Powered by Blogger.

Images Credit: GMM One

Sinopsis My Dear Loser: Monster Romance Episode 1 - 1


"Orang bilang, orang yang tidak percaya pada kebaikan adalah monster. Kalau begitu, kurasa aku adalah monster." Itu adalah narasi tokoh utama kita Pong (Lee Thanat)

"Orang bilang jika kau melakukan perbuatan baik, maka akan terjadi hal baik padanya. Tapi tidak selalu seperti itu. Bagi beberapa orang, seberapa keraspun dia berusaha dalam hidupnya, tidak ada hal baik yang terjadi padanya. Seseorang seperti aku."


Malam itu, Pong mendapat telepon. Dia pun langsung mengendarai sepeda motornya ke suatu tempat. Tapi di tengah jalan, tiba-tiba ada dua sepeda motor yang membuntutinya dengan ketat.


Di tempat lain, teman-teman Pong, Jeud dan Jack sedang dikeroyok oleh gengnya Tae. Jack berusaha menyemangati Jued untuk melawan, tapi Jeud terlalu ketakutan melakukannya.

Kesal, Jack langsung mencaci maki Tae. "Jeud mengalahkanmu dalam balapan, bagaimana bisa kau mengambil motornya?"

Tae masa bodoh dan langsung memerintahkan gengnya untuk menghajar kedua orang itu. Tidak terima, Jack langsung menantang Tae untuk satu lawan satu.

Jack nyinyir dan langsung menonjok Jack sebelum kemudian menyerahkan sisanya pada para gengnya yang langsung kembali mengeroyok mereka.


Karena kedua motor itu terus membuntutinya, Pong dengan sengaja memelankan laju motornya dan berhenti. Tapi kedua orang itu malah berbalik. Salah satu dari mereka bahkan mengeluarkan sebuah tongkat.

Secara bersamaan, ketiga orang itu sama-sama memacu sepedanya dengan kecepatan tinggi pada satu sama lain. Dan tepat saat tongkat itu diarahkan padanya, Pong dengan lihainya merebahkan kepalanya menghindari sabetan tongkat itu sambil terus jalan meninggalkan kedua orang itu.


Pong akhirnya tiba di tempat teman-temannya dihajar. Tae langsung nyinyir, dasar baj*ngan, pakai acara memanggil bos mereka kemari lagi.

"Kalian lah yang baj*ngan. Kalau kalian main keroyokan untuk menghajar mereka seperti ini, sekalian saja kalian pakai rok." Balas Pong

Kesal, Tae sontak menyerang Pong, tapi Pong dengan mudahnya mengungguli Tae. Gengnya Tae langsung berusaha menyelamatkan bos mereka dan balas mengeroyok Pong. Jeud dan Jack pun langsung turun tangan menghajar orang-orang itu.


Tapi kerusuhan mereka terhenti dengan cepat saat tiba-tiba saja terdengar suara sirene polisi dari kejauhan. Gengnya Tae langsung melarikan diri, sementara Pong terkendala Jeud yang terluka paling parah.

Untunglah ada On yang muncul saat itu juga dan mereka pun langsung mendudukkan Jeud di motornya On. On menyuruh Jeud pegangan erat, tapi Jeud malah canggung. Hmm... Jeud suka On kayaknya.

Tidak ada waktu, On langsung melingkarkan lengan Jeud ke pinggangnya lalu membawanya pergi. Ha! Jeud pasti deg-deg serrr deh.


Pong dan Jack menyusul pergi. Karena polisi semakin dekat, Pong mengarahkan mereka ke sebuah semak-semak untuk bersembunyi.

Mereka terus menunduk di sana sampai mobil-mobil polisi itu lewat dan Jeud kikuk sendiri gara-gara tangan On yang merangkul pundaknya.

"Apa kau tidak keberatan merangkulku seperti ini?" Tanya Jeud

"Lebih baik daripada kita semua ditangkap."


Jeud tersenyum makin lebar. Begitu keadaan aman, mereka pun akhirnya bisa keluar dari persembunyian mereka. Jack senang, ini malam yang hebat.

Jeud langsung menggerutu, malam ini jelas tidak ada hebat-hebatnya terutama baginya, apalagi dia hampir saja kehilangan motornya tadi dan dihajar habis-habisan.

"Berhentilah merengek, Jeud. Terluka itu biasa bagi berandal motor kayak kita." Ujar Jack.

On juga langsung menggerutui sikap pengecutnya dan menyuruh Jeud untuk mengucap terima kasih pada Pong yang sudah menyelamatkannya. Jeud dan Jack pun berterima kasih pada Pong.


"Kalian tahu sendiri kalau Tae itu orang licik, lain kali berhati-hatilah." Ujar Pong

Jack mendadak sok, "Kalau lain kali aku ketemu dia lagi, akan kuhajar dia!"

On nyinyir, ngomong itu gampang, melakukannya yang susah. Dia malah yakin kalau Jack lah yang bakalan babak belur nantinya.

"Jangan cari perkara lagi. Aku tidak mau repot-repot menyelamatkan kalian lagi."


Tapi ngomong-ngomong, kenapa On ada di sana tadi? Tanya Jack. On menjawabnya dengan menggelandot manja ke Pong. "Itu karena aku selalu pergi ke tempat hatiku berada."

Pong jelas tak suka padanya, tapi dia tetap berterima kasih atas bantuan On tadi. Tanpa On, mungkin mereka tidak akan bisa melarikan diri tadi.

On langsung kepedean menggenggam tangan Pong. "Aku kan sudah bilang kalau kau tidak bisa hidup tanpa aku."

Pong cepat-cepat menarik lepas tangannya dengan alasan panas padahal jelas-jelas karena dia annoying banget pada On. Mereka lalu pergi.


Di rumah, Kakaknya Pong sedang membantu Ibu mereka memasak. Ibu lalu memberikan uang listrik dan air dan juga uang tabungan pada Kakak.

Ibu melihat sekarang sudah jam 3 subuh dan Pong masih belum kembali juga. Kakak santai, Pong memang biasanya pulang pagi. Ibu tetap cemas, apa Kakak belum menghubunginya? Kakak merasa itu percuma saja, Pong tidak akan mengangkat teleponnya.

"Dia sudah dewasa tapi masih bersikap seperti anak kecil dan membuat kita mengkhawatirkannya," keluh Ibu

"Sudah terlalu terlambat untuk mengubahnya. Kita hanya bisa berdoa semoga dia tidak akan membuat masalah lebih banyak lagi."

Tadi malam Kakak melihat Pong pergi dengan motornya, jadi sudah pasti dia lagi hangout dengan teman-temannya dan pulang pagi.

 

Sesuai perkiraan Kakak, Pong and the geng lagi asyik menjelajah jalanan yang lagi sepi. Lampu merah menyala, teman-teman Pong berhenti, tapi Pong nekat menerobosnya, malah mempercepat laju motornya... tepat saat lampu lalin menyala hijau dan sebuah mobil melintas di depannya.

Kaget, Pong bergegas mengerem motornya, tapi terlambat. Motornya menabrak mobil itu dan Pong terpelanting ke aspal. Teman-teman Pong dan wanita pengendara mobil itu pun kontan menjerit panik.


On berusaha membangunkan Pong yang pingsan. Jack menyuruh Jued memanggil ambulance, tapi ujung-ujungnya mereka malah panik sendiri karena tak ada tahu nomor telepon ambulance sampai mereka harus menggooglingnya.

On panik setengah mati dan terus berusaha membangunkan Pong dengan memanggil-manggil namanya. Wanita pengendara mobil itu juga ikut berusaha membangunkannya. Syukurlah Pong bangun tak lama kemudian. Wanita itu lalu membantu Pong bangkit...


Dan saat itulah Pong bertatap muka dengannya dan langsung terpikat pada wanita cantik itu. Mereka saling menatap seperti itu selama beberapa lama sampai membuat Jack dan Jued saling berpandangan penuh arti.

Pong begitu terpesona padanya sampai-sampai dia minta izin untuk tetap seperti ini lebih lama lagi dengan alasan dia kesulitan berdiri. (ha! modus)

Wanita itu adalah Namking (Mook Worranit), tampaknya dia tidak keberatan dengan permintaan Pong karena dia tidak mengatakan apapun. Dia malah langsung cemas saat melihat darah mengalir dari kepala Pong.


Namking cepat-cepat mengambil tisu untuk menyeka darahnya Pong, dan Pong malah keasyikan menggenggam tangan Namking dan menikmati perhatiannya.


Sayang, momen romantis itu terpotong cepat gara-gara On cemburu dan langsung menampik tangan Namking dari Pong.

Dia lalu membantu Pong bangkit, merebut tisunya Namking dan menggunakannya untuk menyeka wajah Pong.

Tapi Pong kesal banget sama dia dan langsung merebut tisu itu dari tangannya. On langsung beralih melabrak Namking yang tidak becus menyetir.

"Apa kau tidak lihat-lihat jalan waktu menyetir?! Cowokku terluka!"

Jack juga ikutan melabrak Namking, tapi Pong malah mesam-mesem sendiri menatap Namking. Merasa bersalah, Namking pun meminta maaf. Dia yang salah karena terburu-buru saat lampu menyala hijau tadi.


Tapi Jeud dengan polosnya menggumam bingung, perasaan yang salah Pong deh, dia yang menerobos lampu merah.

Mendengar itu, Namking langsung balas melabrak Pong. "Aku tidak melakukan kesalahan. Kaulah yang menerobos lampu merah dan menabrak mobilku. Jadi?"


"Tapi mobilmu lebih besar, jadi ini salahmu." Balas Jack

"Bagaimana bisa begitu?"

"Kau yang menabrak P'Pong!"

"Apa kalian semua mabuk?!"

"Endus bau mulutku nih, apa bau alkohol?"

"Ih, menjijikkan!" Namking langsung beralih menuntut pertanggungjawaban Pong, tapi dia cuma diam saja.


Beberapa saat kemudian, Namking berdiri di tepi jalan sambil menelepon seseorang, sementara Pong cs menunggu di belakangnya. Walaupun dia sendiri terluka, tapi Pong lebih mencemaskan keadaan Jeud, apa dia sudah baikan sekarang?

"Kurasa Jued sudah baikan berkat dibonceng di motornya On." Goda Jack.


Jued sontak malu. Tapi On malah nyinyir mengkritiki Jeud dan membanding-bandingkannya dengan Pong. "Berhentilah bersikap seolah kau terluka parah. Lihatlah P'Pong. Dia ditabrak, bahkan sampai terpelanting. Tapi dia masih kelihatan baik-baik saja."

Aww, Jeud sedih mendengarnya. On tanya apa sebenarnya yang sedang mereka tunggu. Pong berkata kalau Namking sepertinya sedang menelepon perusahaan asuransi.


Sebuah mobil tiba di sana tak lama kemudian. Tapi alih-alih wakil perusahaan asuransi, yang datang ternyata teman-temannya Namking.

Dua orang wanita, tapi yang satunya tomboy. Apalagi kedua wanita itu langsung memeluk Namking dan si tomboy tampak mesra banget pada Namking.

Pong salah paham dan kesal melihat pemandangan itu. "Hei! Kau membuat kami menunggu selama ini hanya supaya kami melihatmu mesra dengan kekasihmu?"

"Dia temanku, bukan kekasihku."


Kedua teman Namking langsung menginterogasi Pong. Apa dia punya SIM? (Punya). Apa dia mabuk? (Tidak).

"Kalau aku menelepon polisi untuk mengetesmu, kau tidak akan keberatan, kan?" Tanya si tomboy

"Tidak usah repot-repot menelepon polisi, lebih baik panggil saja perusahaan asuransi. Kalian buang-buang waktuku."

On setuju. Tapi Namking tidak mau, dia tidak bisa. Pong sinis, kenapa? Apa dia tidak punya SIM?

"Aku punya, tapi aku tidak mau keluargaku tahu kalau aku terlibat dalam kecelakaan."


"Oh, jadi kau gadis kaya manja yang menyelinap keluar rumah dengan membawa mobil keluargamu? Kau pasti baru mengemudi, makanya kau ceroboh." Nyinyir On

Jadilah dia ribut sendiri dengan temannya Namking dan saling menyalahkan satu sama lain. Saat si tomboy mengancam akan menyelesaikan masalah ini dengan memanggil polisi, Jack berusaha bicara baik-baik agar mereka menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkan polisi.


Namking setuju. Dia juga tidak mau berurusan dengan polisi. Kalau ayahnya sampai mengetahuinya, bisa-bisa masalah ini akan tambah runyam. Dia punya ide, dia akan mencari bengkel untuk memperbaiki mobilnya dan Pong lah yang harus membayarnya.

Bersambung ke part 2

Sinopsis Thai Drama lainnya bisa dibaca di page Thai Drama
 

4 comments

Lnjut truz mbk....!!!! Di tnggu next slnjutnya

Lanjut terus y kk...jgn gantung di 5engah jalan y cerita y

Yaampu thanat,😍 apalagi maen sm mook, waw.. yg memory lnjutin dulu ya mbk, kan uda hmpir tmat mbk, mkasih😊

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon