akan kenangannya bersama L.

Flashback.


Suatu hari, Xin Jia sedang sibuk meramu cairan-cairan kimianya sementara L sibuk menggambar gambar cakar iblis yang memakai sebuah cincin tengkorak itu. Diam-diam dia menatap Xin Jia dengan senyum lebar, jelas dia naksir Xin Jia selama ini walaupun Xin Jia tak pernah meliriknya.

Saat Xin Jia melihat lukisannya, dia tanya itu gambar apa. L pun langsung memanfaatkan saat itu untuk menyodorkan sebuah cincin tengkorak dan nembak Xin Jia.

Sayangnya Xin Jia langsung menolak dan mengingatkan L kalau dia hanya mencintai Han Chen, dan satu-satunya cincin yang akan dia terima adalah cincin pemberian Han Chen.

"Kita berdua... cuma komplotan. Aku tidak mau hubungan kita jadi tidak nyaman atau rumit. Jadi aku akan pura-pura tidak terjadi apapun barusan."

Flashback end.


Dengan tatapan mata penuh dendam, L bersumpah bahwa kematian Xin Jia tidak boleh jadi sia-sia. "Aku menginginkan Han Chen... membayar dengan darahnya!"


Di kantor polisi, Jin Xi dan Han Chen mengumumkan pada semua orang tentang kejadian semalam. Tapi si A ini sangat licik dan berpengalaman, hingga tim forensik tidak menemukan petunjuk apapun.

Satu-satunya alasan Han Chen memberikan masalah ini pada mereka adalah karena mereka semua juga terlibat, jadi mereka perlu tahu konsekuensinya dan seperti apa orang yang sedang mereka hadapi.

"Kita sedang menghadapi grup kriminal yang sangat berbahaya. Alasan mereka menantang kita secara terang-terangan adalah karena kami berdua pernah punya sejarah buruk dengan mereka. Jadi ini bisa jadi sangat berbahaya. Jika ada yang mau keluar, aku tidak akan mengatakan apapun."

Cold Face menolak keluar. Xiao Zhuan juga sama. Mereka kan polisi, misi mereka adalah melindungi masyarakat. Jin Xi tersentuh mendengarnya, dia sungguh tidak menyangka kalau Xiao Zhuan akan bereaksi seperti ini.

"Xiao Bai, kau pikir aku apa? Aku datang kemari bersamamu dari Kota Jiang, tidak seharusnya kau menyuruhku pergi."


Terharu, Jin Xi pun langsung memberinya pelukan hangat. Lao Dao juga langsung nyerocos, musuh mereka adalah musuh Tim Black Shield juga.

Menyadari cerocosan Lao Dao mulai semakin panjang lebar, Cold Face buru-buru menyela dan meminta data kasus dari Xiao Zhuan. Lao Dao masa bodoh dan terus saja melanjutkan ocehannya tentang menegakkan kebenaran dan keadilan.


Setelah Lao Dao selesai berceloteh, Jin Xi memberitahu mereka tentang surat itu dan bahwa dia sempat tatap muka sebentar dengan A semalam. Walaupun waktu itu A memakai topi dan masker, tapi Jin Xi bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Dari mata dan suaranya, Jin Xi yakin A masih muda. Ditambah fakta kalau A memanggilnya 'Kak'. Walau suaranya terdengar masih kekanakan, tapi Jin Xi bisa merasakan kalau dia orang yang extremis. Jika tidak, maka tidak mungkin dia akan mengantarkan sendiri surat itu ke rumah seorang polisi.

"Dan yang paling penting, dia ahli menggunakan ledakan. Semuanya sangat sesuai dengan profile yang kugambarkan tentangnya."


"Xiao Bai, kau dulu mata-mata dan dia memanggilmu Kak. Si pembunuh ini pasti punya perasaan cinta dan benci terhadapmu. Kau harus waspada," nasehat Wen Long.

"Aku akan melindunginya dengan baik," ujar Han Chen yang sontak membuat Wen Long berdehem canggung mendengarnya. Ia menegaskan pada semua orang bahwa mereka semua memiliki tanggung jawab untuk saling melindungi sesama kamerad mereka.


Jin Xi melanjutkan. Menurutnya, surat ini berasal dari pembunuh yang dari luar kelihatan elegan dan mampu mengendalikan dirinya, tapi sebenarnya sangat jahat.

Surat dan amplop ini dipilih secara khusus olehnya, tulisannya juga bagus. Terlebih lagi, dia menggunakan surat sebagai cara khusus untuk menantang mereka. Surat ini terlihat singkat tapi penuh arogansi.

Dia yakin surat ini ditulis oleh si A mengingat dia masih muda, jadi dia tidak punya kesabaran ataupun kefasihan berbahasa untuk menulis surat semacam ini. Tidak mungkin si R juga. Jika R, maka dia pasti akan mengirimnya lewat email. Hanya L yang paling sesuai karakternya.

"A, L, R. Jika kita menambahkan Xu Nan Bo yang merupakan K yang sudah mati, berarti mereka lah 4 orang yang disebutkan Xin Jia."


Cold Face melapor kalau dia sudah menemukan identitas korban di taman kota. Namanya adalah Chen De Yuan, 35 tahun. Pekerjaannya bagus dan situasi keluarganya juga baik. Dia punya putra umur 8 tahun.

Menurut pengakuan kerabat, teman dan rekan kerjanya, dia adalah orang yang baik, atasan yang tekun dan ayah yang bertanggung jawab. Pada jam 9 malam itu, setelah korban keluar untuk buang sampah, dia tidak pernah kembali.

CCTV di sekitar area rusak pada hari itu. CCTV di taman kota pada malam itu juga rusak. Jadi, mereka sama sekali tidak punya petunjuk maupun saksi.

Pagi harinya saat para pekerja taman sudah menemukan patung itu dan berpikir kalau itu adalah bagian dari taman sampai saat mereka melihat air mata darah mengalir dari patung itu.


Mendengar informasi targetnya L itu, Jin Xi menyimpulkan kalau L pastilah berasal dari keluarga yang sangat ketat saat dia masih muda. Dia melakukan itu untuk menyimpan kenangan sosok suami dan ayah yang baik sebagai patung. Pada saat dia melakukan kejahatannya, dia pasti terkenang masa kecilnya.

Itu teori yang masuk akal. Tapi menurut Wen Long, yang paling penting saat ini adalah mengetahui apa maksud surat itu dan apa rencana mereka pada hari itu. Apakah mereka bertiga akan beraksi bersama pada hari itu, ataukah tiap-tiap orang akan merencanakan kejahatan yang berbeda-beda?

"Kita harus punya strategi tertarget."


"Dari dua kasus sebelumnya, kurasa mereka bertiga akan berpencar, menemukan 3 lokasi yang berbeda dan 3 target yang berbeda dan menyerang secara terpisah."

"Si*l! Berarti kita tidak tahu di mana mereka akan menyerang."

Jin Xi rasa mereka bisa menduga pergerakan para penjahat itu. Mereka kan sudah pernah mem-profiling ketiga penjahat itu, dari situ mereka bisa mengira-ngira ke mana tujuan mereka.

L misalnya, mengangggap dirinya anak-anak yang masih terikat aturan keluarga. Ada dua tempat yang biasanya dituju oleh anak-anak. Pertama, sekolah. Kedua, rumah. Akan terlalu sulit baginya untuk mengecek tiap-tiap rumah, jadi Jin Xi menduga kalau dia akan memilih sekolah.

Dia hanya perlu mengawasi sebuah sekolah selama beberapa hari, mencari target seorang ayah yang akan menjemput anaknya setiap hari dan sangat peduli pada anaknya.

Mereka bisa mengecek CCTV sekolah, Jin Xi menyarankan agar mereka mengecek CCTV sekolah SD di seluruh kota. Karena L standarnya tinggi, dia pasti akan memilih sekolah yang bagus.


Tentang A, dia orang yang susah ditebak dan menganggap melakukan kejahatan sebagai permainan. Dia menduga kalau A ini lebih easy-going dan berasal dari keluarga miskin.

Jadi dia mungkin akan berteman dulu dengan korbannya, mungkin dia akan mendatangi toko milik korban dengan pura-pura menjadi pegawainya dan berteman dengannya.

Dia pastinya butuh bahan baku untuk membuat bomnya. Jadi dia pastinya membutuhkan tempat tersembunyi. Rumah biasa akan terlalu berbahaya karena bau bahan bakunya dan dia akan mudah ketahuan. Jadi dia pasti punya tempat semacam gudang yang berada di sebuah lokasi terpencil.


Han Chen setuju dengannya. Penjahat pastinya akan memilih tempat yang aman dan nyaman agar bisa melakukan kejahatannya. Korban taman kota pasti pernah muncul di hadapan si pembunuh sebelumnya, makanya dia ditarget.

Karena mereka sudah tahu identitasnya, mereka bisa mencari markas sindikat itu di sekitar tempat tinggal korban. Sebuah tempat kosong, terpencil, memiliki koneksi internet yang bagus dan memiliki sebuah area untuk memarkir mobil van.

Jin Xi melanjutkan dugaannya. R orang yang paling bisa menyembunyikan dirinya sendiri dengan baik, tapi juga bisa ditemukan dengan mudah. Dan rencana untuk menangkapnya, bisa mereka serahkan pada Xiao Zhuan.


Sesuai dugaan Jin Xi, L memang sedang mengintai korban di sebuah sekolah. Tapi tiba-tiba dia melihat targetnya di dekati seorang polisi yang langsung mengamankannya di mobil.


Di kantor, Xiao Zhuan lagi stres karena tidak bisa menemukan apapun di internet. Han Chen kembali tak lama kemudian dan membantunya dengan memberikan kontak seseorang yang mungkin bisa membantu Xiao Zhuan.

Han Chen berpikir bahwa selama si R adalah manusia biasa, maka dia pasti akan meninggalkan jejak di sana-sini. Mereka pasti bisa menangkapnya dengan menggabungkan berbagai metode investigasi.

Misalnya, karena ketergantungannya pada internet, R pastilah membutuhkan sesuatu untuk mendukungnya. Misalnya, mungkin dia akan menyewa sebuah server internet yang besar.

Tapi mungkin juga tidak, jika dia melakukan itu, maka dia pasti akan meninggalkan jejak yang sangat kentara. Apa mungkin dia meretasnya? Tapi jika dia melakukan itu dan ketahuan, pasti akan dilaporkan ke polisi.

"Kau lebih tahu dariku. Jejak di internet akan meninggalkan jejak yang sama dengan yang ada di dunia nyata. Kau harus mencobanya lagi. Jangan cuma mencari petunjuk di sana. Kau bisa menggabungkan keduanya."


Xiao Zhuan mendadak punya ide. Jika si R harus mengoperasikan sebuah serangan internet yang besar, maka dia pasti memerlukan daya listrik dan server yang besar.

Kalau begitu, mereka bisa menginvestigasi server yang menggunakan daya listrik besar dan memiliki aktivitas yang tidak normal. Dengan begitu, mereka bisa melacak jejaknya di internet dan pada akhirnya menemukan lokasinya di dunia nyata.

Saking senangnya, Xiao Zhuan hampir saja memeluk Han Chen lagi, tapi Han Chen cekatan mencegahnya.


Jin Xi kembali tak lama kemudian dan memberitahu Han Chen bahwa rekaman CCTV saat A menerobos ke apartemen mereka, sudah dipulihkan. Mereka berdua pun langsung pergi untuk mengeceknya.


Pada saat yang bersamaan, Lao Dao dan Cold Face sedang sibuk mencari mobil pelaku di berbagai tempat penyewaan mobil, tapi hasilnya nihil.


Di rekaman CCTV, Han Chen memperhatikan A menaruh sebuah gelas kopi begitu dia keluar dari lift yang sepertinya sengaja ditinggalkan di sana. Saat di zoom, tampak ada sebuah logo cafe di gelas itu, yang mungkin itu adalah lokasi yang ditentukan A.

Bersambung ke episode 2

4 comments

Terimakasih min lanjut terus nulisnya klu bsa jgn terlalu lama ya min

Seru bnget critanya, ga sabar ga sabar, kalo bisa jngan lama2 ya mba😊

waaahhh,,,,, cepet bangeeeetttt,,,, mkasih,,,

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon